Universitas Negeri Gorontalo
UNG Kembangkan Riset Kulit Jeruk Nipis, Buka Peluang Produk Herbal dan Nutraseutikal
Kulit jeruk nipis yang kerap dibuang ternyata kaya senyawa bioaktif dan berpotensi jadi terapi alami ramah lingkungan, hasil riset UNG.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-Peneliti-menunjukkan-hasil-ekstraksi-di-laboratorium.jpg)
Di sisi lain, saponin dan tanin memiliki aktivitas antibakteri melalui mekanisme perusakan membran sel bakteri.
Sejumlah penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa ekstrak kulit jeruk nipis mampu menghambat pertumbuhan bakteri, memodulasi sistem imun, serta berpotensi mendukung terapi penyakit berbasis infeksi dan inflamasi.
Selain aspek kesehatan, penelitian ini turut menyoroti nilai keberlanjutan lingkungan.
Konsumsi jeruk nipis yang tinggi di masyarakat berdampak pada meningkatnya volume limbah kulit setiap hari.
Baca juga: Rektor UNG Apresiasi Tiga Doktor Baru, Perkuat Kapasitas Akademik dan Inovasi
Padahal, melalui pengolahan berbasis pendekatan ilmiah, limbah tersebut memiliki nilai ekonomi dan fungsi yang signifikan.
Pemanfaatannya dinilai selaras dengan pengembangan produk nutraseutikal berbasis bahan lokal yang efisien dan ramah lingkungan.
Para peneliti berharap hasil kajian ini dapat menjadi landasan awal untuk pengembangan lebih lanjut, baik dalam bentuk suplemen herbal, produk kesehatan, maupun bahan baku farmasi.
Untuk itu, diperlukan tahapan lanjutan berupa uji toksisitas dan uji klinis guna memastikan keamanan serta efektivitas sebelum diaplikasikan secara luas.
Melalui penelitian ini, jeruk nipis tidak lagi dipandang sekadar pelengkap makanan atau minuman.
Di balik kulitnya yang sering terbuang, tersimpan potensi senyawa bioaktif yang menjanjikan bagi kesehatan sekaligus membuka peluang inovasi berbasis limbah yang berkelanjutan. (***/UNG)