Universitas Negeri Gorontalo
Riset UNG Ungkap 15 Spesies Ikan di Torosiaje Gorontalo Terkontaminasi Mikroplastik
Sebuah peringatan keras bagi kesehatan publik dan kelestarian ekosistem laut muncul dari perairan Teluk Tomini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sejumlah-peneliti-UNG-mengungkap-ikan-konsumsi-di-Torosiaje-tercemar-limbah.jpg)
Ringkasan Berita:
- Riset akademisi UNG mengungkapkan bahwa 100 persen sampel ikan konsumsi di Torosiaje terkontaminasi mikroplastik
- Pencemaran didominasi oleh serat (fiber) berwarna biru (94 persen ) yang diduga kuat berasal dari degradasi alat tangkap nilon
- Kehadiran mikroplastik ini mengancam kesehatan masyarakat adat Bajo yang bergantung penuh pada hasil laut
TRIBUNGORONTALO.COM – Sebuah peringatan keras bagi kesehatan publik dan kelestarian ekosistem laut muncul dari perairan Teluk Tomini.
Riset terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menemukan fakta mengejutkan bahwa sejumlah ikan konsumsi yang diuji di wilayah Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, telah terkontaminasi mikroplastik.
Perkampungan atas air suku Bajo di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato berjarak sekitar 245 kilometer dari pusat Kota Gorontalo.
Perjalanan darat umumnya memakan waktu normal sekitar 6 jam 5 menit menggunakan mobil atau sepeda motor. Durasi tersebut sangat bergantung pada kondisi arus lalu lintas dan kecepatan berkendara di sepanjang jalur utama.
Adapun rute utama yang dilalui adalah Jalan Trans Sulawesi. Jalur ini akan membawa pengendara menyusuri pesisir selatan Gorontalo, melintasi wilayah Kabupaten Boalemo, hingga masuk ke pusat Kabupaten Pohuwato sebelum akhirnya tiba di Desa Torosiaje yang terletak di ujung barat provinsi.
Ancaman Sampah Plastik
Riset UNG menunjukkan bahwa ancaman sampah plastik tidak lagi hanya sekadar pemandangan kotor di permukaan laut, melainkan sudah masuk ke dalam rantai makanan manusia.
Partikel plastik berukuran mikroskopis ini kini bersarang di dalam tubuh ikan-ikan yang menjadi tumpuan hidup utama bagi masyarakat adat Bajo.
Laporan ilmiah bertajuk kontaminasi mikroplastik ini merupakan buah karya kolaborasi akademisi UNG, di antaranya Syam S Kumaji, Dewi Wahyuni K Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, dan Femy Mahmud Sahami.
Riset ini secara resmi telah dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries edisi Januari 2026.
Penelitian yang dilakukan menggunakan 15 sampel ikan dari beberapa spesies tertentu, yakni Mugil cephalus, Lutjanus ehrenbergii, Craterognathus plagiotaenia, Epinephelus faveatus, Scolopsis sp., Scarus cf. globiceps, Lethrinus sp., Lutjanus lutjanus, Parupeneus barberinus, Lethrinus rubrioperculatus, Siganus guttatus, dan Caesio cuning. Jumlah dan jenis sampel tersebut tidak merepresentasikan seluruh ikan yang terdapat di wilayah Torosiaje maupun Teluk Tomini.
"Kami juga menegaskan bahwa bagian ikan yang dianalisis dalam penelitian ini hanya terbatas pada saluran pencernaan (saluran cerna), bukan pada bagian daging ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat. Dengan demikian, temuan mikroplastik dalam penelitian ini tidak secara langsung menunjukkan bahwa daging ikan konsumsi telah tercemar," ungkap peneliti kepada TribunGorontalo.com.
Penelitian ini juga memiliki keterbatasan, khususnya dalam identifikasi jenis polimer mikroplastik, sehingga masih diperlukan penelitian lanjutan dengan cakupan sampel dan metode yang lebih luas untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Wilayah Torosiaje Mainland tercatat sebagai lokasi dengan tingkat kontaminasi paling parah. Para peneliti menemukan rata-rata 59 partikel mikroplastik bersarang di setiap individu ikan yang diambil dari area tersebut, sebuah rasio yang tergolong tinggi untuk perairan yang selama ini dianggap jauh dari pusat industri besar.
Temuan yang lebih spesifik mengungkap bahwa pada spesies ikan Craterognathus plagiotaenia, jumlah polutan plastik melonjak hingga 86 partikel per ekor. Angka ini merupakan rekor tertinggi dalam penelitian tersebut, menempatkan spesies ikan ini pada risiko kesehatan ekosistem yang paling rentan.