Jumat, 13 Maret 2026

PEMPROV GORONTALO

Wagub Idah Syahidah Bicara Soal Gentengisasi: Gorontalo Tidak Bisa Disamakan dengan Jawa

Idah Syahidah menegaskan bahwa gagasan program nasional gentengisasi yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto tidak semata-mata di

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab

Ringkasan Berita:
  • Idah menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak menolak gagasan Presiden Prabowo, melainkan menekankan perlunya penyesuaian dengan kondisi lokal Gorontalo yang berbeda dari Jawa
  • Produksi genteng di Gorontalo terkendala bahan baku tanah liat, tenaga kerja pembuat genteng, serta kultur masyarakat yang belum terbiasa menggunakan genteng sebagai material atap
  • Idah menilai program gentengisasi bagus, tetapi pelaksanaannya harus melalui kajian mendalam agar sesuai dengan karakteristik rumah

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, menegaskan bahwa gagasan program nasional gentengisasi yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto tidak semata-mata ditolak oleh pemerintah daerah. 

Namun, menurutnya, penerapan program tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lokal di Gorontalo.

Idah menjelaskan, setiap daerah memiliki karakteristik berbeda sehingga kebijakan pembangunan tidak bisa disamaratakan.

“Kan setiap daerah berbeda, kulturnya, berbeda alamnya. Gorontalo tidak bisa disamakan dengan Jawa,” ujarnya saat diwawancarai wartawan di Kantor BI Perwakilan Gorontalo, Rabu (11/2/2026).

Menurut Idah, kondisi tanah di Gorontalo belum tentu mendukung produksi genteng seperti di Pulau Jawa. Selain itu, keterbatasan tenaga kerja juga menjadi hambatan.

“Kemudian siapa yang bakal buat genteng? Tukang di Gorontalo tidak ada yang bisa buat genteng,” katanya.

Ia menambahkan, struktur rumah masyarakat Gorontalo berbeda dengan daerah lain, sehingga material bangunan harus disesuaikan dengan kultur dan kondisi alam setempat.

Meski mengakui genteng memiliki ketahanan yang baik, Idah menekankan perlunya menyesuaikan dengan kebutuhan lokal. Idah menegaskan bahwa dirinya tidak menolak arahan Presiden.

“Mohon maaf ini Pak Prabowo, bukan saya menolak program ini, tetapi kita juga harus melihat kultur daerah masing-masing,” ucapnya.

Ia menilai faktor pendukung pelaksanaan gentengisasi di Gorontalo masih terbatas, baik dari sisi bahan baku, tenaga pembuat, maupun kebiasaan masyarakat yang belum familiar menggunakan genteng.

“Program ini bagus, tetapi tidak semua daerah bisa melaksanakan,” katanya.

Terkait rencana produksi genteng melalui Koperasi Desa Merah Putih, Idah menekankan perlunya kajian lebih dulu mengenai ketersediaan tanah liat.

“Tanahnya cocok nggak? Kita kan harus perlu tanah liat,” ujarnya.

Baca juga: Warga Gorontalo Skeptis Gentengisasi Prabowo, Idun Sahi Ungkap Testimoni 24 Tahun

GENTENGISASI PRABOWO -- Potret genteng rumah Idun Sahi. Warga Kelurahan Buladu, Kota Gorontalo ini mengungkap pengalamannya memakai genteng sejak tahun 2002 silam. (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)
GENTENGISASI PRABOWO -- Potret genteng rumah warga Kelurahan Buladu. Program Gentengisasi disoroti masyarakat (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu) (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Idah mengaku sempat menyampaikan pandangannya soal gentengisasi melalui media sosial Facebook dan mendapat beragam respons. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Jumat, 13 Maret 2026 (23 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:30
Subuh 04:40
Zhuhr 12:01
‘Ashr 15:06
Maghrib 18:04
‘Isya’ 19:12

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved