Libur Sekolah Ramadan
Libur atau Tetap Belajar di Bulan Ramadan? Ini Kata Orang Tua Murid di Gorontalo
Wacana libur sekolah selama bulan Ramadan kembali mencuat dan menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/SISWA-GORONTALO-Potret-para-siswa-duduk-bersantai-di-sebuah-gazebo.jpg)
Ringkasan Berita:
- Wacana libur sekolah selama Ramadan memunculkan beragam tanggapan dari orang tua di Gorontalo.
- Sebagian mendukung libur agar anak fokus beribadah, sementara lainnya berharap pembelajaran tetap berjalan dengan beban yang lebih ringan.
- Hingga kini, orang tua masih menunggu kepastian kebijakan teknis dari pemerintah daerah terkait pola pembelajaran selama bulan puasa.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Wacana libur sekolah selama bulan Ramadan kembali mencuat dan menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Meski pemerintah pusat telah menyampaikan pandangan terkait pembelajaran selama Ramadan, hingga kini di sejumlah daerah belum terdapat surat edaran resmi yang mengatur secara rinci teknis pelaksanaan kegiatan belajar saat puasa.
Kondisi tersebut memunculkan beragam tanggapan dari orang tua murid. Sebagian menilai anak-anak sebaiknya diliburkan agar dapat lebih fokus menjalankan ibadah puasa.
Sementara sebagian lainnya berharap pembelajaran tetap berlangsung meski dengan beban yang lebih ringan.
Baca juga: Pelajar 15 Tahun Ditilang Polantas Gorontalo, Ortu Diminta Jemput Kendaraan
Di Provinsi Gorontalo, suara orang tua mulai bermunculan, menyampaikan pandangan mereka mengenai pola pendidikan yang dinilai paling ideal bagi anak selama Ramadan.
Dian Akuba, warga Bunuo, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, yang memiliki seorang anak di bangku sekolah dasar, menilai libur sekolah saat puasa menjadi pilihan yang tepat, khususnya bagi anak usia SD.
Menurut Dian, anak-anak pada usia tersebut masih dalam tahap beradaptasi dengan kewajiban berpuasa. Jika harus mengikuti kegiatan belajar yang padat, hal itu dinilai dapat menguras tenaga dan menurunkan konsentrasi.
“Anak-anak itu kan masih belajar puasa. Kalau dari pagi sampai siang di sekolah, apalagi kalau tugasnya banyak, mereka cepat capek. Di rumah saya lihat sendiri, pulang sekolah langsung lemas,” ujar Dian, Selasa (10/2/2026).
Ia menilai, libur sekolah dapat membantu anak lebih fokus menjalankan ibadah sekaligus belajar mengendalikan diri.
“Kalau libur, anak bisa fokus puasa, bangun sahur tidak terburu-buru, dan siang bisa beristirahat. Itu menurut saya bagus untuk anak-anak,” katanya.
Baca juga: Disdukcapil Kota Gorontalo Klarifikasi Kasus Lansia Padebuolo, Ternyata Ada Dua Warga Bernama Sama
Meski demikian, Dian berharap masa libur tidak diartikan sebagai berhenti belajar sepenuhnya.
“Kalau bisa tetap ada pembelajaran, tapi ringan saja. Misalnya tugas membaca atau kegiatan keagamaan di rumah. Jangan sampai anak malah tidak belajar sama sekali,” tambahnya.
Pendapat serupa disampaikan Misran Saleh, warga Desa Tupa, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango. Misran memiliki dua anak yang duduk di bangku SD dan SMA.
Ia menilai menjalani puasa sambil mengikuti sekolah penuh menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi anak SD yang daya tahannya masih terbatas.
“Anak saya yang SD kalau puasa dan sekolah penuh, kadang kelihatan sekali capeknya. Konsentrasi belajar juga berkurang. Jadi menurut saya, lebih baik ada libur atau setidaknya pembelajaran dikurangi,” ujar Misran.
Baca juga: 2 Wakil Gorontalo di Pucuk BSG, Rania Jadi Komisaris, Rudiyanto Masuk Direksi
Namun, Misran menekankan bahwa pembelajaran tetap harus berjalan agar anak-anak tidak tertinggal pelajaran.
“Saya setuju anak-anak fokus puasa, tapi jangan sampai libur terlalu lama tanpa belajar. Pendidikan itu penting. Kalau tidak ada pembelajaran sama sekali, anak bisa malas dan akhirnya tertinggal,” jelasnya.
Menurut Misran, solusi terbaik adalah pengaturan pembelajaran yang lebih fleksibel.
“Kalau bisa jam belajar dipersingkat, tugas jangan berat, tapi anak tetap belajar. Jangan sampai karena puasa, anak-anak jadi tidak berkembang,” katanya.
Sementara itu, Ningsi Turuki, warga Batudaa, Kabupaten Gorontalo, yang juga memiliki anak di bangku sekolah dasar, menilai bulan Ramadan sebagai momentum penting dalam pembentukan karakter anak.
Ia setuju jika anak-anak diberikan ruang lebih longgar dari aktivitas sekolah agar bisa lebih fokus beribadah.
“Puasa itu bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga belajar sabar dan disiplin. Kalau anak terlalu dibebani pelajaran, khawatir mereka tidak bisa menjalani puasa dengan baik,” ujar Ningsi.
Meski demikian, Ningsi menegaskan pembelajaran formal tetap tidak boleh diabaikan.
“Pendidikan itu tetap nomor satu untuk masa depan anak. Jadi menurut saya, libur boleh, tapi tetap ada pembelajaran. Yang penting jangan memberatkan,” ujarnya.
Ia berharap sekolah dapat menyesuaikan metode belajar selama Ramadan, misalnya melalui tugas ringan atau pembelajaran yang lebih menekankan praktik dan penguatan karakter.
Belum Ada Edaran Daerah, Orang Tua Menunggu Kepastian
Di tingkat nasional, pemerintah melalui Menteri Pendidikan menyampaikan tidak ada kebijakan libur sekolah satu bulan penuh selama Ramadan. Pemerintah menegaskan kegiatan yang berlangsung adalah pembelajaran di bulan puasa, bukan libur total.
Namun hingga saat ini, di sejumlah daerah termasuk Gorontalo dan sekitarnya, belum terlihat adanya surat edaran teknis dari pemerintah daerah terkait pola pembelajaran selama Ramadan.
Kondisi tersebut membuat sebagian orang tua masih menunggu kepastian, sekaligus berharap kebijakan yang nantinya diterapkan mempertimbangkan kondisi fisik dan psikologis anak.
Dari berbagai tanggapan yang muncul, para orang tua berharap adanya kebijakan yang seimbang antara kewajiban pendidikan dan kebutuhan ibadah anak selama Ramadan.
Sebagian menginginkan libur agar anak lebih fokus berpuasa, sementara yang lain berharap pembelajaran tetap berjalan agar anak tidak tertinggal secara akademik.
Meski memiliki pandangan berbeda, para orang tua sepakat bahwa pembelajaran selama Ramadan sebaiknya tidak memberatkan dan disesuaikan dengan kondisi anak.
Mereka berharap kebijakan yang nantinya diterapkan tidak hanya mempertimbangkan aspek administratif, tetapi juga realitas yang dihadapi anak-anak saat menjalani ibadah puasa. (*/Jefri)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.