PEMPROV GORONTALO
Atasi Kemacetan Simpang Lima Telaga, Pemprov Gorontalo Mulai Studi Kelayakan Pembangunan Flyover
Pemerintah Provinsi Gorontalo memikirkan kebijakan baru untuk mengurai kemacetan kronis di kawasan vital Simpang Lima Telaga
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kepadatan-kendaraan-di-Simpang-Lima-Telaga-Kota-Gorontalo.jpg)
Ringkasan Berita:
- Pemprov Gorontalo memulai Feasibility Study pembangunan jembatan layang (flyover) di Simpang Lima Telaga sebagai solusi permanen mengatasi kemacetan kronis
- Langkah ini diambil karena rekayasa lalu lintas seperti traffic light, perluasan bundaran, dan pembatas jalan terbukti tidak efektif mengurai kepadatan kendaraan yang melebihi 75 persen
- Rencana pembangunan mendapat respons positif dari masyarakat dan pengemudi bentor, mengingat kondisi saat ini sudah sangat mengganggu mobilitas ekonomi
TRIBUNGORONTALO.COM – Pemerintah Provinsi Gorontalo memikirkan kebijakan baru untuk mengurai kemacetan kronis di kawasan vital Simpang Lima Telaga, Kota Gorontalo.
Pemprov Gorontalo mulai memasuki tahap awal perencanaan, yakni melakukan Feasibility Study atau studi kelayakan pembangunan jembatan layang (flyover).
Langkah ini diambil setelah berbagai upaya rekayasa lalu lintas konvensional yang diterapkan selama ini dinilai tidak lagi efektif.
Kemacetan di lokasi tersebut sudah berada pada level yang mengganggu mobilitas ekonomi masyarakat.
Pemerintah sadar bahwa solusi jangka panjang mutlak diperlukan.
Kepala Dinas PUPR-PRKP Provinsi Gorontalo, Aries Ardianto, mengungkapkan bahwa fokus pemerintah tahun ini adalah melakukan kajian menyeluruh.
Kajian ini penting sebelum melangkah ke tahap pembangunan fisik jembatan layang.
"Jadi dilakukan analisis kemudian dikaji apakah layak tidak hal itu dilakukan," ujar Aries saat ditemui TribunGorontalo.com, Jumat (27/2/2026).
Pihaknya ingin memastikan bahwa proyek ini benar-benar menjadi solusi yang tepat.
Dorongan untuk membangun Flyover ini muncul bukan tanpa alasan yang kuat.
Faktor teknis dan volume kendaraan menjadi dasar utama pertimbangan pemerintah.
Baca juga: Warga Talaga Jaya Sumringah Sambut Pasar Murah di Desa Luwoo Gorontalo: Terima Kasih Pak Bupati
Kegagalan Skema Konvensional
Sejumlah faktor teknis telah dibahas bersama Dinas Perhubungan Provinsi Gorontalo.
Pihak Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kementerian Perhubungan Kelas II Gorontalo juga dilibatkan dalam diskusi ini.
Berbagai simulasi dan skema rekayasa lalu lintas ternyata sudah pernah dicoba di simpang tersebut. Namun, semua upaya tersebut belum menemukan solusi yang benar-benar efektif mengurai kemacetan.
Terkait pengaturan lampu lalu lintas, Aries menegaskan skema traffic light tidak bisa diterapkan optimal.
"Jika dibuatkan skema traffic light di simpang lima tidak bisa dan tidak akan ketemu," katanya.
Hasil pembahasan menunjukkan tidak pernah ditemukan pola pengaturan lampu yang benar-benar efektif.
"Tidak pernah ketemu (skema traffic light) yang paling efektif," tegas Aries.
Kompleksitas Lalu Lintas
Permasalahan utama muncul karena posisi simpang yang mempertemukan lima arus lalu lintas.
Ketika satu sisi jalan diberikan lampu hijau, sisi lainnya justru terdampak kemacetan parah.
Formula pengaturan waktu dinilai sulit ditemukan, terutama untuk mengurai kepadatan di jam-jam sibuk.
Opsi pembesaran bundaran Simpang Lima juga pernah dikaji secara mendalam.
Namun, hasil simulasi menunjukkan langkah tersebut belum tentu menyelesaikan persoalan secara fundamental.
"Setelah disimulasi walaupun belum dibuatkan fisik bundaran diperbesar, tidak dapat juga," ungkap Aries.
Skema lain berupa pemasangan barier atau pembatas jalan memanjang pernah menjadi alternatif.
Hasilnya tetap sama, belum mampu mengurai kemacetan secara signifikan di lapangan.
Aries menjelaskan, kompleksitas Simpang Lima Telaga menjadi tantangan teknis tersendiri.
