Lipsus Kopi Gorontalo
Kopi Jalanan Jadi Tren Anak Muda di Gorontalo, Syamsir Angkat Kopi Lokal
Pertumbuhan street coffee atau kopi jalanan di wilayah Gorontalo dalam beberapa tahun terakhir semakin pesat.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-sreet-coffee-di-Pasar-Sentral-Kota-Gorontalo.jpg)
“Kami ada istilahnya jual story. Maksudnya, kami menjual kopi dari kopinya sendiri dan berusaha mengangkat brand lokal, kopi Gorontalo dan kopi Sulawesi. Jadi bukan sekadar minuman, tapi juga sisi emosionalnya,” tuturnya.
Ia menilai kualitas kopi Sulawesi tidak kalah dengan kopi dari daerah lain di Indonesia.
Syamsir tidak menampik, tren nongkrong memengaruhi pola kunjungan pelanggan. Namun, ia menegaskan setiap kedai memiliki konsumen masing-masing.
Saat ditanya apakah pernah terpikir menutup usaha, Syamsir menegaskan masih ingin bertahan dan mencari strategi terbaik. Ia berharap ke depan ada komunitas kopi yang bisa mempertemukan para pelaku usaha untuk berbagi strategi dan pengalaman.
Generasi Muda vs Pelanggan Dewasa
Perbedaan kebiasaan konsumsi kopi terlihat jelas antar generasi.
Anak muda, khususnya Gen Z, lebih memilih street coffee karena lokasi mudah dijangkau, konsep cepat saji, harga terjangkau, dan suasana santai.
Pelanggan dewasa cenderung memilih kedai kopi konvensional dengan tempat duduk tetap, suasana tenang, serta rasa kopi alami.
Aldy Abas, pemuda asal Kota Utara, mengaku sering nongkrong di street coffee bersama teman-temannya setelah kerja. “Suasana lebih utama, tapi rasa juga jangan tidak enak,” ujarnya.
Sementara itu, Melki Neo (43) lebih menyukai kopi panas di warkop. “Kalau kopi panas, saya lebih suka buatan warkop. Kalau di street coffee, apalagi dingin, cepat hilang rasanya,” katanya.
Peta Persaingan Kopi di Gorontalo
Fenomena ini membuat peta persaingan usaha kopi di Kota Gorontalo semakin beragam. Street coffee tumbuh pesat di titik-titik keramaian, sementara kedai kopi konvensional bertahan dengan kualitas rasa, pelayanan, dan kedekatan dengan pelanggan lama.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha seperti Syamsir memilih beradaptasi tanpa meninggalkan karakter usahanya, dengan menggabungkan penjualan minuman, kopi biji, serta cerita di balik setiap cangkir yang disajikan.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)