Selasa, 31 Maret 2026

Beasiswa LPDP 2025

Disabilitas Asal Gorontalo Ikuti Seleksi Beasiswa LPDP, Berjuang Lewat Bahasa Isyarat Demi Cita-Cita

Abdul Kadir Umar, disabilitas di Gorontalo tengah menjalani wawancara daring Beasiswa LPDP untuk mengejar cita-citanya ssebagai seorang Magister.

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Prailla Libriana Karauwan
zoom-inlihat foto Disabilitas Asal Gorontalo Ikuti Seleksi Beasiswa LPDP, Berjuang Lewat Bahasa Isyarat Demi Cita-Cita
Kolase TribunGorontalo.com
HIS -- Abdul Kadir Umar pria penyandang disabilitas rungu-wicara asal Gorontalo itu tengah menjalani wawancara daring Beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas Batch 2 Tahun 2025, Kamis (16/10/2025). 

TRIBUNGORONTALO.COM, GORONTALO – Wajah Abdul Kadir Umar tampak tegang namun bersemangat. 

Pria penyandang disabilitas rungu-wicara asal Gorontalo itu tengah menjalani wawancara daring Beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas Batch 2 Tahun 2025, Kamis (16/10/2025).

Bagi sebagian orang, wawancara daring mungkin hal yang biasa.

Tapi bagi Arif sapaan akrabnya, momen itu menjadi langkah besar dalam perjuangannya meraih mimpi melanjutkan studi magister.

Arif merupakan alumni Program Studi Manajemen IAIN Sultan Amai Gorontalo tahun 2020. Sejak kecil, ia terbiasa berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Namun, keterbatasan itu tak pernah memadamkan semangatnya untuk terus belajar dan membuktikan diri.

Dalam sesi wawancara beasiswa LPDP tersebut, Arif dibantu oleh juru bahasa isyarat dari komunitas Rangkul Asa, komunitas yang selama ini aktif mendampingi difabel di Gorontalo.

“Arif ingin menunjukkan bahwa difabel juga mampu bersaing dalam dunia akademik jika diberi kesempatan yang sama,” ungkap Triska Lukum, rekan dekatnya, Kamis (16/10/2025).

Dalam program beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas, Arif memilih tiga kampus tujuan yakni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Negeri Surabaya (UNS), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Tiga kampus tersebut dikenal ramah terhadap mahasiswa disabilitas.

Arif berharap bisa menjadi magister pertama dari kalangan disabilitas rungu di Gorontalo.

Ia ingin membuka jalan bagi teman-teman tuli lainnya agar berani bermimpi besar dan melanjutkan pendidikan tinggi.

Kisah perjuangan Arif mencerminkan kondisi banyak penyandang disabilitas di Gorontalo yang masih berjuang di tengah keterbatasan akses pendidikan inklusif

Hingga kini, fasilitas pendukung, layanan bahasa isyarat, serta beasiswa daerah bagi difabel masih sangat terbatas.

Padahal, banyak di antara mereka memiliki potensi akademik yang besar.

Menurut Moh. Azwar Hairul, Sekretaris Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty, langkah Arif menjadi contoh nyata bagaimana kesempatan yang setara dapat membuka jalan bagi difabel untuk berkembang.

“Keberanian Arif ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa difabel,” ujarnya. 

Azwar menilai, selama ini perhatian terhadap pendidikan inklusif di daerah masih sebatas wacana. 

Ia berharap pemerintah bisa menindaklanjuti kisah seperti Arif dengan kebijakan nyata yang berpihak pada penyandang disabilitas.

“Difabel bukan hanya penerima bantuan sosial, tapi juga bagian dari generasi berprestasi yang siap berkontribusi. Mereka hanya butuh ruang dan dukungan nyata,” tambahnya.

Kini, Arif menanti hasil seleksi akhir LPDP dengan penuh harapan. 

Jika berhasil ia tak hanya mengukir prestasi pribadi, tetapi juga membawa pesan kuat bahwa Gorontalo memiliki generasi difabel yang siap bersuara dan berkontribusi bagi kemajuan daerah.

Kisah Arif menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi besar. 

Dengan dukungan lingkungan yang inklusif, Gorontalo bisa melahirkan lebih banyak generasi difabel yang berdaya, tangguh, dan berprestasi.

 

 

(TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved