Info Cuaca Gorontalo
BMKG Sebut Gorontalo Masuki Akhir Musim Hujan, Waspada Pancaroba Maret–Mei
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa wilayah Provinsi Gorontalo kini mulai memasuki fase penghujung musim hujan.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Prakirawan-Iklim-Stasiun-Klimatologi-Gorontalo-Afif-FR.jpg)
Ringkasan Berita:
- Gorontalo kini berada di penghujung musim hujan (Februari 2026) yang ditandai dengan penurunan curah hujan, minimnya pembentukan awan, dan kondisi atmosfer yang cenderung kering (fase netral)
- Meski secara umum menurun, wilayah Gorontalo bagian tengah hingga utara masih berpeluang mengalami hujan dengan intensitas di atas 50 mm karena suhu muka laut di perairan utara yang relatif hangat
- Masyarakat diimbau waspada terhadap masa peralihan (pancaroba) pada Maret–Mei
TRIBUNGORONTALO.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa wilayah Provinsi Gorontalo kini mulai memasuki fase penghujung musim hujan.
Kondisi ini ditandai dengan intensitas curah hujan yang mulai melandai dan tidak lagi terjadi setiap hari di sebagian besar wilayah.
Prakirawan Iklim Stasiun Klimatologi Gorontalo, Afif FR, menjelaskan bahwa meskipun secara umum kondisi iklim di awal tahun 2026 masih relatif stabil, masyarakat perlu memahami dinamika atmosfer yang sedang berlangsung agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang tiba-tiba.
Afif menegaskan bahwa Februari merupakan masa akhir dari musim hujan tahun ini. Berdasarkan pemantauan uap air hingga 11 Februari 2026, potensi pembentukan awan hujan di atas Gorontalo mulai minim.
Minim Uap Air:
Citra atmosfer menunjukkan dominasi warna kecoklatan, yang berarti kondisi cenderung kering.
Aktivitas MJO:
Fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) terpantau belum aktif di wilayah Indonesia, sehingga tidak ada pemicu hujan luas dalam waktu dekat.
Fase Netral:
Fenomena ENSO (El Nino–La Nina) saat ini berada pada fase netral dengan anomali suhu muka laut hanya sekitar minus 0,5.
“Hanya satu atau dua hari saja terlihat ada potensi hujan yang agak signifikan. Selebihnya relatif kering,” ungkap Afif saat ditemui di Kantor BMKG Bone Bolango, Rabu (11/2/2026).
Wilayah Utara Masih Berpotensi Hujan
Meski secara umum curah hujan menurun, BMKG memberikan catatan khusus untuk wilayah Gorontalo bagian tengah hingga utara. Suhu muka laut yang hangat di perairan utara masih mendukung pembentukan awan.
Peluang hujan diprediksi 50 persen hingga 90 persen untuk hujan di atas 50 milimeter.
Hujan diperkirakan tidak merata, dengan wilayah utara diprediksi menerima intensitas lebih tinggi dibanding wilayah lainnya.
Waspada Pancaroba Maret–Mei
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai periode Maret hingga awal Mei 2026, yang merupakan masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
Menurut Afif, musim kemarau di Gorontalo diperkirakan mulai masuk pada Juni atau Juli, dengan puncak kemarau terjadi pada Agustus hingga September.
“Masa peralihan ini yang perlu diwaspadai. Cuaca bisa berubah cepat, hujan deras bisa datang tiba-tiba disertai angin kencang,” ujarnya.
Pada masa pancaroba, potensi kejadian cuaca ekstrem seperti hujan intensitas tinggi secara singkat, angin kencang, hingga puting beliung lokal cenderung meningkat.–
Baca juga: Wagub Idah Syahidah Bicara Soal Gentengisasi: Gorontalo Tidak Bisa Disamakan dengan Jawa
Potensi La Nina Lemah di Pertengahan Tahun
Lebih lanjut, Afif menyampaikan bahwa setelah melewati masa peralihan, terdapat indikasi munculnya La Nina lemah sekitar Juni hingga Juli 2026.
“La Nina lemah diperkirakan akan berdampak pada meningkatnya curah hujan di Gorontalo,” jelasnya.
Meski demikian, kondisi atmosfer saat ini masih dalam fase netral dan belum menunjukkan gangguan signifikan.
BMKG akan terus melakukan pemantauan dan memperbarui informasi sesuai perkembangan terbaru.
BMKG mengimbau masyarakat Gorontalo untuk tetap waspada, meskipun curah hujan mulai berkurang. Kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama saat memasuki masa peralihan musim.
“Kami mengimbau masyarakat agar waspada terhadap hujan lebat yang datang tiba-tiba dan angin kencang, khususnya pada Maret hingga awal Mei,” ujar Afif.
Ia juga mengingatkan masyarakat, termasuk nelayan dan petani, untuk rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG agar dapat mengantisipasi risiko akibat perubahan cuaca.
“Cuaca sekarang cepat berubah. Informasi cuaca sangat penting untuk keselamatan dan perencanaan aktivitas,” pungkasnya.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.