Pesawat ATR Indonesia Air Jatuh
Florencia Lolita Wibisono Meninggal Dunia, Sosok Pramugari Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Pangkep
Florencia Lolita Wibisono, dikonfirmasi meninggal dunia dalam insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Jasad-korban-sudah-berada-di-Makassar-dan-siap-diserahkan-ke-keluarga.jpg)
Ringkasan Berita:
- Jenazah Florencia Lolita Wibisono, pramugari pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport, berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan
- Biddokes Polda Sulsel dan Pusindent Bareskrim Polri telah mengonfirmasi identitas korban secara sah melalui pencocokan sidik jari
- Florencia dikenal sebagai pramugari senior dengan pengalaman terbang selama 14 tahun di Lion Air
TRIBUNGORONTALO.COM – Duka mendalam menyelimuti dunia penerbangan tanah air setelah pramugari senior, Florencia Lolita Wibisono, dikonfirmasi meninggal dunia dalam insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500.
Pesawat nahas milik Air Indonesia Transport tersebut dilaporkan jatuh di kawasan pegunungan Bulusaraung, tepatnya di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, pada Sabtu (17/1/2026).
Setelah melalui proses pencarian yang sangat sulit di medan ekstrem, jenazah Florencia Lolita Wibisono akhirnya berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan.
Korban ditemukan di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Bulusaraung, sebuah titik yang dikenal memiliki kemiringan sangat terjal dan berbahaya.
Salah satu saksi kunci penemuan ini adalah Serda Marinir Syamsul Alam, anggota tim SAR SRU 1 yang berjumlah 18 orang petugas.
Serda Marinir Syamsul Alam, yang merupakan awak Elevasi Cuk 2 Ton 2 Yonmarhanlan Makassar Kodaeral VI, menjadi saksi mata betapa sulitnya proses pencarian di lokasi tersebut.
Ia mengaku menemukan posisi jenazah berada di dalam jurang yang cukup dalam dan sulit dijangkau dengan peralatan biasa.
"Kami menemukan posisi korban sekitar jam 2 siang," ungkap Serda Mar Syamsul Alam saat ditemui di Pos AJU Basarnas Makassar, Desa Tompobulu, Senin (19/1/2026) malam dikutip TribunGorontalo.com dari Tribun-Timur.com, Rabu.
Penemuan jenazah Florencia bermula saat salah satu personel SAR dari ARAI Sulsel, Saiful Malik, melihat tanda-tanda keberadaan korban di dasar jurang.
Kondisi cuaca di lokasi kejadian saat itu digambarkan sangat tidak mendukung dan menjadi kendala utama bagi tim evakuasi di lapangan.
"Cuacanya sangat berkabut, jarak pandang terbatas, dan jalan sangat terjal serta curam di kedalaman 300 hingga 500 meter," tambahnya.
Setelah memastikan bahwa itu adalah jasad korban, Syamsul Alam dan rekan-rekan tim SAR segera berinisiatif untuk menutup jenazah dengan peralatan seadanya guna menjaga martabat korban.
Proses evakuasi dari dasar jurang menuju titik aman memerlukan waktu berjam-jam karena kondisi fisik medan yang sangat menguras tenaga.
Setelah berhasil dievakuasi dari puncak pegunungan, jenazah Florencia Lolita Wibisono langsung dibawa menuju RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi lebih lanjut.