Festival Kuliner Gorontalo
Binte Biluhuta jadi Primadona di Festival Kuliner Gorontalo, Peserta Peran Saka Nasional Ketagihan
Acara Perkemahan Antar Satuan Karya (Peran Saka) Nasional ini dipusatkan di Taman Budaya Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Penulis: Fajri A Kidjab | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/FESTIVAL-KULINER-NUSANTARA-Glorivy-Supit-dan-Maria-Rumawir-peserta-kontingen.jpg)
Sementara itu, Glorivy Supit dari Kwarcab Minahasa menambahkan bahwa dirinya sudah terbiasa dengan masakan Manado sehingga tak terlalu kaget dengan rasa pedas Binte Biluhuta.
"Enak banget, Kak. Kalau kayak Maria bilang tadi, untuk pedasnya sama karena di Sulawesi Utara juga suka sama pedas-pedas. Makanya ini jadi enak," tambahnya.
Pendapat serupa dilontarkan oleh dua peserta asal Manado lainnya, Cahaya Tielung dan Shantania Kumolontang.
Baca juga: Makanan Khas Se-Nusantara Hadir di Festival Kuliner Gorontalo, dari Jawa hingga Sumatera
Bagi Cahaya, ia menyukai semua kuliner khas daerah di Festival Kuliner kali ini.
"Makanannya juga enak-enak dari berbagai daerah dan juga menginspirasi banyak-banyak daerah untuk mencoba makanan mereka" bebernya.
Adapun Shantania mengaku baru pertama kali mencicipi Binte Biluhuta.
"Rasanya sangat enak karena baru first time coba makanan ini khas Gorontalo, jadi rasanya enak," tukas siswi SMA Negeri 1 Langowan itu.
Pendapat serupa dilontarkan oleh Suci, peserta dari kontingen Tolitoli.
Suci menyebut Binte Biluhuta cukup unik karena rasa pedasnya.
Meskipun berasal dari Sulawesi Tengah, Suci baru kali ini merasakan makanan yang begitu menggugah selera.
"Tadi itu (Binte Biluhuta) enak tapi pedas sekali," ujarnya tersenyum lebar.
Suci pun tertarik untuk mencoba kuliner dari daerah lain.
Selain peserta, masyarakat juga dipersilakan untuk mencicipi kuliner nusantara di Taman Budaya.
Sejumlah warga terlihat berbincang dengan peserta yang berdiri sembari menjelaskan nama kuliner.
Festival Kuliner Nusantara yang dirangkaikan dengan Karnaval Budaya ini ditutup dengan penampilan musisi lokal seperti Sedjiwa Band.
Para peserta menari bersama, mereka bergandeng tangan dan membentuk lingkaran. Mereka menari mengikuti irama musik. Tarian ini dikenal dengan Tari Dero khas Pamona, Poso.
(TribunGorontalo.com/Fajri A. Kidjab)