Berita Internasional
Presiden Amerika Donald Trump Heran Iran tak Juga Menyerah Padahal Diancam
Utusan khusus Presiden Amerika Serikat memperingatkan bahwa Iran kini berada di ambang kemampuan memproduksi bahan bom nuklir tingkat militer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/IRAN-DAN-AMERIKA-Opsi-lain-dipertimbangkan-Donald-Trump-Presiden-Amerika.jpg)
Ringkasan Berita:
- Utusan khusus Presiden AS memperingatkan Iran hanya sekitar satu pekan dari kemampuan memproduksi material bom nuklir tingkat militer.
- Washington meningkatkan tekanan militer sembari melanjutkan perundingan, namun Teheran menolak tuntutan penghentian total pengayaan uranium.
- Ketegangan meningkat karena kedua pihak tetap bersikeras pada posisi masing-masing di tengah
TRIBUNGORONTALO.COM - Utusan khusus Presiden Amerika Serikat memperingatkan bahwa Iran kini berada di ambang kemampuan memproduksi bahan bom nuklir tingkat militer.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya tekanan militer Washington dan upaya diplomasi yang kembali dibuka.
Utusan khusus Steve Witkoff mengatakan Iran bisa saja hanya berjarak sekitar satu pekan dari memproduksi material nuklir berkadar senjata. Ia menyampaikan peringatan tersebut dalam wawancara dengan Fox News.
Menurut Witkoff, Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen kemurnian fisil, jauh di atas kebutuhan untuk tujuan sipil.
Baca juga: Bupati Gorontalo Buka Akses 10 Ribu Lowongan Kerja ke Korea Selatan
“Mereka mungkin hanya seminggu lagi dari memiliki material tingkat industri untuk pembuatan bom, dan itu sangat berbahaya,” ujarnya.
Trump Dinilai “Penasaran” Mengapa Iran Tak Menyerah
Witkoff juga mengungkapkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, mempertanyakan mengapa Teheran belum juga melunak meski tekanan militer Amerika terus ditingkatkan.
Ia menegaskan Trump tidak ingin disebut frustrasi, karena menurutnya Washington memiliki banyak opsi.
Namun, Trump disebut “penasaran” mengapa Iran belum menyerah di bawah tekanan kekuatan militer AS yang besar di kawasan.
“Dengan kekuatan laut dan angkatan laut sebesar itu di sana, mengapa mereka belum datang kepada kami dan berkata: kami tidak ingin senjata nuklir, ini yang siap kami lakukan?” kata Witkoff.
Sengketa Pengayaan Uranium
Pernyataan tersebut muncul saat Amerika Serikat meningkatkan kehadiran angkatan laut dan udara di Timur Tengah, serta menyiapkan rencana kontinjensi jika diperlukan kampanye udara terhadap Iran.
Di sisi lain, Iran memperingatkan akan membalas setiap serangan terhadap pangkalan AS di kawasan.
Baca juga: Presiden Meksiko Tetap Percaya Diri Sambut Piala Dunia Meski Kartel Narkoba Mengamuk
Upaya diplomatik tetap berjalan paralel. Perundingan tidak langsung kembali digelar di Oman dan kemudian berlanjut di Jenewa bulan ini.
Namun kedua pihak mengakui masih ada perbedaan besar, terutama soal pencabutan sanksi dan batas pengayaan uranium.
Washington menuntut Iran menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya tinggi dan menerima pembatasan lebih ketat.
Pemerintah AS menilai material tersebut dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Sebaliknya, Teheran menegaskan program nuklirnya bertujuan damai dan menolak tuntutan penghentian total pengayaan.
Teheran Tolak Strategi Tekanan
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan negaranya tidak akan tunduk pada ancaman dan tekanan militer. Ia menyerukan persatuan nasional menghadapi tekanan eksternal.
Iran menolak tuntutan “zero enrichment” atau nol pengayaan yang diajukan Washington.
Meski demikian, sejumlah pejabat Iran memberi sinyal kemungkinan kompromi, seperti menurunkan tingkat kemurnian uranium atau mengekspor sebagian stoknya, asalkan sanksi dicabut secara bertahap.
Teheran juga menolak mengaitkan pembatasan nuklir dengan program rudal atau aliansi regionalnya.
Pertemuan dengan Oposisi Iran
Dalam wawancara tersebut, Witkoff turut mengonfirmasi bahwa ia bertemu tokoh oposisi Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, atas arahan Trump.
Pahlavi, putra shah terakhir Iran, selama ini mendorong tindakan lebih tegas AS terhadap kepemimpinan ulama di Teheran dan menyatakan intervensi militer dapat membantu menggulingkan pemerintahan saat ini.
Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam ketegangan baru: diplomasi berjalan, tetapi bayang-bayang konfrontasi militer tetap menguat.
Dengan klaim bahwa Iran hanya berjarak hitungan hari dari material tingkat senjata, tekanan terhadap negosiasi pun semakin meningkat. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.