Berita Nasional
Rupiah Menguat ke Rp17.863 per Dolar AS, Efek BI Naikkan Suku Bunga Darurat
Nilai tukar rupiah berhasil mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat setelah Bank Indonesia mengambil langkah tak biasa dengan menaikkan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/RDP-Usai-RDG-Darurat-BI-Rupiah-Menguat-di-Tengah-Konflik-Timur-Tengah.jpg)
Ringkasan Berita:
- Rupiah menguat 125 poin atau 0,69 persen ke level Rp17.863 per dolar AS setelah Bank Indonesia menaikkan BI-Rate menjadi 5,50 persen.
- Kenaikan suku bunga dilakukan melalui RDG darurat sebagai respons terhadap gejolak global dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar.
- Pemerintah dan BI juga memperkuat koordinasi fiskal dan moneter untuk menarik kembali modal asing serta menjaga likuiditas pasar keuangan.
TRIBUNGORONTALO.COM - Nilai tukar rupiah berhasil mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat setelah Bank Indonesia mengambil langkah tak biasa dengan menaikkan suku bunga acuan melalui rapat darurat pekan ini.
Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik, sekaligus menjadi respons pasar terhadap kebijakan moneter terbaru bank sentral.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (12/6) pukul 14.29 WIB, rupiah menguat 125 poin atau 0,69 persen ke posisi Rp17.863 per dolar AS.
Baca juga: BPJS Kesehatan Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Terancam Gagal Bayar pada Juli 2027
Pergerakan positif tersebut terjadi setelah Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat pada Selasa (9/6).
Dalam rapat itu, BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Keputusan tersebut terbilang tidak biasa karena dilakukan sebelum jadwal RDG reguler yang semestinya berlangsung pada 18 Juni 2026.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan, langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
Menurutnya, konflik di Timur Tengah telah memperbesar ketidakpastian global dan berpotensi memengaruhi inflasi dalam beberapa tahun mendatang.
Selain menaikkan BI-Rate menjadi 5,50 persen, Bank Indonesia juga menyesuaikan instrumen kebijakan lainnya.
Suku bunga Deposit Facility dinaikkan 25 basis poin menjadi 4,50 persen, sedangkan Lending Facility meningkat menjadi 6,25 persen.
Perry mengatakan, penguatan rupiah menjadi salah satu fokus utama koordinasi pemerintah dan bank sentral dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik agar aliran modal asing kembali masuk ke Indonesia.
Langkah ini dinilai penting karena kenaikan suku bunga global sebelumnya mendorong keluarnya dana asing dari pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Oleh karena itu fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry saat konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan.