Harga Emas
Harga Emas Terus Meroket di Awal 2026, Apakah Tren Kenaikan Bertahan Sepanjang Tahun?
Harga emas melonjak tajam sejak awal 2026 dan mencetak rekor baru. Investor bertanya-tanya, akankah tren kenaikan ini bertahan hingga akhir tahun?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Harga-emas-melonjak-tajam-sejak-awal-2026-dan-mencetak-rekor-baru.jpg)
Ringkasan Berita:
- Harga emas Antam tembus Rp 3.168.000 per gram, emas dunia naik hampir 100 persen tahunan.
- Analis memproyeksikan emas global bisa capai 6.500 dolar AS, Antam berpeluang ke Rp 4,2 juta/gram.
- Ketegangan geopolitik, pelemahan dolar AS, dan potensi penurunan suku bunga jadi penopang utama.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Harga emas, baik di pasar global maupun domestik, menunjukkan lonjakan tajam sejak awal 2026.
Kenaikan signifikan ini memicu pertanyaan di kalangan investor: apakah tren penguatan harga emas akan berlanjut hingga akhir tahun?
Pada Kamis (29/1/2026), harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mencatat rekor tertinggi, menembus Rp 3.168.000 per gram, melonjak Rp 165.000 dibandingkan hari sebelumnya.
Baca juga: Tak Perlu Bingung, Ini 2 Cara Registrasi SIM Card Biometrik Lewat Gerai Operator dan Aplikasi
Sementara itu, harga emas dunia di pasar spot juga melesat hingga sekitar 5.550 dollar AS per troy ons, atau naik hampir 100 persen secara tahunan.
Melihat tren tersebut, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas dunia masih berpeluang menguat signifikan sepanjang 2026.
Ia memproyeksikan harga emas global dapat mencapai 6.500 dollar AS per troy ons, sedangkan harga emas Antam berpotensi menembus Rp 4,2 juta per gram.
“Kini proyeksi tersebut saya naikkan menjadi Rp 4,2 juta per gram di tahun 2026,” ujar Ibrahim, Kamis (29/1/2026), dikutip dari Kontan.co.id.
Baca juga: Harga Emas Antam Jumat 30 Januari 2026: Stabil Rp 3,168 Juta per Gram, Simak Daftar Lengkap
Faktor Global Penopang Kenaikan Harga Emas
Penguatan harga emas tidak lepas dari berbagai tekanan global yang terus membayangi perekonomian dunia.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, konflik berkepanjangan Rusia–Ukraina, hingga dinamika politik di Asia Timur membuat emas semakin diminati sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Selain faktor geopolitik, memanasnya kembali perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Uni Eropa, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang turut memberikan tekanan terhadap nilai dolar AS.
Pelemahan dolar, yang kini berada di level terendah dalam hampir empat tahun terakhir, membuat emas menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga mendorong permintaan global.
Baca juga: Liverpool Siapkan 100 Juta Euro untuk Gaet Gelandang Real Madrid
Perubahan kepemimpinan di Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat pada 2026 juga membuka peluang kebijakan moneter yang lebih longgar.
Potensi penurunan suku bunga acuan secara agresif menjadi sentimen positif tambahan bagi emas, mengingat logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
“Penurunan suku bunga dan melemahnya dolar akan menjadi alasan kuat bagi investor untuk meningkatkan eksposur ke emas,” tambah Ibrahim.