Universitas Negeri Gorontalo
Nano Grow, Inovasi Mahasiswa UNG untuk Petani Gorontalo
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Desa Tunggulo Selatan, Bone Bolango, menghadirkan inovasi pupuk
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Inovasi-pupuk-dari-mahasiswa-Universitas-Negeri-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Desa Tunggulo Selatan, Bone Bolango, menghadirkan inovasi pupuk cair berbasis teknologi nano bernama Nano Grow.
Pupuk ramah lingkungan ini tidak hanya menjadi solusi bagi petani, tetapi juga membuka peluang baru untuk mencetak agropreneur (pengusaha pertanian) mandiri di desa tersebut.
Program KKN Tematik ini mengusung tema “Sinergi Komunikasi Digital dan Teknologi Pertanian Berkelanjutan untuk Penguatan Kemandirian Ekonomi Agropreneur Desa Tunggulo Selatan.”
Sebanyak 25 mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari produksi pupuk organik cair, pelatihan pengemasan, hingga bimbingan pemasaran digital.
Mahasiswa juga melakukan pendampingan kepada kelompok tani, membangun jejaring promosi di media sosial, serta membuat konten pemasaran kreatif agar produk Nano Grow dapat dikenal luas.
Koordinator KKN Desa Tunggulo Selatan, Fahrial Wewengkang, menjelaskan bahwa pupuk Nano Grow dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan mempercepat masa panen.
“Pupuk cair organik berbasis nano ini tidak hanya bermanfaat untuk tanaman, tetapi juga bisa dipasarkan sebagai produk unggulan desa. Teknologi ini juga ramah lingkungan dan menghasilkan produk pertanian yang lebih berkualitas,” ujar Fahrial.
Pupuk Nano Grow diproduksi dalam beberapa ukuran: botol 600 ml (Rp30 ribu), 1 liter (Rp45 ribu), dan 1,5 liter (Rp50 ribu).
Selain memproduksi pupuk, mahasiswa UNG juga memberikan pelatihan digital marketing. Tujuannya adalah agar produk pupuk cair yang dihasilkan warga bisa menembus pasar yang lebih luas.
Materi yang diberikan meliputi strategi pengemasan, pembuatan label, teknik memotret produk yang menarik, hingga cara membuat akun di marketplace dan media sosial untuk bisnis.
“Dengan begitu, produk ini tidak hanya dipasarkan di lingkup desa, tetapi juga bisa menembus pasar regional bahkan nasional,” tambah Fahrial.
Baca juga: BREAKING NEWS: Bocah 12 Tahun Diduga Dianiaya Oknum Polisi Gorontalo, Korban Alami Trauma
Kolaborasi dengan Petani Lokal
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa melibatkan kelompok tani setempat untuk mempelajari cara pembuatan pupuk, mulai dari fermentasi hingga tahap pengemasan.
Mahasiswa juga menyusun modul sederhana agar warga bisa melanjutkan usaha ini meskipun program KKN telah selesai.
Selain itu, mahasiswa mengadakan diskusi kelompok tentang strategi pengembangan usaha berbasis pertanian organik.