Jumat, 27 Maret 2026

Musim Kemarau

BMKG Ungkap Peralihan Musim, Sejumlah Wilayah Indonesia Mulai Masuki Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan sinyal kuat mengenai pergeseran pola cuaca ekstrem yang mulai melandai

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto BMKG Ungkap Peralihan Musim, Sejumlah Wilayah Indonesia Mulai Masuki Kemarau
TribunGorontalo.com/WawanAkuba
MUSIM KEMARAU -- Tanah retak-retak di kawasan Danau Limboto. Simak wilayah yang diprediksi mulai memasuki musim kemarau. 

Ringkasan Berita:
  • BMKG mencatat awal April 2026 sebagai fase pancaroba, ditandai penurunan curah hujan di sejumlah wilayah meski mayoritas Indonesia masih diguyur hujan kategori menengah.
  • Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, sebagian Jawa, Bali, NTB, NTT, hingga pesisir Sulawesi dan Maluku mulai menunjukkan curah hujan rendah (0–50 mm per dasarian)
  • Meski risiko banjir besar menurun, masyarakat tetap perlu waspada terhadap cuaca lokal yang dinamis

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan sinyal kuat mengenai pergeseran pola cuaca ekstrem yang mulai melandai seiring dengan masuknya fase transisi di awal April 2026.

Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun intensitas hujan masih menyelimuti sebagian besar nusantara, fenomena penurunan curah hujan di titik-titik tertentu menjadi penanda bahwa musim kemarau mulai mengintip di cakrawala klimatologi Indonesia.

Menurut Brewster’s Dictionary of Phrase and Fable, konsep musim kemarau (dry season) sebagai periode di mana penguapan melampaui presipitasi secara konsisten. 

Kemarau bukan sekadar absennya air terjun dari langit, melainkan sebuah siklus retensi alam di mana tanah dan atmosfer mulai mencari keseimbangan suhu yang lebih tinggi setelah masa jenuh air.

Melansir dari KompasTV, memasuki dasarian I April 2026, atau periode 1 hingga 10 April, potret cuaca nasional mulai menunjukkan anomali yang menarik untuk dicermati oleh para pemangku kepentingan. 

BMKG melaporkan bahwa mayoritas wilayah Indonesia saat ini masih berada dalam kategori hujan menengah, yang mencakup angka dominan sebesar 81,62 persen dari total luas daratan.

Angka tersebut menegaskan bahwa meski sinyal kemarau mulai muncul, sisa-sisa kekuatan awan konvektif masih memegang kendali atas langit Indonesia. Namun, yang menjadi perhatian adalah munculnya kantong-kantong wilayah dengan curah hujan rendah yang kini mencapai porsi 17,71 persen.

Kondisi ini memberikan gambaran bahwa atmosfer sedang berada dalam persimpangan jalan, di mana massa udara basah mulai perlahan tergerus oleh aliran angin yang lebih kering. Secara teknis, kategori hujan tinggi kini hanya menyisakan ruang sebesar 0,67 persen saja di seluruh peta prakiraan nasional.

Lebih lanjut, BMKG mengonfirmasi bahwa saat ini tidak ditemukan lagi wilayah dengan status "Awas" atau curah hujan sangat tinggi di atas 300 mm per dasarian. Ketiadaan angka ekstrem ini menjadi indikator valid bahwa potensi bencana hidrometeorologi berskala masif akibat hujan lebat mulai mengalami penurunan signifikan.

Dinamika ini menandai bahwa pergerakan atmosfer sudah tidak lagi berada pada puncak musim basah, melainkan mulai bergerak menuju fase transisi atau yang akrab disebut masyarakat sebagai masa pancaroba. Penurunan intensitas ini terjadi secara gradual, namun pasti, menyentuh berbagai wilayah dari ujung barat hingga timur Indonesia.

Bagi masyarakat di daerah pesisir, perubahan ini mulai terasa dengan suhu udara yang cenderung lebih menyengat pada siang hari namun diikuti oleh embusan angin yang lebih kencang. Fenomena ini adalah karakteristik umum saat kelembapan udara mulai berkurang dan tekanan udara mengalami fluktuasi menjelang kemarau.

Pihak BMKG terus memantau pergerakan angin monsun yang menjadi motor penggerak utama perubahan musim di Indonesia. Pergantian dari monsun baratan yang basah menuju monsun timuran yang kering diprediksi akan terjadi secara bertahap dalam beberapa pekan ke depan.

Dalam sepuluh paragraf awal ini, terlihat jelas bahwa meskipun Indonesia belum sepenuhnya "kering", namun fondasi menuju musim kemarau telah terpola dengan kuat dalam data statistik cuaca awal tahun ini.

Baca juga: Rayakan Tradisi Ketupat di Malam Hari, Warga Pabean Gorontalo Sajikan Kuliner Gratis

Pemetaan Wilayah dengan Curah Hujan Rendah

PERINGATAN DINI -- Hujan deras di depan Kantor TribunGorontalo.com, Jl Jaksa Agung Suprapto, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Selasa (20/1/2026). Simak peringatan dini cuaca di wilayah Provinsi Gorontalo hari ini.
CURAH HUJAN -- Hujan deras di depan Kantor TribunGorontalo.com, Jl Jaksa Agung Suprapto, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Selasa (20/1/2026). Simak pemetaan wilayah dengan curah hujan rendah. (TribunGorontalo.com/Fajri A Kidjab)

Memasuki pembahasan yang lebih spesifik, BMKG merinci sejumlah wilayah yang kini sudah mulai mencicipi karakteristik curah hujan kategori rendah, yakni pada kisaran 0 hingga 50 mm per dasarian. Di ujung barat Indonesia, wilayah Aceh menjadi salah satu titik yang paling awal menunjukkan tanda-tanda ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved