Longsor Cisarua
Nama-nama Korban Meninggal Akibat Longsor Cisarua Bandung Barat, 4 Anggota Marinir
Tragedi memilukan menyelimuti Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, setelah bencana longsor dan banjir bandang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Petugas-menurunkan-kantong-jenazah-dari-m.jpg)
(Catatan: Nama 4 anggota Marinir yang gugur sedang dalam proses administrasi internal TNI AL sebelum dirilis secara detail ke publik bersama 11 korban di atas).
Baca juga: 23 Anggota Marinir Jadi Korban Longsor Bandung Barat Saat Simulasi Penugasan Perbatasan RI-PNG
Kronologi dan Detail Penanganan
Bencana besar ini bermula dari hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur wilayah Bandung Barat sejak Jumat malam (23/1/2026).
Tingginya curah hujan menyebabkan kondisi tanah di perbukitan Cisarua menjadi jenuh air dan kehilangan stabilitasnya.
Tepat pada pukul 03.00 WIB, dentuman keras terdengar saat lereng bukit runtuh dan menerjang permukiman di bawahnya.
Aliran banjir bandang yang menyertai longsor membuat kerusakan semakin masif, menyapu apa saja yang ada di jalur aliran air.
Desa Pasirlangu menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, di mana puluhan rumah rata dengan tanah.
Di lokasi inilah, 23 personel Marinir TNI AL dilaporkan berada saat bencana terjadi.
KSAL Laksamana Muhammad Ali menyebutkan para prajurit tersebut tengah menjalankan tugas penting di wilayah Jawa Barat.
"Kami berkoordinasi erat dengan Menhan dan Panglima TNI untuk langkah penanganan darurat ini," kata Ali.
Sebanyak 25 kantong jenazah telah diterima oleh Pos DVI hingga Minggu sore pukul 17.00 WIB.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, menjelaskan bahwa tiga jenazah utuh ditemukan pada pencarian terakhir hari Minggu.
Dari total jenazah yang masuk, baru 11 orang yang berhasil dipastikan identitasnya secara lengkap.
Sisanya masih menunggu hasil tes DNA dan pencocokan data medis lainnya oleh tim ahli.
Tantangan terbesar adalah adanya jenazah yang ditemukan dalam kondisi tidak utuh, seperti kasus M. Kori yang teridentifikasi dari potongan tangan.
Untuk jenazah berupa potongan tubuh, tim DVI memerlukan waktu ekstra guna memastikan kecocokan data ante mortem.
Pencarian sempat dihentikan sementara pada Minggu malam karena faktor keselamatan tim SAR.
Risiko longsor susulan sangat tinggi apabila hujan kembali turun di area puncak bukit.
Namun, operasi kembali dilanjutkan pada Senin pagi dengan pengerahan kekuatan penuh.
Tim SAR gabungan melibatkan personel dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan pecinta alam.
Penggunaan alat berat masih terbatas karena akses jalan yang sempit dan tertutup lumpur licin.