Ramadan 2026
Kisah Dr Umarulfaruq asal Boalemo Gorontalo, Jadi Pendakwah di Jawa, Kenang Tradisi Tumbilotohe
Kisah Dr Umarulfaruq Abubakar, Ketua Majelis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten,pendakwah asal Desa Hungayonaa
Tujuh tahun berselang, ia benar-benar berangkat ke Mesir pada 2003. Pertemuan kembali dengan sang guru menjadi momen haru sekaligus awal ujian perantauan.
Pesan ayahnya sebelum berangkat selalu ia ingat, agar tidak menangis supaya tidak meninggalkan kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Tujuh Lebaran Tanpa Pelukan
Hidup di Mesir bukan perkara mudah. Selama tujuh kali Idulfitri, ia tidak dapat pulang. Komunikasi dengan keluarga masih melalui surat yang balasannya bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Untuk mencukupi kebutuhan, ia bekerja sambil belajar. Ia menjadi petugas kebersihan, membantu pekerjaan di masjid, serta menerjemahkan buku. Semua dilakukan agar tetap dapat bertahan dan melanjutkan studi
“Pengalaman itu membentuk pikiran dan perasaan,” ujarnya.
Ujian terberat datang pada 2005. Dua tahun setelah keberangkatannya, sang ayah wafat. Ia masih mengingat pesan terakhir yang diterimanya, “Selamat belajar, Nak.” Keesokan harinya, kabar duka itu datang. Ia ingin pulang, tetapi terkendala visa dan biaya.
Sejak saat itu, Ramadhan, rindu, dan kehilangan menjadi bagian dari proses pendewasaannya.
Menjaga Sanad dan Menghafal Kalam Ilahi
Bagi Umar, belajar di Mesir bukan sekadar meraih gelar akademik. Ia memanfaatkan kesempatan untuk menuntaskan hafalan Al-Qur’an dan menempuh sanad qiraat.
Menurutnya, Mesir adalah salah satu pusat keilmuan Al-Qur’an dengan jaringan sanad yang kuat. Proses itu kemudian ia lanjutkan di Indonesia bersama Syekh Abdul Hamid Isa Qurqur Al-Mishri.
Menghafal Al-Qur’an, menurutnya, adalah jalan menuju kebahagiaan batin. Ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan sarana pembersihan jiwa.
Cinta dan Kepulangan
Pada 2011, ia kembali ke Indonesia. Namun, langkahnya tidak langsung menuju Gorontalo. Ia bertolak ke Banjarmasin untuk melamar perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pada 4 Syawal 2011, keduanya resmi menikah.
Kini, di tengah kesibukan sebagai pengajar dan pimpinan lembaga, ia berusaha menyediakan waktu untuk keluarga. Selepas salat Isya, ia memilih berada di rumah, menyimpan telepon genggam, dan bercengkerama dengan anak-anaknya.
Menulis sebagai Warisan
Selain berdakwah, Umar juga menulis. Setidaknya 18 buku telah ia terbitkan. Menulis, baginya, adalah cara merawat gagasan agar tetap hidup.
“Menulis itu bekerja untuk keabadian,” katanya.
Ia ingin ilmu yang dituliskan dapat menjadi warisan manfaat ketika dirinya kelak tiada.
Merawat Batin di Tengah Distraksi
Ramadan 2026
Boalemo
Gorontalo
Tumbilotohe
Jawa Tengah
Ramadan 1447 H
Ramadhan
Desa Hungayonaa
Kecamatan tilamuta
Provinsi Gorontalo
| Hikmah Ramadan: Kekuatan Basmalah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar |
|
|---|
| Hikmah Ramadan: Kekuatan Salat Lail Ramadan |
|
|---|
| Wajib Tahu! Ini 5 Golongan yang Boleh Tidak Puasa Ramadhan, Cek Cara Ganti Qadha dan Fidyah |
|
|---|
| Hikmah Ramadan: Keutamaan Shalawat |
|
|---|
| Pasar Senggol Gorontalo Mulai Ramai, Gorden dan Taplak Jadi Buruan Jelang Lebaran |
|
|---|