Selasa, 10 Maret 2026

Human Interest Story

Sosok Opa Asi, Penjual Pepaya di Rumah Adat Dulohupa Gorontalo

Opa Asi (70) sapaan bagi pedagang pepaya asal Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango.

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Sosok Opa Asi, Penjual Pepaya di Rumah Adat Dulohupa Gorontalo
TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga
HUMAN INTEREST -- Potret Opa Asi (70) masih bertahan jualan pepaya di Jalan Jendral Sudirman Kota Gorontalo, Kamis (23/1/2026). Opa Asi berjualan di kawasan Rumah Adat Dulohupa. (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga) 

“Anak saya dua perempuan. Saya ingin tetap usaha sendiri. Walaupun hasilnya tidak besar, yang penting halal dan saya masih bisa berdiri di kaki sendiri,” ucapnya lirih.

Sepeda tua berwarna hitam miliknya tampak bersandar di sisi trotoar. Di bagian belakang, sebuah keranjang kayu usang terikat kuat dengan tali. Keranjang itu menjadi tempat menyimpan sisa pepaya dan barang-barang sederhana yang ia bawa dari rumah setiap hari.

Payung besar berwarna kuning, hijau, biru, dan merah menaungi tubuh Opa Asi dari terik matahari. Di belakangnya, pagar besi panjang berdiri sejajar dengan jalan. Kendaraan lalu-lalang, sebagian melambat, sebagian langsung berlalu.

“Kadang banyak orang lewat di depan rumah adat, tapi tidak berhenti. Saya hanya duduk menunggu. Kalau ada yang beli, Alhamdulillah. Kalau tidak ada, ya saya terima saja. Namanya juga jualan di pinggir jalan,” katanya sambil menarik napas panjang.

Lampu lalu lintas di persimpangan Jalan Sudirman tampak menyala merah. Beberapa pengendara berhenti menunggu, namun tak semuanya melirik lapak kecil Opa Asi. Ia tetap duduk tenang, tanpa teriakan menawarkan dagangan.

“Saya tidak biasa teriak-teriak. Saya percaya, rezeki itu sudah ada yang atur. Tugas saya hanya datang, duduk, dan menunggu dengan sabar,” ujarnya.

Menjelang sore, ketika matahari mulai turun di langit Gorontalo, Opa Asi menghitung sisa pepaya yang belum terjual. Ada hari ketika dagangannya habis, namun ada pula hari ia harus membawa pulang pepaya yang tersisa.

“Kalau hari ini tidak habis, besok saya coba lagi. Besok datang lagi, duduk lagi, menunggu lagi. Begitu terus setiap hari,” tandasnya.

 

(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Selasa, 10 Maret 2026 (20 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:31
Subuh 04:41
Zhuhr 12:02
‘Ashr 15:09
Maghrib 18:04
‘Isya’ 19:13

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved