Konflik Iran Vs AS
Eskalasi Konflik Iran-AS di Timur Tengah, 12 Jemaah Umrah Gorontalo Pulang dari Tanah Suci Besok
Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas pasca-eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang meletus sejak akhir pekan lalu.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mansur-Basir-menyebut-kondisi-para-jamaah-Gorontalo.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kemenag Gorontalo memastikan 12 jemaah umroh asal Gorontalo dalam keadaan aman dan dijadwalkan tiba di Indonesia (Bandara Soekarno-Hatta) besok
- Penerbangan Langsung Aman: Meskipun konflik Iran-AS menutup sejumlah jalur udara, penerbangan langsung (direct flight) dari Jeddah ke Jakarta dipastikan beroperasi normal
- Secara nasional, lebih dari 58 ribu jemaah umroh Indonesia tertahan di Arab Saudi akibat penutupan ruang udara, dan pemerintah tengah menyiapkan skema evakuasi serta koordinasi intensif
TRIBUNGORONTALO.COM – Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas pasca-eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang meletus sejak akhir pekan lalu.
Dampak dari ketegangan militer ini terasa hingga ke sektor penerbangan sipil, di mana sejumlah jalur udara internasional terpaksa ditutup demi alasan keamanan.
Kondisi ini sempat menimbulkan kekhawatiran serius bagi ribuan jemaah umroh asal Indonesia yang saat ini masih berada di Arab Saudi.
Namun, kabar melegakan datang bagi keluarga jemaah umroh asal Provinsi Gorontalo.
Sebanyak 12 orang jemaah dipastikan akan tiba di Tanah Air besok melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, Mansur Basir, memberikan jaminan penuh mengenai kondisi warganya.
Ia menegaskan bahwa seluruh jemaah asal Gorontalo yang saat ini berada di Tanah Suci dalam keadaan aman dan sehat.
Mansur mengakui memang ada sejumlah warga Gorontalo yang sedang melaksanakan ibadah umrah di tengah situasi yang kurang kondusif tersebut.
"Memang benar ada beberapa jamaah kita yang sedang melaksanakan ibadah umrah saat konflik ini memanas," ujar Mansur saat dikonfirmasi TribunGorontalo.com, Senin (2/3/2026).
Meskipun wilayah udara di beberapa negara Timur Tengah ditutup, Mansur memastikan hal tersebut tidak berdampak langsung pada seluruh jadwal penerbangan.
"Tadi pagi saya sempat bincang-bincang melalui sambungan telepon dengan salah satu perwakilan jamaah," lanjutnya.
"Mereka melaporkan situasi di Makkah tetap kondusif dan aman untuk melaksanakan ibadah di Masjidil Haram," bebernya lebih lanjut.
Terkait dampak konflik terhadap penerbangan, Mansur menjelaskan bahwa pembatasan hanya berlaku pada rute-rute tertentu yang melintasi zona berbahaya.
Baca juga: Pemkab Gorontalo Siapkan Rp54 Miliar untuk THR dan Gaji ke-14 ASN
Menurut informasi yang diterimanya dari pihak maskapai, penerbangan yang transit di negara-negara konflik memang mengalami penundaan atau pembatalan.
Namun, untuk penerbangan langsung (direct flight) dari Jeddah ke Jakarta tidak mengalami kendala yang berarti.
"Jalur penerbangan dari Jeddah ke Jakarta masih relatif aman dan beroperasi normal," tegas Mansur.
Di sisi lain, ada pula calon jemaah asal Gorontalo yang sebenarnya dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat.
Namun, menyikapi situasi geopolitik saat ini, keberangkatan tersebut kini menjadi bahan pertimbangan serius.
Kemenag Gorontalo terus berkoordinasi dengan agen perjalanan untuk memantau situasi secara real-time.
Calon jemaah diimbau untuk bersabar dan tidak memaksakan keberangkatan demi keselamatan bersama.
Mereka masih menunggu perkembangan dan informasi resmi dari otoritas Arab Saudi sebelum keberangkatan dipastikan kembali.
Kabar menggembirakan akhirnya datang khusus untuk jadwal kepulangan 12 jemaah tersebut.
Mansur memastikan dalam waktu dekat akan ada gelombang pertama jemaah yang kembali ke Tanah Air.
"Besok akan ada jamaah tiba dari Saudi sebanyak 12 orang," jelasnya dengan nada lega.
Kepulangan ini menjadi kabar positif di tengah kekhawatiran masyarakat akibat terganggunya sejumlah jalur penerbangan internasional.
Pihak keluarga diminta tetap tenang dan menunggu kedatangan jemaah di bandara tujuan sesuai jadwal baru.
Diberitakan sebelumnya secara nasional, sebanyak 58.000 jemaah umrah asal Indonesia kini tertahan di Arab Saudi.
Situasi ini terjadi setelah perang Iran Vs Amerika meletus sejak Sabtu (28/2/2026) lalu.
"58 ribu lebih jamaah kita saat ini masih tertahan di berbagai hotel di Arab Saudi," kata Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umroh dikutip dari Youtube Kompas TV, Senin (2/3/2026).
Perang menyebabkan sejumlah koridor udara internasional ditutup total.
Jalur udara yang mengkhawatirkan membuat banyak maskapai penerbangan internasional membatalkan penerbangan demi keselamatan penumpang.
Untuk membantu para jemaah yang tertahan di Arab Saudi karena terdampak perang, Ichsan mengatakan pihaknya sedang berupaya maksimal agar para jemaah ini bisa pulang.
"Berkaitan dengan skema evakuasi, kita akan lakukan koordinasi intensif dengan PPU selaku penanggung jawab pemberangkatan dan pemulangan jamaah," katanya.
"Kami juga berkoordinasi erat dengan otoritas penerbangan sipil internasional," imbuhnya.
Hal ini krusial karena berkaitan dengan penutupan ruang udara di berbagai negara transit.
Pihaknya masih menyiapkan berbagai opsi sesuai situasi di lapangan dengan menitikberatkan pada faktor keselamatan para jemaah.
Opsi tersebut meliputi pengalihan rute penerbangan, penjadwalan ulang kepulangan, hingga kemungkinan langkah evakuasi khusus.
Termasuk berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Arab Saudi terkait perpanjangan akomodasi jika para jemaah Indonesia tertahan cukup lama.
"Untuk pengawasan, kami telah membentuk tiga tim yang ditempatkan di Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal Haji di Jeddah," paparnya.
"Tim tersebut bertugas berkoordinasi dan memantau kondisi jamaah kita yang berada di tanah suci," ungkapnya.
Sementara itu, Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, meminta pemerintah menyiapkan skema pemulangan yang jelas dan taktis.
"Negara harus memastikan adanya skema pemulangan yang jelas, terukur, dan memiliki kepastian waktu," kata Selly Andriany Gantina dalam keterangan di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
Konflik di Timur Tengah membuat jemaah umrah asal Indonesia berada dalam posisi rentan.
DPR pun meminta langkah konkret dan sistematis untuk memastikan seluruh jemaah pulang dengan aman. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.