Perempuan Inspiratif Gorontalo
Sosok Mega Mokoginta, Penulis dan Aktivis Muda Gorontalo Jadi Simbol Advokasi Perempuan
Di tengah arus perubahan zaman yang kian dinamis, muncul seorang srikandi muda dari tanah Gorontalo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-foto-Mega-Mokoginta.jpg)
Perjalanan kepenulisannya bermula dari profesinya sebagai jurnalis di media lokal Gorontalo. Pengalaman lapangan sebagai kuli tinta mengasah kepekaannya terhadap ketidakadilan sosial.
Dari jurnalisme, ia mulai merambah ke ranah analisa gender yang lebih mendalam. Ia mengeksplorasi bagaimana konstruksi sosial membentuk beban ganda bagi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Kreativitasnya memuncak dengan lahirnya karya sajak perdana bertajuk "Bapak, Sungai." Buku ini bukan sekadar kumpulan kata indah, melainkan refleksi batin yang sangat personal.
Melalui sajak tersebut, Mega mengajak pembaca menyelami kedalaman dialog tentang perjuangan hidup.
Ia seringkali menuangkan keresahannya ke dalam larik-larik puisi yang menyentuh sisi humanisme pembaca.
Inspirasi menulisnya sering ditemukan di sela-sela waktu membaca buku di kedai kopi. Tempat-tempat sederhana tersebut menjadi laboratorium ide bagi Mega untuk merancang gerakan sosial berikutnya.
Ia juga sangat gemar bertukar sudut pandang dengan berbagai komunitas. Baginya, berdiskusi bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bentuk istirahat yang mengisi kembali energi kreatifnya.
Mega memandang hidup bukan sebagai kanvas hitam-putih yang kaku. Ia melihat dunia sebagai spektrum warna yang luas, di mana setiap orang memiliki peran untuk memberikan nilai kebermanfaatan.
Sebagai bagian dari masyarakat sipil, ia merasakan betul bagaimana struktur ketidakadilan bekerja secara sistemik. Hal inilah yang memicu semangatnya untuk terus melanjutkan mimpi-mimpinya tanpa rasa lelah.
Ia memiliki prinsip hidup yang sangat kuat, yakni menjadi manusia yang adil sejak dalam pikiran. Prinsip ini ia terapkan baik untuk dirinya sendiri, orang tua, maupun masyarakat luas di sekitarnya.
Kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, Mega sering memberikan pesan-pesan yang menggugah. Ia mengingatkan bahwa status mahasiswa adalah sebuah privilese yang membawa tanggung jawab moral besar.
Ia menegaskan bahwa masa kuliah adalah kesempatan emas untuk bereksplorasi. Mahasiswa tidak boleh terjebak dalam rutinitas akademik semata tanpa peduli pada realitas sosial di luar kampus.
Mega mengajak para pemuda untuk terus mengasah nalar kritis setiap hari. Menurutnya, pikiran yang tajam adalah modal utama untuk melawan segala bentuk penindasan dan ketimpangan.
Aktif berdiskusi adalah kunci agar generasi muda tidak buta dengan keadaan negara. Ia percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari percakapan-percakapan kecil yang konsisten.
"Berkelanalah dan buka dirimu terhadap realitas sosial," tandas Mega.
(TribunGorontalo.com/*)