Rabu, 25 Maret 2026

Berita Katolik

Paus Leo XIV Pidato State of World di Hadapan Diplomat, Kecam Penggunaan Kekuatan Militer

Paus  Leo XIV menyampaikan pidato pertamanya kepada para diplomat yang terakreditasi di Takhta Suci,

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Paus Leo XIV Pidato State of World di Hadapan Diplomat, Kecam Penggunaan Kekuatan Militer
KBRI Vatikan/Vatican Media
FOTO BERSAMA - Paus Leo XIV bersama para duta besar di Kapel Sistina setelah menyampaikan pidato tahunannya di Hall of Benedictione, Vatikan (Vatican Media) 

Titik rawan utama lainnya termasuk program nuklir Korea Utara, klaim maritim yang melibatkan banyak negara (China, Vietnam, Filipina, dll.), dan persaingan strategis yang lebih luas yang melibatkan AS, menciptakan lingkungan keamanan yang kompleks.

Secara khusus,  Paus Leo XIV, menyebut Myanmar dalam pidatonya. "Pikiran saya secara khusus tertuju pada krisis kemanusiaan dan keamanan yang parah yang melanda Myanmar," katanya.

Maka Paus Leo XIV yang pidatonya menyoroti berbagai persoalan dunia itu, kembali  menyerukan agar jalan perdamaian dan dialog inklusif dipilih dengan berani, sehingga dapat menjamin kesejahteraan semua orang. "Terlepas dari situasi tragis yang ada di depan mata kita, perdamaian tetap merupakan kebaikan yang sulit namun realistis. Upaya perdamaian membutuhkan kerendahan hati dan keberanian," katanya.

Pertumpahan Darah

Takhta Suci melihat bahwa situasi Ukraina di lapangan semakin tragis. Pertumpahan darah terus berlangsung. Rakyat lah yang menjadi korban, tidak hanya materiil maupun non-materiil. 

Karena itu, Takhta Suci kembali mendesak segera diadakan gencatan senjata. "Lalu diikuti dialog yang tulus dan jujur untuk mencari jalan bagi terciptanya perdamaian," kata Paus.

Paus Leo XIV  menyerukan kepada komunitas internasional untuk tidak goyah, dan menegaskan kembali kesediaan Takhta Suci untuk "mendukung setiap inisiatif yang mempromosikan perdamaian dan harmoni." 

Sementara itu, menyinggung situasi di  Tanah Suci, Paus Leo XI mencatat bahwa meskipun gencatan senjata diumumkan pada bulan Oktober, warga sipil terus mengalami "krisis kemanusiaan yang serius." Paus  menegaskan kembali perhatian pada inisiatif yang bertujuan untuk menjamin warga Palestina di Gaza "masa depan perdamaian dan keadilan yang langgeng."

Dalam pidatonya itu, Paus XIV juga   menegaskan kembali bahwa solusi dua negara tetap menjadi perspektif kelembagaan untuk memenuhi aspirasi Palestina dan Israel. Ia mengatakan Vatikan sangat memperhatikan setiap inisiatif diplomatik yang berupaya menjamin bagi warga Palestina di Jalur Gaza “masa depan perdamaian dan keadilan yang langgeng di tanah mereka sendiri, serta bagi seluruh rakyat Palestina dan seluruh rakyat Israel.” 

Namun sayangnya, menurut Paus Leo XIV, telah terjadi peningkatan kekerasan di Tepi Barat terhadap penduduk sipil Palestina, yang berhak untuk hidup damai di tanah mereka sendiri. Ia merujuk pada serangan baru-baru ini oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat, ditambah dengan persetujuan proyek pemukiman di dekat Yerusalem minggu ini yang secara efektif akan membagi Tepi Barat menjadi dua bagian – yang akan membuat solusi dua negara hampir mustahil.

Telah Terkikis

Menurut Paus Leo XIV, prinsip yang ditetapkan setelah PD II, yang melarang negara-negara menggunakan kekerasan untuk melanggar perbatasan negara lain, telah terkikis. Sekarang ini, perdamaian tidak lagi dicari sebagai anugerah dan tujuan mulia yang diinginkan, atau dalam upaya "membangun alam semesta yang teratur sesuai kehendak Tuhan, dengan bentuk keadilan yang lebih sempurna di antara pria dan wanita."

"Sebaliknya, perdamaian dicari melalui senjata sebagai syarat untuk menegaskan kekuasaan sendiri. Hal ini sangat mengancam supremasi hukum, yang merupakan fondasi dari semua kehidupan sipil yang damai," kata Paus Leo XIV, yang menduduki Takhta Petrus sejak 8 Mei 2025, menggantikan Paus Franciskus yang berpulang tanggal 21 April 2025.

Di bagian lain, Paus Leo XIV mengatakan, "Takhta Suci dengan tegas mengulangi kecamannya terhadap segala bentuk keterlibatan warga sipil dalam operasi militer. Takhta Suci juga berharap agar masyarakat internasional mengingat bahwa perlindungan prinsip kekudusan martabat manusia dan kesucian hidup selalu lebih penting daripada kepentingan nasional semata."

Tantangan Keluarga

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved