Berita Internasional
Presiden Amerika Donald Trump Heran Iran tak Juga Menyerah Padahal Diancam
Utusan khusus Presiden Amerika Serikat memperingatkan bahwa Iran kini berada di ambang kemampuan memproduksi bahan bom nuklir tingkat militer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/IRAN-DAN-AMERIKA-Opsi-lain-dipertimbangkan-Donald-Trump-Presiden-Amerika.jpg)
Pemerintah AS menilai material tersebut dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Sebaliknya, Teheran menegaskan program nuklirnya bertujuan damai dan menolak tuntutan penghentian total pengayaan.
Teheran Tolak Strategi Tekanan
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan negaranya tidak akan tunduk pada ancaman dan tekanan militer. Ia menyerukan persatuan nasional menghadapi tekanan eksternal.
Iran menolak tuntutan “zero enrichment” atau nol pengayaan yang diajukan Washington.
Meski demikian, sejumlah pejabat Iran memberi sinyal kemungkinan kompromi, seperti menurunkan tingkat kemurnian uranium atau mengekspor sebagian stoknya, asalkan sanksi dicabut secara bertahap.
Teheran juga menolak mengaitkan pembatasan nuklir dengan program rudal atau aliansi regionalnya.
Pertemuan dengan Oposisi Iran
Dalam wawancara tersebut, Witkoff turut mengonfirmasi bahwa ia bertemu tokoh oposisi Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, atas arahan Trump.
Pahlavi, putra shah terakhir Iran, selama ini mendorong tindakan lebih tegas AS terhadap kepemimpinan ulama di Teheran dan menyatakan intervensi militer dapat membantu menggulingkan pemerintahan saat ini.
Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam ketegangan baru: diplomasi berjalan, tetapi bayang-bayang konfrontasi militer tetap menguat.
Dengan klaim bahwa Iran hanya berjarak hitungan hari dari material tingkat senjata, tekanan terhadap negosiasi pun semakin meningkat. (*)