Kultum Milenial
VIDEO Kultum Milennial Gorontalo: Belajar Jujur Melalui Momentum Puasa oleh Alfikar Ding
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat-Nya, karena atas rahmat,
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat-Nya, karena atas rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, kita masih diberikan nikmat iman, nikmat kesehatan, serta nikmat kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan yang penuh rahmat, penuh ampunan, dan penuh kasih sayang, yaitu bulan suci Ramadan.
Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, suri teladan terbaik sepanjang zaman, yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi menegakkan kalimat tauhid, la ilaha illallah, di muka bumi ini.
Sahabat Ramadan yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Alhamdulillah, hari-hari awal Ramadan ini menjadi momen yang sangat berharga bagi kita semua untuk merenung dan memperbaiki diri.
Pada kesempatan kali ini, tema kultum yang akan kita bahas adalah “Belajar Jujur Melalui Momentum Puasa.”
Salah satu hikmah besar dari ibadah puasa di bulan Ramadan adalah melatih kejujuran.
Pertanyaannya, siapa yang benar-benar tahu bahwa seseorang sedang berpuasa dengan sungguh-sungguh?
Siapa yang bisa memastikan bahwa seseorang tidak hanya berpura-pura berpuasa di hadapan manusia?
Bisa saja seseorang terlihat berpuasa di pagi hari, namun diam-diam membatalkannya di siang hari, lalu tetap mengaku berpuasa ketika malam tiba.
Tidak ada yang tahu, kecuali dirinya sendiri dan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah keistimewaan ibadah puasa.
Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bahwa Allah berfirman:
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat istimewa. Pahalanya tidak dibatasi, karena Allah sendiri yang langsung menilai dan membalasnya.
Berbeda dengan ibadah-ibadah lain.
Salat, misalnya, akan diketahui orang lain ketika kita berangkat ke masjid.
Zakat akan diketahui setidaknya oleh orang yang menerimanya.
Begitu pula haji dan umrah, satu orang berangkat, tapi satu kampung ikut mengetahui, mengantar, dan mendoakan.
Namun puasa berbeda. Puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh diri kita sendiri dan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah janji kejujuran antara hamba dengan Tuhannya.
Ujian Kejujuran
Sahabat Ramadan yang dirahmati Allah,
Bayangkan saat matahari terik menyengat, tubuh mulai lelah, tenggorokan kering, dan di hadapan kita tersedia minuman yang sangat segar.
Tidak ada orang yang melihat. Tidak ada yang menegur.
Namun kita memilih menahan diri, karena kita yakin dan sadar bahwa Allah Maha Melihat.
Di situlah ujian kejujuran benar-benar dimulai.
Nilai kejujuran inilah yang seharusnya kita jaga dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Betapa indahnya jika umat Islam di negeri ini menjadikan kejujuran sebagai karakter utama.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, dalam hadis riwayat Bukhari:
“Hendaklah kalian berkata jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan menuntun ke surga.”
Orang yang senantiasa jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang shiddiq, orang yang dapat dipercaya dan amanah.
Sebaliknya, dusta hanya akan membawa kepada keburukan, dan keburukan akan menuntun ke neraka.
Karena itu, berbohong adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sahabat Ramadan,
Negeri ini sangat membutuhkan orang-orang yang jujur.
Tak heran jika muncul slogan yang digaungkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, yaitu “Jujur itu Hebat.”
Slogan ini menunjukkan bahwa kejujuran hari ini menjadi sesuatu yang sangat mahal dan langka.
Hampir setiap waktu kita mendengar berita tentang korupsi dan berbagai perilaku tidak jujur yang merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Lalu, bagaimana cara memutus mata rantai kebohongan ini?
Jawabannya adalah dengan memulai dari diri sendiri.
Dan Ramadan adalah momentum terbaik untuk melatih kejujuran tersebut.
Bukan hanya jujur kepada manusia, tetapi yang paling utama adalah jujur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena salah satu ciri utama orang yang bertakwa adalah kejujuran.
- Betapa indahnya seorang anak yang jujur kepada orang tuanya.
- Betapa indahnya seorang siswa yang jujur kepada gurunya.
- Betapa indahnya suami dan istri yang saling jujur dalam keluarganya.
- Dan betapa indahnya jika para pemimpin dan pejabat jujur kepada rakyatnya.
Jika nilai kejujuran ini benar-benar hidup, insyaallah berbagai krisis di negeri ini akan perlahan teratasi.
Sahabat Ramadan yang dirahmati Allah,
Melalui ibadah puasa di bulan Ramadan ini, mari kita jadikan puasa bukan hanya sebagai ibadah spiritual semata, tetapi sebagai sarana membentuk pribadi yang jujur.
Kejujuran yang tidak hanya berlaku di bulan Ramadan, tetapi terus kita jaga di bulan-bulan berikutnya, sepanjang hidup kita.
Mungkin hanya itu yang dapat saya sampaikan.
Apabila terdapat kekurangan dan kesalahan kata, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Akhir kata,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
| Nassar Said Sabetan, Mahasiswa IAIN Gorontalo: Menjaga Lisan Barometer Suksesnya Ramadan |
|
|---|
| Kultum Ramadan - Sandi Sahempa Mahasiswa IAIN Gorontalo: Jangan Berlebih-lebihan saat Puasa |
|
|---|
| Kultum Milenial - Rindiani Mahasiswa IAIN Gorontalo: 2 Kebahagiaan Orang Berpuasa |
|
|---|
| Kultum Milenial - Marsya Ayu Mahasiswa IAIN Gorontalo: Tiga Tingkatan Puasa untuk Meraih Ketakwaan |
|
|---|
| Kultum Ramadan - Nassar Said Subetan Mahasiswa IAIN Gorontalo: Ramadan Mengajarkan Kita Memberi |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.