Sains Populer

Deteksi Alzheimer Bisa Pakai Selai Kacang, Ini Temuan Ilmuwan Amerika

Para peneliti dari University of Florida, Amerika Serikat, menemukan metode sederhana dan berbiaya sangat rendah untuk membantu mendeteksi

Editor: Wawan Akuba
Tribunnews.com
SAINS - Peneliti dari University of Florida menemukan metode sederhana untuk membantu mendeteksi Alzheimer dengan memanfaatkan selai kacang. 
Ringkasan Berita:
  • Peneliti dari University of Florida menemukan metode sederhana untuk membantu mendeteksi Alzheimer dengan memanfaatkan selai kacang dan indra penciuman. 
  • Tes ini mengukur perbedaan kemampuan mencium aroma antara lubang hidung kiri dan kanan, yang pada penderita Alzheimer menunjukkan selisih signifikan. 
  • Meski tidak berdiri sendiri sebagai alat diagnosis, metode murah dan mudah ini dinilai berpotensi membantu deteksi dini Alzheimer.

TRIBUNGORONTALO.COM -- Para peneliti dari University of Florida, Amerika Serikat, menemukan metode sederhana dan berbiaya sangat rendah untuk membantu mendeteksi penyakit Alzheimer. Cara yang digunakan pun terbilang tak lazim: memanfaatkan selai kacang.

Temuan ini dinilai menjanjikan karena berpotensi membantu dokter mengenali Alzheimer lebih dini. Deteksi awal sangat penting, sebab dapat memperbaiki kualitas hidup pasien serta membantu perencanaan terapi dan perawatan sejak tahap awal penyakit.

Alzheimer merupakan gangguan otak progresif yang secara perlahan merusak daya ingat dan kemampuan berpikir. Salah satu bagian otak yang paling awal terdampak adalah korteks olfaktorius, yakni area yang berfungsi memproses penciuman. Kerusakan pada bagian ini umumnya dimulai dari sisi kiri otak, yang kemudian menyebabkan kemampuan mencium bau melalui lubang hidung kiri menjadi lebih lemah.

Dalam penelitian yang dipimpin oleh Jennifer J. Stamps bersama timnya, para peneliti melibatkan 94 responden. Peserta terdiri dari penderita Alzheimer, individu dengan gangguan daya ingat ringan, pasien dengan jenis demensia lain, serta kelompok individu sehat.

Prosedur tes yang digunakan sangat sederhana. Tim peneliti hanya memanfaatkan penggaris sepanjang 30 sentimeter dan sewadah selai kacang. Setiap peserta diminta menutup salah satu lubang hidung, sementara selai kacang secara perlahan didekatkan ke hidung—sekitar satu sentimeter setiap kali—saat peserta menghembuskan napas.

Peneliti kemudian mencatat jarak saat peserta pertama kali dapat mencium aroma selai kacang. Setelah itu, prosedur yang sama diulang pada lubang hidung yang satunya.

Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup mencolok. Penderita Alzheimer rata-rata hanya mampu mencium aroma selai kacang dari jarak 5,1 sentimeter menggunakan lubang hidung kiri, sementara dengan lubang hidung kanan mereka masih dapat mendeteksinya dari jarak 17,4 sentimeter.

Perbedaan tajam antara sisi kiri dan kanan ini tidak ditemukan pada peserta sehat maupun pada mereka yang menderita gangguan otak lain. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa tes sederhana ini berpotensi menjadi alat bantu untuk membedakan Alzheimer dari jenis demensia lainnya.

Para peneliti menilai, karena tes ini cepat, mudah dilakukan, dan sangat murah, metode tersebut dapat diterapkan secara luas di praktik dokter atau klinik. Tes ini juga tidak memerlukan peralatan canggih maupun teknologi mahal.

Deteksi dini Alzheimer memiliki arti penting. Semakin cepat penyakit ini dikenali, semakin dini pula pasien dapat memperoleh dukungan, perawatan, serta intervensi yang bertujuan mempertahankan kualitas hidup. Selain itu, metode ini juga berpotensi dimanfaatkan dalam penelitian lanjutan maupun uji klinis pengembangan terapi baru.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa tes selai kacang tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya alat diagnosis Alzheimer. Tes ini sebaiknya digunakan bersama pemeriksaan lain dan evaluasi medis yang komprehensif. Kendati demikian, metode ini tetap dinilai sebagai tambahan yang bermanfaat dalam proses diagnosis.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Neurological Sciences. Temuan tersebut menjadi contoh menarik bagaimana benda sederhana yang umum ditemukan di rumah tangga dapat berperan penting dalam mendeteksi penyakit serius seperti Alzheimer.

Sebagai catatan tambahan terkait kesehatan otak, sejumlah penelitian lain juga mengaitkan defisiensi vitamin D dengan risiko Alzheimer dan demensia vaskular. Sementara itu, asupan magnesium yang lebih tinggi disebut berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan otak. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Sabtu, 21 Februari 2026 (3 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:33
Subuh 04:43
Zhuhr 12:05
‘Ashr 15:21
Maghrib 18:07
‘Isya’ 19:17

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved