Berita Nasional
Bupati Ngada Bantah Siswa SD Meninggal karena Tak Punya Alat Tulis
Bupati Ngada, Raymundus Bena, menegaskan bahwa kabar yang menyebut seorang siswa sekolah dasar berinisial YBR (10) mengakhiri hidup
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/SISWA-SD-MENINGGAL-Kepala-Dinas-Kependudukan-dan-Pencatatan-sipil.jpg)
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Ngada menyatakan akan menanggung pelaksanaan ritual adat yang berkaitan dengan kematian korban.
Dalam tradisi masyarakat setempat, kematian yang dianggap tidak wajar memerlukan prosesi adat khusus yang harus dilaksanakan secara layak.
Bupati juga mengimbau masyarakat dan media untuk tidak menyebarluaskan foto maupun video korban serta menghindari penyebaran spekulasi yang dapat memperburuk kondisi psikologis keluarga.
Ia meminta semua pihak memberikan ruang kepada aparat penegak hukum untuk menuntaskan penyelidikan.
Polres Ngada diketahui telah memeriksa sejumlah pihak, termasuk ibu korban, nenek korban, kepala desa, kepala sekolah, serta beberapa pihak lain.
Hingga kini, hasil pemeriksaan tersebut belum disampaikan secara resmi kepada publik.
Baca juga: Putusan Cerai Reza Arap Viral Hingga Terungkap Hubungan dengan Sosok Sahabat Wendy
Kasus ini juga mendapat perhatian Kementerian Dalam Negeri yang menurunkan staf khusus untuk melakukan penelusuran lebih lanjut terhadap peristiwa tersebut.
Berdasarkan kronologi yang disampaikan pemerintah daerah, sehari sebelum kejadian, sekolah meminta korban menyampaikan kepada ibunya agar mencairkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).
Namun, pencairan dana tersebut tidak dapat dilakukan karena data kependudukan korban masih tercatat di wilayah lain sehingga memerlukan dokumen tambahan.
Korban sempat menanyakan kepada ibunya mengenai proses pencairan bantuan tersebut.
Karena dana belum bisa dicairkan, korban kemudian memilih tidak masuk sekolah dan kembali ke pondok tempat tinggal bersama neneknya.
Pada Kamis pagi sekitar pukul 09.00 Wita, warga sempat melihat korban duduk di depan pondok dan mengaku mengalami pusing.
Sekitar pukul 11.00 Wita, warga menemukan korban dalam kondisi tergantung dan telah meninggal dunia.
Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa tersebut.
Ia menilai kejadian tersebut menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan berbagai unsur sosial untuk memperkuat perlindungan terhadap masyarakat, khususnya anak-anak.
Gubernur menegaskan pentingnya optimalisasi berbagai program sosial agar mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Ia juga meminta seluruh perangkat daerah meningkatkan kepekaan sosial serta memastikan peristiwa serupa tidak terulang kembali.
(*)