Tribun Podcast
Wagub Idah Syahidah Jawab Keraguan Publik : Saya Tidak Tong Kosong Berbunyi Nyaring
Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, menegaskan dirinya hadir dalam jajaran kepemimpinan daerah bukan hanya sebagai simbol
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-Wakil-Gubernur-Gorontalo-Idah-Syahidah-Rusli-Habibie-saat-menjadi-bintang-tamu-di-Podcast.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, menegaskan dirinya hadir dalam jajaran kepemimpinan daerah bukan hanya sebagai simbol, melainkan membawa ide dan kerja nyata.
Pernyataan ini disampaikan Idah Syahidah saat menjadi bintang tamu podcast TribunGorontalo.com bertema “Wakil Gubernur Perempuan Pertama di Gorontalo,” pada Rabu (24/9/2025).
Acara podcast ini dipandu oleh jurnalis TribunGorontalo.com, Minarti Monsombo dan Prailla Karauwan.
Wagub Idah mengakui bahwa sejak pencalonan hingga pelantikan, ia menghadapi berbagai pandangan publik, termasuk keraguan.
Anggapan bahwa ia bukan orang asli Gorontalo, bahkan isu spekulatif bahwa sumber daya alam daerah akan dibawa ke Jawa, sempat muncul.
“Saya sudah 23 tahun di Gorontalo, dan kepemimpinan suami saya dua periode itu tidak ada satu pun keluarga saya yang tinggal di Gorontalo,” tegas Idah menepis isu tersebut.
Idah secara lugas menolak anggapan bahwa ia memanfaatkan posisi suaminya (Rusli Habibie, eks Gubernur Gorontalo dua periode). Ia justru ingin menunjukkan kiprah dan identitasnya sendiri sebagai pemimpin.
“Saya ingin menunjukkan ke masyarakat bahwa saya tidak tong kosong berbunyi nyaring. Saya menunjukkan kerja-kerja saya, ide-ide saya membantu tugas Gubernur,” tandasnya.
Ia menambahkan, saat ini ide-idenya diterima dengan baik. Hal ini dinilai sebagai bentuk upayanya membantu tugas Gubernur dan memastikan koordinasi serta sinergi dalam kepemimpinan daerah.
Idah juga berkomitmen selalu melaporkan setiap kegiatannya kepada Gubernur.
Dalam upaya membuktikan kerja nyatanya, Idah Syahidah menyebut dirinya selalu memberi ruang untuk mendengar langsung suara rakyat.
Ia sering menerima audiensi dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas, LSM, hingga lembaga pendidikan.
Untuk memastikan aspirasi dapat ditindaklanjuti, Idah selalu melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dalam setiap audiensi.
"Misalnya hubungan dengan UMKM, saya panggil Disperindag. Hubungannya dengan kesehatan, saya panggil Kadinkes. Jadi saya selalu didampingi,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menunjukkan sikap terbuka pada kritik, bahkan memilih hadir untuk mendengarkan langsung tuntutan mereka ketika mahasiswa menggelar demonstrasi. Sikap ini diyakini menjadi kunci menjaga komunikasi antara pemerintah dan rakyat.
Baca juga: Wakil Gubernur Gorontalo Salurkan Ribuan Bantuan untuk Pelaku UMKM
Cara Wagub Berbagi Peran
Sebagai Wakil Gubernur perempuan pertama di Gorontalo, Idah optimistis posisinya akan memotivasi kaum perempuan lain untuk berkarier di politik maupun birokrasi.
Namun, ia juga menegaskan, sehebat apa pun karier perempuan, tanggung jawab di rumah tetaplah hal yang tidak bisa dilepaskan.
"Kita punya suami, kita punya anak yang harus kita siapkan kebutuhannya,” ujarnya.
Meskipun kewajiban sebagai seorang istri dan ibu bisa berjalan beriringan dengan tugas negara, Idah mengakui ia harus memprioritaskan tugas Wakil Gubernur saat ada benturan waktu.
“Pada waktu yang bersamaan ada tugas yang harus diselesaikan sebagai Wakil Gubernur Gorontalo, maka itu saya lebih memprioritaskan hal tersebut. Sehingga perlu ada pengertian dari pasangan kita,” tutupnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.