KULTUM MILENNIAL
Kultum Milenial : Siapa Kita di Bulan Ramadan
Apabila kita mensyukuri nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita, maka Allah telah menegaskan
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Aldi Ponge
Oleh Afandi, Mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo
TRIBUNGORONTALO.COM - Apabila kita mensyukuri nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita, maka Allah telah menegaskan di dalam firman-Nya bahwa Dia akan menambah nikmat tersebut.
Namun sebaliknya, apabila kita kufur terhadap nikmat yang telah Allah berikan, maka ketahuilah bahwa azab Allah itu sangatlah pedih.
Dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, kita dapat mengambil ibrah dan pelajaran yang sangat besar.
Bahwa setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita nikmat sehat, nikmat melihat, nikmat berjalan, nikmat bernapas, dan seluruh nikmat lainnya apabila tidak kita syukuri, maka itu termasuk bentuk kekufuran terhadap nikmat Allah.
Dan ketika seseorang kufur terhadap nikmat Allah, maka di situlah terdapat azab yang Allah timpakan akibat perilakunya yang tidak mensyukuri karunia-Nya.
Saat ini kita berada di bulan Ramadan, bulan yang suci, bulan yang penuh rahmat, dan bulan yang penuh maghfirah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah nikmat yang sangat besar yang Allah berikan kepada kita.
Maka sudah sepantasnya dan seharusnya kita menggunakan momen Ramadan ini dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan menjalankan seluruh perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjauhi seluruh larangan-Nya, serta memperbanyak amalan-amalan sunnah sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Perumpamaan Ramadan itu seperti seorang yang sangat kaya raya dan dermawan. Orang kaya ini datang ke sebuah kampung yang penduduknya hidup dalam keadaan serba kekurangan, miskin, bahkan semiskin-miskinnya.
Kedatangan orang kaya dan dermawan tersebut adalah untuk berbuat kebaikan, untuk berbagi, dan untuk memberi keberkahan.
Kemudian orang kaya ini mengumumkan kepada seluruh penduduk kampung, “Barang siapa yang datang ke lapangan, maka ia akan mendapatkan sepuluh kilogram emas dan sepuluh triliun uang tunai.”
Maka dapat kita bayangkan, seluruh penduduk kampung itu pasti akan berbondong-bondong datang ke lapangan, karena apa yang dijanjikan itu nyata dan benar-benar diberikan.
Setiap orang yang datang akan menerima sepuluh kilogram emas dan sepuluh triliun uang tunai, diberikan secara cuma-cuma tanpa syarat.
Dan kita bisa memastikan, orang yang tidak datang ke lapangan tersebut pasti akan merugi dengan kerugian yang sangat besar. Kenapa? Karena tidak ada alasan untuk tidak datang, sebab yang memberi adalah orang yang benar-benar kaya, dermawan, dan memberi dalam jumlah yang luar biasa.
Nah, begitulah perumpamaan bulan Ramadan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadirkan Ramadan kepada kita agar kita mau mengambil keuntungan sebesar-besarnya di dalamnya.
Dan orang yang tidak memanfaatkan Ramadan, maka dia akan merugi.
Bahkan kerugiannya jauh lebih besar dibandingkan orang yang tidak datang ke lapangan tadi. Karena kerugian Ramadan bukanlah kerugian dunia, melainkan kerugian akhirat.
Jangan sampai kita hidup di bulan suci Ramadan ini, namun kita tidak mengambil kesempatan yang sangat besar ini.
Kesempatan untuk kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kesempatan untuk meminta ampunan-Nya, memperbanyak zikir, mengharap rahmat dan rida-Nya.
Karena apabila kita menyia-nyiakan Ramadan, maka penyesalan yang akan kita rasakan kelak adalah penyesalan yang sangat dalam dan tidak ada gunanya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban, diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar.
Ketika beliau naik ke mimbar, beliau mengucapkan, “Amin, amin, amin,” sebanyak tiga kali.
Para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi ketika engkau naik ke atas mimbar, engkau mengucapkan amin tiga kali.
Apa sebabnya? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang kepadaku Malaikat Jibril ‘alaihis salam.”
Kemudian Malaikat Jibril berkata, “Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadan, namun ia tidak mendapatkan ampunan dari Allah. Kemudian ia meninggal dunia, lalu dimasukkan ke dalam neraka, dan dijauhkan dari rahmat Allah.” Maka Rasulullah pun mengucapkan, “Amin.”
Kerugian terbesar yang dapat kita alami adalah ketika kita bertemu dengan bulan Ramadan, namun tidak mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kerugian ini adalah kerugian yang sangat besar, kerugian yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kita baru akan menyadarinya kelak, ketika kita telah berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau ketika kita telah berada di akhirat.
Dan ketika penyesalan itu datang, maka penyesalan tersebut sudah tidak ada gunanya lagi.
Di bulan Ramadan ini, kita ingin menjadi siapa? Apakah kita ingin menjadi orang yang mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, atau menjadi orang yang merugi dengan kerugian yang tiada bandingannya? Pada kesempatan Ramadan kali ini, mari kita kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mari kita perbanyak istighfar, kita bertaubat atas seluruh dosa-dosa yang telah kita lakukan. Mari kita jaga shalat lima waktu, kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, kita biasakan berjamaah.
Di mana pun kita berada, lisan kita berzikir, hati kita berzikir, dan seluruh aktivitas kita diniatkan karena Allah.
InsyaAllah, dengan demikian kita akan melewati bulan Ramadan dalam keadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada kita, dan Allah akan memberikan ampunan-Nya kepada kita. (*/Jefri)
KULTUM MILENNIAL
| Kultum Milennial oleh Mohamad Zaenal Usman: Ramadhan Sebagai Bulan Intropeksi Diri |
|
|---|
| Kultum Millenial oleh Reyhan Mantau : Berbuat Baik di Bulan Ramadan dan Menjauhi Larangan-Nya |
|
|---|
| Kultum Milennial Gorontalo oleh Ananda Saliko: Konten Berseliweran Kontemplasi Ketinggalan |
|
|---|
| Memaksimalkan Ibadah Ramadan, Kurangi Scrolling Media Sosial |
|
|---|
| Ramadan Bulan Al-Qur’an, Mahasiswa IAIN Gorontalo Ajak Perbanyak Tilawah |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.