Human Interest Story
Sosok Opa Asi, Penjual Pepaya di Rumah Adat Dulohupa Gorontalo
Opa Asi (70) sapaan bagi pedagang pepaya asal Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-Opa-Asi-70-masih-bertahan-jualan-pepaya-di-Jalan-Jendral-Sudirman.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Di bawah payung warna-warni di tepi Jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Rumah Adat Dulohupa, seorang lelaki tua duduk bersila dengan sabar menunggu pembeli pepaya.
Opa Asi (70) sapaan bagi pedagang pepaya asal Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango.
Hampir setiap hari Asi datang ke Kota Gorontalo untuk berjualan sejak pagi hingga sore.
Saat TribunGorontalo.com menemuinya pada Kamis (22/1/2026), suasana siang di Gorontalo terasa panas. Opa Asi tampak duduk tenang di atas tikar plastik tipis.
Di depannya, pepaya berukuran sedang hingga besar tersusun rapi. Sebagian buah sudah menguning, menandakan kematangan, sementara yang lain masih hijau dan segar.
“Setiap hari saya begini, duduk di sini dari pagi. Jam 07.00 Wita sudah keluar dari rumah, baru sore sekitar jam 17.00 saya kembali. Kalau tidak dijalani seperti itu, saya tidak tahu lagi harus bagaimana mencari makan,” kata Opa Asi dengan suara pelan.
Rutinitas berjualan pepaya di Gorontalo bukan hal baru baginya. Pepaya yang dijajakan bukan hasil kebun sendiri, melainkan ia beli terlebih dahulu, lalu dijual kembali dengan harapan mendapat sedikit keuntungan.
Kadang ia harus pergi hingga Desa Boidu atau Desa Tupa, Kecamatan Bulango Utara, untuk membeli pepaya.
“Saya beli dulu pepayanya, nanti dijual di sini. Satu buah Rp20 ribu, ada juga yang Rp15 ribu,” ungkapnya.
Karena tidak memiliki kebun, Opa Asi sepenuhnya bergantung pada hasil penjualan tersebut. Pendapatannya tidak menentu: jika ramai, ia bisa memperoleh sekitar Rp100 ribu, namun jika sepi jauh di bawah itu.
“Alhamdulillah kalau ramai bisa mencapai Rp100 ribu, kalau sepi kadang di bawah,” ujarnya.
Di usianya yang tak lagi muda, duduk berjam-jam di trotoar bukan perkara ringan. Punggungnya sering pegal, kakinya cepat lelah. Namun semua itu tetap ia jalani dengan sabar.
“Kalau capek, pasti capek. Tapi saya pikir, selama masih bisa duduk dan jualan, saya jalani saja. Saya tidak mau hanya diam di rumah, menunggu orang lain memberi,” katanya dengan senyum tipis.
Ia mengayuh sepeda tuanya dari rumah yang cukup jauh. Kadang ia membawa pepaya untuk dijual keliling. Lokasi yang paling sering ia pilih adalah simpang empat Rumah Adat Dulohupa, meski sesekali ia menunggu pembeli di kawasan Mufidah Kota Gorontalo.
“Kalau sepi, saya keliling pakai sepeda. Kadang saya menunggu pembeli di samping Mufidah,” bebernya.
Opa Asi memiliki dua anak perempuan. Ia mengaku berdagang pepaya adalah caranya menjaga harga diri sebagai seorang ayah.
“Anak saya dua perempuan. Saya ingin tetap usaha sendiri. Walaupun hasilnya tidak besar, yang penting halal dan saya masih bisa berdiri di kaki sendiri,” ucapnya lirih.
Sepeda tua berwarna hitam miliknya tampak bersandar di sisi trotoar. Di bagian belakang, sebuah keranjang kayu usang terikat kuat dengan tali. Keranjang itu menjadi tempat menyimpan sisa pepaya dan barang-barang sederhana yang ia bawa dari rumah setiap hari.
Payung besar berwarna kuning, hijau, biru, dan merah menaungi tubuh Opa Asi dari terik matahari. Di belakangnya, pagar besi panjang berdiri sejajar dengan jalan. Kendaraan lalu-lalang, sebagian melambat, sebagian langsung berlalu.
“Kadang banyak orang lewat di depan rumah adat, tapi tidak berhenti. Saya hanya duduk menunggu. Kalau ada yang beli, Alhamdulillah. Kalau tidak ada, ya saya terima saja. Namanya juga jualan di pinggir jalan,” katanya sambil menarik napas panjang.
Lampu lalu lintas di persimpangan Jalan Sudirman tampak menyala merah. Beberapa pengendara berhenti menunggu, namun tak semuanya melirik lapak kecil Opa Asi. Ia tetap duduk tenang, tanpa teriakan menawarkan dagangan.
“Saya tidak biasa teriak-teriak. Saya percaya, rezeki itu sudah ada yang atur. Tugas saya hanya datang, duduk, dan menunggu dengan sabar,” ujarnya.
Menjelang sore, ketika matahari mulai turun di langit Gorontalo, Opa Asi menghitung sisa pepaya yang belum terjual. Ada hari ketika dagangannya habis, namun ada pula hari ia harus membawa pulang pepaya yang tersisa.
“Kalau hari ini tidak habis, besok saya coba lagi. Besok datang lagi, duduk lagi, menunggu lagi. Begitu terus setiap hari,” tandasnya.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.