Perempuan Inspiratif Gorontalo
Sosok Mega Mokoginta, Penulis dan Aktivis Muda Gorontalo Jadi Simbol Advokasi Perempuan
Di tengah arus perubahan zaman yang kian dinamis, muncul seorang srikandi muda dari tanah Gorontalo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-foto-Mega-Mokoginta.jpg)
Ia kemudian memperluas jangkauan geraknya dengan bergabung dalam Women Institute for Research and Empowerment of Gorontalo (WIRE-G). Lembaga non-pemerintah ini memberinya perspektif baru mengenai pentingnya data dan riset dalam advokasi perempuan.
Bersama WIRE-G, Mega terlibat aktif dalam riset-riset yang mengungkap realitas kehidupan perempuan di Gorontalo. Baginya, pemberdayaan perempuan harus didasarkan pada kebutuhan riil yang ada di lapangan, bukan sekadar teori.
Selain aktif di organisasi formal, Mega juga menunjukkan kepeduliannya pada sektor pendidikan informal.
Ia menjadi salah satu penggerak di Sekolah Kampung Kawan Alam Gorontalo, sebuah inisiatif yang sangat inspiratif.
Sekolah tersebut menawarkan ruang pendidikan alternatif yang aman dan inklusif bagi anak-anak muda setempat.
Di sana, Mega menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal sembari tetap berpikiran terbuka terhadap kemajuan zaman.
Prestasi Mega pun mulai merambah ke kancah nasional dan internasional. Namanya tercatat sebagai perwakilan Gorontalo dalam kegiatan Young Progressive Academy Batch 4 yang sangat bergengsi.
Acara tersebut diselenggarakan oleh Friedrich-Ebert-Stiftung (FES), yayasan politik tertua di Jerman. Kerja sama antara FES dan Kemenko PMK ini menjadi panggung strategis bagi Mega untuk bersuara lebih lantang.
Melalui forum tersebut, ia membawa isu perlindungan hak perempuan desa ke permukaan. Ia menekankan bahwa perempuan di pelosok seringkali mengalami kerentanan ganda yang jarang tersentuh kebijakan pusat.
Suara Mega mengenai masyarakat marjinal juga mendapat apresiasi tinggi dari para peserta dan penyelenggara. Ia menegaskan bahwa keadilan sosial harus dirasakan oleh mereka yang berada di pinggiran kekuasaan.
Gelar mentereng lainnya yang ia sandang adalah sebagai Duta Maritim Indonesia oleh ASPEKSINDO.
Peran ini ia manfaatkan untuk mengadvokasi perempuan pesisir yang menggantungkan hidup pada sumber daya laut.
Tak hanya itu, Kemenpora juga menyematkan gelar Duta Inspirasi Indonesia kepadanya. Pengakuan ini menjadi bukti bahwa kiprah Mega telah menginspirasi banyak anak muda di seluruh nusantara.
Bagi Mega, menulis adalah cara ia bernapas sekaligus senjata utama untuk melakukan advokasi.
Baginya, kata-kata yang tertulis memiliki umur yang lebih panjang daripada suara yang diteriakkan.