Berita Nasional
BPJS Kesehatan Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Terancam Gagal Bayar pada Juli 2027
Tekanan terhadap keuangan BPJS Kesehatan semakin nyata. Setiap bulan, lembaga penyelenggara jaminan kesehatan nasional itu harus menanggung
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/BPJS-Keberlanjutan-pendanaan-BPJS-Kesehatan.jpg)
Ringkasan Berita:
- BPJS Kesehatan mencatat defisit sekitar Rp2 triliun setiap bulan karena penerimaan iuran lebih rendah dibandingkan pembayaran klaim.
- Setiap hari, BPJS menangani sekitar 2 juta transaksi layanan kesehatan dengan nilai pembayaran mencapai Rp500 miliar.
- Tanpa intervensi pemerintah, BPJS Kesehatan memperkirakan berpotensi mengalami gagal bayar mulai Juli 2027 meski saat ini masih memiliki dana cadangan.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Tekanan terhadap keuangan BPJS Kesehatan semakin nyata. Setiap bulan, lembaga penyelenggara jaminan kesehatan nasional itu harus menanggung selisih triliunan rupiah akibat besarnya klaim yang dibayarkan dibandingkan iuran yang diterima dari peserta.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut membuat arus kas BPJS berada dalam situasi yang perlu mendapat perhatian serius.
Dalam paparannya di hadapan Komisi IX DPR RI, Prihati menyebut penerimaan iuran peserta saat ini belum mampu mengimbangi kebutuhan pembayaran layanan kesehatan yang terus meningkat.
Baca juga: Setelah Turun Jadi Rp268 Triliun, Anggaran MBG Berpotensi Dipangkas Lagi Usai Bertemu Prabowo
“Dalam sebulan, pembayaran klaim mencapai sekitar Rp16 hingga Rp 16,5 triliun, sementara iuran yang masuk hanya sekitar Rp14 triliun. Artinya, setiap bulan kita defisit kurang lebih Rp2 triliun,” ujar Prihati dalam rapat di Komisi IX, dikutip dari YouTube TV Parlemen, Kamis (11/6/2026).
Besarnya beban yang ditanggung BPJS Kesehatan juga tercermin dari rasio klaim yang kini telah menembus 108,72 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa nilai klaim yang dibayarkan lebih besar dibandingkan pendapatan yang diperoleh dari iuran peserta.
Di sisi lain, volume layanan yang ditangani BPJS Kesehatan juga terus meningkat. Setiap hari, jutaan transaksi pelayanan kesehatan harus dibayarkan kepada fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS.
“Dan ini bapak-ibu sekalian, kita melakukan transaksi kesehatan itu sehari 2 juta transaksi. Ini menghasilkan pembayaran Rp500 miliar sehari," katanya.
Jika dikalkulasikan, BPJS Kesehatan mengeluarkan dana sekitar setengah triliun rupiah setiap hari hanya untuk membayar klaim layanan kesehatan peserta.
Meski menghadapi tekanan keuangan, Prihati memastikan BPJS Kesehatan masih memiliki cadangan dana yang cukup untuk memenuhi kewajiban pembayaran klaim dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, ia mengingatkan bahwa tanpa adanya langkah penyelamatan atau intervensi kebijakan, risiko gagal bayar bukan lagi sekadar kemungkinan.
“Namun demikian, kita masih punya cadangan untuk pembayaran klaim ini sampai awal tahun depan. Namun, kita akan gagal bayar di Juli 2027 bila tidak ada intervensi," ucapnya.
Sebagai upaya menjaga keberlangsungan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pemerintah saat ini tengah menyiapkan sejumlah langkah penyehatan keuangan.
Salah satu opsi yang sedang dibahas adalah pemberian tambahan dukungan anggaran sekitar Rp20 triliun.
Baca juga: Harga Bahan Pokok di Pasar Tilamuta Boalemo Jumat 12 Juni 2026, Bawang Merah Naik Rp 80 Ribu
Dana tersebut direncanakan berasal dari dua kementerian, masing-masing Rp10 triliun dari Kementerian Kesehatan dan Rp10 triliun dari Kementerian Keuangan.