Universitas Negeri Gorontalo
UNG Kembangkan Riset Kulit Jeruk Nipis, Buka Peluang Produk Herbal dan Nutraseutikal
Kulit jeruk nipis yang kerap dibuang ternyata kaya senyawa bioaktif dan berpotensi jadi terapi alami ramah lingkungan, hasil riset UNG.
Ringkasan Berita:
- Penelitian UNG temukan kulit jeruk nipis mengandung enam senyawa bioaktif penting.
- Metode maserasi dinilai paling optimal mengekstraksi metabolit sekunder.
- Berpotensi dikembangkan sebagai terapi pendamping dan produk nutraseutikal ramah lingkungan.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Bagian kulit jeruk nipis yang selama ini dianggap sisa tak berguna ternyata menyimpan kandungan bernilai bagi pengembangan kesehatan.
Limbah dapur tersebut berpotensi diolah menjadi bahan terapi pendamping alami yang terjangkau sekaligus mendukung prinsip ramah lingkungan.
Baca juga: Optimistis 2026 Jadi Momentum Emas, UNG Satukan Visi Tingkatkan Prestasi Mahasiswa
Temuan itu terungkap melalui penelitian yang dilakukan Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Kajian tersebut menunjukkan bahwa kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpeluang dimanfaatkan lebih lanjut dalam bidang kesehatan.
Baca juga: FK UNG Resmi Buka Prodi Anestesiologi, Rektor: Fokus Hasilkan Dokter Spesialis Kompeten
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah J-HESTECH edisi Desember 2025.
Riset dilaksanakan oleh tim dosen lintas disiplin dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pertanian UNG dengan fokus mengidentifikasi kandungan fitokimia kulit jeruk nipis menggunakan tiga teknik ekstraksi, yakni maserasi, perendaman, dan perasan.
Baca juga: Wamen Diktisaintek Stella Christie Dorong Peneliti UNG Go Global, Soroti Tantangan dan Peluang Riset
Metode Maserasi Paling Optimal
Dari ketiga metode tersebut, maserasi dinilai paling optimal dalam menarik senyawa metabolit sekunder dari bahan.
Ekstrak maserasi tercatat mengandung enam senyawa aktif utama, yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, tanin, dan fenol.
Capaian ini lebih tinggi dibandingkan metode perendaman yang menghasilkan empat senyawa, serta metode perasan yang hanya memperoleh tiga senyawa.
Pengujian lanjutan melalui Kromatografi Lapis Tipis (KLT) semakin menguatkan hasil tersebut.
Ekstrak maserasi memperlihatkan lima bercak senyawa aktif yang menunjukkan komposisi metabolit lebih kompleks.
Kondisi ini menandakan bahwa proses maserasi memungkinkan pelarut organik menembus jaringan kulit jeruk secara lebih efektif sehingga senyawa bioaktif dapat terekstraksi secara maksimal.
Baca juga: UNG Ambil Peran Strategis dalam Sistem Kearsipan Dinamis Nasional
Potensi Kesehatan dan Nilai Keberlanjutan
Secara ilmiah, kandungan senyawa tersebut memiliki kontribusi penting terhadap kesehatan.
Flavonoid dan fenol dikenal berperan sebagai antioksidan serta antiinflamasi yang membantu melawan radikal bebas dan mengurangi peradangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-Peneliti-menunjukkan-hasil-ekstraksi-di-laboratorium.jpg)