Berita Katolik
Paus Leo XIV Pidato State of World di Hadapan Diplomat, Kecam Penggunaan Kekuatan Militer
Paus Leo XIV menyampaikan pidato pertamanya kepada para diplomat yang terakreditasi di Takhta Suci,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Paus-Leo-XIV-bersama-para-duta-besar-dddd.jpg)
Titik rawan utama lainnya termasuk program nuklir Korea Utara, klaim maritim yang melibatkan banyak negara (China, Vietnam, Filipina, dll.), dan persaingan strategis yang lebih luas yang melibatkan AS, menciptakan lingkungan keamanan yang kompleks.
Secara khusus, Paus Leo XIV, menyebut Myanmar dalam pidatonya. "Pikiran saya secara khusus tertuju pada krisis kemanusiaan dan keamanan yang parah yang melanda Myanmar," katanya.
Maka Paus Leo XIV yang pidatonya menyoroti berbagai persoalan dunia itu, kembali menyerukan agar jalan perdamaian dan dialog inklusif dipilih dengan berani, sehingga dapat menjamin kesejahteraan semua orang. "Terlepas dari situasi tragis yang ada di depan mata kita, perdamaian tetap merupakan kebaikan yang sulit namun realistis. Upaya perdamaian membutuhkan kerendahan hati dan keberanian," katanya.
Pertumpahan Darah
Takhta Suci melihat bahwa situasi Ukraina di lapangan semakin tragis. Pertumpahan darah terus berlangsung. Rakyat lah yang menjadi korban, tidak hanya materiil maupun non-materiil.
Karena itu, Takhta Suci kembali mendesak segera diadakan gencatan senjata. "Lalu diikuti dialog yang tulus dan jujur untuk mencari jalan bagi terciptanya perdamaian," kata Paus.
Paus Leo XIV menyerukan kepada komunitas internasional untuk tidak goyah, dan menegaskan kembali kesediaan Takhta Suci untuk "mendukung setiap inisiatif yang mempromosikan perdamaian dan harmoni."
Sementara itu, menyinggung situasi di Tanah Suci, Paus Leo XI mencatat bahwa meskipun gencatan senjata diumumkan pada bulan Oktober, warga sipil terus mengalami "krisis kemanusiaan yang serius." Paus menegaskan kembali perhatian pada inisiatif yang bertujuan untuk menjamin warga Palestina di Gaza "masa depan perdamaian dan keadilan yang langgeng."
Dalam pidatonya itu, Paus XIV juga menegaskan kembali bahwa solusi dua negara tetap menjadi perspektif kelembagaan untuk memenuhi aspirasi Palestina dan Israel. Ia mengatakan Vatikan sangat memperhatikan setiap inisiatif diplomatik yang berupaya menjamin bagi warga Palestina di Jalur Gaza “masa depan perdamaian dan keadilan yang langgeng di tanah mereka sendiri, serta bagi seluruh rakyat Palestina dan seluruh rakyat Israel.”
Namun sayangnya, menurut Paus Leo XIV, telah terjadi peningkatan kekerasan di Tepi Barat terhadap penduduk sipil Palestina, yang berhak untuk hidup damai di tanah mereka sendiri. Ia merujuk pada serangan baru-baru ini oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat, ditambah dengan persetujuan proyek pemukiman di dekat Yerusalem minggu ini yang secara efektif akan membagi Tepi Barat menjadi dua bagian – yang akan membuat solusi dua negara hampir mustahil.
Telah Terkikis
Menurut Paus Leo XIV, prinsip yang ditetapkan setelah PD II, yang melarang negara-negara menggunakan kekerasan untuk melanggar perbatasan negara lain, telah terkikis. Sekarang ini, perdamaian tidak lagi dicari sebagai anugerah dan tujuan mulia yang diinginkan, atau dalam upaya "membangun alam semesta yang teratur sesuai kehendak Tuhan, dengan bentuk keadilan yang lebih sempurna di antara pria dan wanita."
"Sebaliknya, perdamaian dicari melalui senjata sebagai syarat untuk menegaskan kekuasaan sendiri. Hal ini sangat mengancam supremasi hukum, yang merupakan fondasi dari semua kehidupan sipil yang damai," kata Paus Leo XIV, yang menduduki Takhta Petrus sejak 8 Mei 2025, menggantikan Paus Franciskus yang berpulang tanggal 21 April 2025.
Di bagian lain, Paus Leo XIV mengatakan, "Takhta Suci dengan tegas mengulangi kecamannya terhadap segala bentuk keterlibatan warga sipil dalam operasi militer. Takhta Suci juga berharap agar masyarakat internasional mengingat bahwa perlindungan prinsip kekudusan martabat manusia dan kesucian hidup selalu lebih penting daripada kepentingan nasional semata."
Tantangan Keluarga
| Paus Leo XIV Akhiri Tahun Jubelium Pengharapan 2025, Tutup Pintu Suci Basilika St Petrus Vatikan |
|
|---|
| Paus Leo XIV Serukan Perdamaian, Desak Rusia dan Ukraina Berdialog dan Akhiri Perang |
|
|---|
| Paus Leo XIV Berikan Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice ke Sejumlah Tokoh, Ada Muliawan Margadana |
|
|---|
| Dubes RI Untuk Vatikan Keluarkan Ajakan Ini ke Penyelenggara Tour ke Roma dan Pastor Pendamping |
|
|---|
| Komisi Kerawam KWI Gelar Pertemuan Nasional, Dorong Umat Katolik Pilih Sekolah Kedinasan |
|
|---|