KULTUM MILENNIAL
Kultum Milennial oleh Mohamad Zaenal Usman: Ramadhan Sebagai Bulan Intropeksi Diri
Ramadan adalah bulan istimewa. Ia bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus, tetapi momentum untuk merefleksikan diri, membersihkan hati
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/EPISODE-9-Tema-Ramadhan-sebagai-Bulan-intropeksi-diri-Bersama.jpg)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ramadan adalah bulan istimewa. Ia bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus, tetapi momentum untuk merefleksikan diri, membersihkan hati, dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Baca juga: Kultum Millenial oleh Reyhan Mantau : Berbuat Baik di Bulan Ramadan dan Menjauhi Larangan-Nya
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)...”
Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya muhasabah, introspeksi diri. Ramadan hadir sebagai ruang evaluasi: sudah sejauh mana kualitas salat kita, seberapa sering kita membaca Al-Qur’an, bagaimana hubungan kita dengan orang tua, keluarga, tetangga, dan sesama.
Jangan sampai hidup kita hanya berorientasi pada dunia, sementara akhirat terlupakan. Ramadan mengingatkan bahwa setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban.
Jamaah sekalian,
Puasa juga melatih kita membersihkan hati dari sifat-sifat tercela: iri, dengki, sombong, dan amarah. Inti puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan lisan, menjaga sikap, dan mengendalikan emosi.
Rasulullah SAW mengajarkan, apabila seseorang yang berpuasa dicaci atau diajak bertengkar, maka hendaklah ia berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Artinya, puasa adalah latihan pengendalian diri. Kita belajar bersabar, belajar memaafkan, dan belajar tenang dalam menghadapi ujian.
Nilai-nilai inilah yang seharusnya terus kita bawa, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga setelahnya.
Hadirin yang berbahagia,
Baca juga: Warteg Gratis Alfamart 2026 Hadir di 34 Kota Termasuk Gorontalo, Bagikan 60.000 Paket Berbuka Puasa
Keutamaan Ramadan sangat besar. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Kesempatan ini seharusnya mendorong kita untuk memperbanyak salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang mendirikan salat malam di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Maka jangan sia-siakan Ramadan. Bisa jadi ini Ramadan terakhir bagi kita. Jadikan bulan suci ini sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bertakwa.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.