Human Interest Story
Sosok Opa Asi, Penjual Pepaya di Rumah Adat Dulohupa Gorontalo
Opa Asi (70) sapaan bagi pedagang pepaya asal Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-Opa-Asi-70-masih-bertahan-jualan-pepaya-di-Jalan-Jendral-Sudirman.jpg)
“Anak saya dua perempuan. Saya ingin tetap usaha sendiri. Walaupun hasilnya tidak besar, yang penting halal dan saya masih bisa berdiri di kaki sendiri,” ucapnya lirih.
Sepeda tua berwarna hitam miliknya tampak bersandar di sisi trotoar. Di bagian belakang, sebuah keranjang kayu usang terikat kuat dengan tali. Keranjang itu menjadi tempat menyimpan sisa pepaya dan barang-barang sederhana yang ia bawa dari rumah setiap hari.
Payung besar berwarna kuning, hijau, biru, dan merah menaungi tubuh Opa Asi dari terik matahari. Di belakangnya, pagar besi panjang berdiri sejajar dengan jalan. Kendaraan lalu-lalang, sebagian melambat, sebagian langsung berlalu.
“Kadang banyak orang lewat di depan rumah adat, tapi tidak berhenti. Saya hanya duduk menunggu. Kalau ada yang beli, Alhamdulillah. Kalau tidak ada, ya saya terima saja. Namanya juga jualan di pinggir jalan,” katanya sambil menarik napas panjang.
Lampu lalu lintas di persimpangan Jalan Sudirman tampak menyala merah. Beberapa pengendara berhenti menunggu, namun tak semuanya melirik lapak kecil Opa Asi. Ia tetap duduk tenang, tanpa teriakan menawarkan dagangan.
“Saya tidak biasa teriak-teriak. Saya percaya, rezeki itu sudah ada yang atur. Tugas saya hanya datang, duduk, dan menunggu dengan sabar,” ujarnya.
Menjelang sore, ketika matahari mulai turun di langit Gorontalo, Opa Asi menghitung sisa pepaya yang belum terjual. Ada hari ketika dagangannya habis, namun ada pula hari ia harus membawa pulang pepaya yang tersisa.
“Kalau hari ini tidak habis, besok saya coba lagi. Besok datang lagi, duduk lagi, menunggu lagi. Begitu terus setiap hari,” tandasnya.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)