Jumat, 27 Maret 2026

Musim Kemarau

BMKG Ungkap Peralihan Musim, Sejumlah Wilayah Indonesia Mulai Masuki Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan sinyal kuat mengenai pergeseran pola cuaca ekstrem yang mulai melandai

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto BMKG Ungkap Peralihan Musim, Sejumlah Wilayah Indonesia Mulai Masuki Kemarau
TribunGorontalo.com/WawanAkuba
MUSIM KEMARAU -- Tanah retak-retak di kawasan Danau Limboto. Simak wilayah yang diprediksi mulai memasuki musim kemarau. 

Beberapa titik di Aceh seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, hingga Aceh Tamiang mulai melaporkan penurunan frekuensi hujan yang cukup drastis dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini diikuti oleh wilayah tetangganya, yakni Sumatera Utara, di mana kota-kota besar seperti Medan dan Binjai juga masuk dalam radar zona kering.

Deli Serdang hingga Simalungun pun tak luput dari tren penurunan curah hujan ini, menandakan bahwa wilayah Sumatera bagian utara memang lebih sensitif terhadap perubahan pola angin tahunan. Di wilayah kepulauan, Kepulauan Riau yang mencakup Batam, Natuna, dan Tanjung Pinang juga mulai mencatat intensitas hujan yang minim.

Bergeser ke Pulau Jawa, tanda-tanda awal kemarau terlihat jelas di sisi utara dan barat, dimulai dari Tangerang di Provinsi Banten. Karawang di Jawa Barat, yang dikenal sebagai lumbung padi, juga mulai memasuki fase di mana curah hujan tidak lagi sederas pada awal tahun.

Wilayah Jawa Tengah bagian utara seperti Jepara, Pati, dan Rembang menunjukkan pola serupa, di mana tutupan awan mulai menipis dan paparan sinar matahari menjadi lebih dominan. Di Jawa Timur, daratan Madura yang meliputi Bangkalan, Sampang, hingga Sumenep menjadi wilayah yang paling konsisten menunjukkan karakter rendah hujan.

Tak hanya di Jawa dan Sumatera, Bali serta wilayah Nusa Tenggara (NTB dan NTT) secara historis memang menjadi gerbang masuknya musim kemarau di Indonesia. Saat ini, wilayah-wilayah pesisir di kawasan tersebut sudah mulai menunjukkan pola cuaca yang lebih stabil dan kering.

Bahkan sebagian wilayah Sulawesi, Maluku, hingga Papua Barat mulai menunjukkan indikasi serupa, terutama di area-area yang secara geografis berada di balik bayang-bayang hujan pegunungan. Pola ini mengonfirmasi bahwa pengurangan intensitas hujan sedang terjadi secara masif di wilayah pesisir nusantara.

Penurunan curah hujan ini bukan berarti kekeringan instan, namun lebih kepada penyesuaian ekosistem terhadap berkurangnya pasokan air dari atmosfer. Petani di wilayah-wilayah tersebut diimbau untuk mulai mengatur pola tanam sesuai dengan ketersediaan air yang diprediksi akan terus menurun.

Sektor transportasi laut juga perlu memperhatikan perubahan pola angin yang sering kali menyertai transisi musim ini, terutama di wilayah perairan terbuka seperti Natuna dan Selat Karimata. Dinamika cuaca di wilayah rendah hujan ini menjadi alarm awal bagi manajemen sumber daya air nasional.

Dominasi Hujan Menengah di Tengah Masa Pancaroba

BMKG menegaskan bahwa hujan dengan kategori menengah (50–150 mm per dasarian) masih memegang kendali atas mayoritas wilayah Indonesia. Wilayah Sumatera bagian barat dan tengah tetap menjadi zona yang cukup basah pada periode awal April ini.

Sebagian besar Pulau Jawa, khususnya wilayah pegunungan dan selatan, juga masih sering diguyur hujan dengan intensitas yang cukup untuk menjaga kelembapan tanah. Hal yang sama berlaku untuk hampir seluruh daratan Kalimantan yang secara klimatologis memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun.

Sulawesi, Bali, dan sebagian Maluku serta Papua juga dilaporkan masih berada dalam kategori menengah ini. Artinya, siklus hidrologi belum sepenuhnya bergeser ke fase kering total, dan aktivitas awan hujan masih sangat signifikan di banyak daerah.

Fenomena menarik yang dicatat BMKG adalah ketiadaan wilayah yang mengalami hujan sangat tinggi di atas 300 mm. Ini adalah kabar baik bagi mitigasi bencana, karena risiko banjir bandang berskala besar akibat curah hujan ekstrem cenderung mengecil.

Namun, fase pancaroba yang sedang kita lalui ini memiliki risiko tersendiri, yakni cuaca yang sangat dinamis dan sulit diprediksi secara lokal. Hujan sering kali datang tiba-tiba pada sore hari dengan durasi singkat namun disertai petir yang menggelegar dan angin kencang yang merusak.

Perubahan cuaca yang cepat ini sering kali memicu fenomena downburst atau angin kencang yang bisa merobohkan papan reklame maupun pohon pelindung di jalan raya. Oleh karena itu, meski curah hujan secara akumulatif menurun, kewaspadaan terhadap cuaca buruk skala lokal tidak boleh kendor.

BMKG juga mengingatkan dampak transisi musim terhadap kesehatan manusia, di mana perubahan suhu yang ekstrem antara siang dan malam dapat menurunkan imunitas tubuh. Sektor pertanian juga dihadapkan pada tantangan serangan hama yang biasanya meningkat saat kelembapan udara berfluktuasi di masa transisi.

Sebagai instrumen pemantauan, BMKG tetap menggunakan empat kategori curah hujan: rendah (0–50 mm), menengah (50–150 mm), tinggi (150–300 mm), dan sangat tinggi (di atas 300 mm). Kategori-kategori ini menjadi kompas bagi masyarakat dan pemerintah dalam mengambil keputusan taktis sehari-hari. (*)

 

Artikel ini telah tayang di KompasTV

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved