Harga Plastik Gorontalo
Beda-beda Cara UMKM Gorontalo Hadapi Kenaikan Plastik agar Tak Merugi
Lonjakan harga bahan kemasan plastik mulai memberi tekanan serius bagi pelaku usaha kecil di Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Diketahui-awal-April-2026-ini-terjadi-kenaikan-harga-plastik-di-Gorontalo.jpg)
Namun Tiara belum berani menaikkan harga jual minuman karena khawatir pelanggan keberatan.
Sebagai jalan tengah, ia memilih mengurangi sedikit takaran isi.
“Untuk sekarang belum naik harga. Paling takaran dikurangi sedikit, sekitar 10 mil dari ukuran biasa,” ujarnya.
Menurut Tiara, langkah itu lebih aman agar pelanggan tetap membeli tanpa merasa terbebani kenaikan harga.
Berbeda dengan Tiara, pedagang kopi street Niken memilih menaikkan harga jual minuman.
Jika sebelumnya satu cup kopi dijual Rp15 ribu, kini naik menjadi Rp17 ribu.
“Kalau tidak dinaikkan, tidak tertutup biaya. Semua bahan naik, terutama kemasan,” kata Niken.
Ia menjelaskan, kenaikan harga dilakukan setelah menghitung ulang biaya produksi yang terus bertambah.
Menurutnya, kenaikan harga cup, sedotan, dan plastik pembungkus sangat memengaruhi total pengeluaran harian.
Meski ada risiko pelanggan berkurang, Niken menilai keputusan itu terpaksa diambil agar usahanya tetap bertahan.
Sementara itu, pedagang minuman lainnya, Indah Puspita, justru memilih bertahan dengan harga lama.
Ia mengaku belum menaikkan harga karena khawatir pelanggan akan berpindah ke tempat lain.
“Saya masih tahan harga. Takut pelanggan pergi,” ujarnya.
Menurut Indah, persaingan usaha minuman di Gorontalo cukup ketat.
Kenaikan harga sekecil apa pun bisa memengaruhi minat beli pelanggan.