Ancaman terhadap Infrastruktur
Di area Telaga Park, terdapat sejumlah simpang tiga dengan jarak yang hanya beberapa puluh meter. Kondisi ini menyebabkan pergerakan kendaraan saling mempengaruhi dan menumpuk di pusat simpang.
"Kalau dibiarkan begitu saja, sampai kapan?," kata Aries retoris.
Selain persoalan kemacetan, dampak terhadap struktur jembatan di kawasan tersebut juga sangat dikhawatirkan. Antrean kendaraan dengan beban tonase tinggi yang berlangsung lama berpotensi memengaruhi kualitas jembatan.
"Jembatan itu prinsipnya bukan didesain untuk beban tetap yang lama," jelasnya.
Meski jembatan dirancang untuk menahan beban kejut, kondisi beban statis dalam waktu lama bukanlah peruntukannya.
"Memang beban kejut ada, tapi bukan yang lama," sambungnya.
Baca juga: Nama-nama 23 Kepala Puskesmas Dilantik Bupati Gorontalo per 27 Februari 2026
Langkah Menuju Flyover
Studi Kelayakan menjadi pijakan awal sebelum keputusan pembangunan Flyover benar-benar diambil.
"Walaupun secara kasat mata sudah layak dibuat," ujar Aries.
Aspek ukuran, model, hingga kebutuhan teknis lainnya harus ditentukan berdasarkan hasil kajian ilmiah.
Secara umum, Flyover yang direncanakan akan berbentuk jembatan layang melintasi simpang.
Desain finalnya belum ditetapkan hingga kajian selesai dilaksanakan. Setelah studi kelayakan rampung, akan dibuat beberapa model desain untuk dipilih yang paling sesuai.
Aries menyebut program ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail.
"Beliau berharap lebih cepat lebih bagus," pungkas Aries.
Tanggapan Warga dan Pengemudi Bentor
Rencana pembangunan Flyover ini mulai mendapat beragam respons positif dari masyarakat. Para pengemudi bentor yang setiap hari merasakan kepadatan lalu lintas di Jembatan Telaga merasa terbantu.
Dua di antaranya adalah Sofyan Harun dan Karam Masalata, warga Desa Hulawa. Sebagai pengemudi bentor yang mangkal di Jembatan Telaga, mereka sangat memahami dinamika arus lalu lintas.
Awalnya mereka bingung dengan model flyover, namun setelah dijelaskan, mereka setuju.
"Kalau untuk mengurangi kemacetan saya setuju," ujar Sofyan.
Kepadatan lalu lintas paling sering terjadi pada sore hari saat jam pulang kantor. Arus kendaraan dari Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo bertemu di jembatan tersebut.
"Macet saat pulang kantor, dan bisa sampai di pertigaan sana," ujarnya.
Pengemudi bentor menilai kemacetan bukan disebabkan kendaraan besar, melainkan volume kendaraan.
"Ini jembatan utama, kalaupun ada jalan lain, orang malas mutar," kata Karam Masalata.
Flyover dinilai bisa mengatasi masalah tanpa harus membuat pengendara mencari alternatif lain yang jauh. Kepadatan di Simpang Lima Telaga baru sangat terasa belakangan, seiring bertambahnya jumlah kendaraan.
“Lebar dan panjang jalan sama, sementara tiap hari kendaraan bertambah," pungkasnya.
Pantauan lapangan menunjukkan pergerakan kendaraan dari Telaga Park menuju Simpang Lima sangat lambat. Pergerakan kendaraan roda empat yang dominan membuat arus lalu lintas tersendat.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, menjelaskan bahwa studi kelayakan telah dimasukkan dalam APBD 2026.
"Yang jelas data awalnya mendukung untuk itu,” ujar Gusnar Ismail.
Laporan terakhir menunjukkan tingkat kepadatan di kawasan itu sudah di atas 75 persen.
"Itu merupakan indikator bahwa tidak lama lagi akan terjadi macet total," jelasnya.
Pembahasan teknis sudah dilakukan dengan Kementerian PU.
"Mudah-mudahan bisa didukung terus dan ini menjadi sebuah kenyataan," pungkasnya. (*)
| Refleksi 1 Tahun Kepemimpinan Gusnar-Idah: Pemprov Gorontalo Serahkan Bantuan Komunitas Bentor |
|
|---|
| Sederet Capaian Satu Tahun Gusnar Ismail - Idah Syahidah Pimpin Provinsi Gorontalo |
|
|---|
| Sinergi BI dan Pemprov Gorontalo, 288 Pelaku Usaha Ramaikan Bazar Ramadan 2026 |
|
|---|
| Bertahun-Tahun jadi Wacana, Embarkasi Haji Penuh Gorontalo Masuk Tahap Pembangunan Anggaran Rp40 M |
|
|---|
| Pemprov Gorontalo Siap Bayar THR ASN, Cek Perkiraan Besaran dan Jadwal Pencairan |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.