Minggu, 15 Maret 2026

Orang Hanyut di Gorontalo

Sumitra dan Anaknya Belum Ditemukan, Namun Operasi SAR di Sungai Paguyaman Terpaksa Ditutup

Operasi pencarian terhadap dua korban yang dilaporkan hanyut di Sungai Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Sumitra dan Anaknya Belum Ditemukan, Namun Operasi SAR di Sungai Paguyaman Terpaksa Ditutup
TribunGorontalo.com
ORANG HANYUT--TIM SAR Gorontalo menghentikan pencarian orang hanyut di Sungai Paguyaman Kabupaten Boalemo, Jumat (9/1/2026). Sumber foto: Basarnas Gorontalo. 
Ringkasan Berita:
  • Basarnas Gorontalo resmi menghentikan operasi pencarian dua korban hanyut di Sungai Paguyaman setelah tujuh hari tanpa hasil. 
  • Keputusan diambil usai evaluasi menyeluruh dan kesepakatan bersama keluarga korban. 
  • Meski operasi ditutup, Basarnas memastikan pemantauan tetap dilakukan jika muncul informasi baru terkait keberadaan korban.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Operasi pencarian terhadap dua korban yang dilaporkan hanyut di Sungai Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, resmi dihentikan oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Gorontalo.

Keputusan ini diambil setelah upaya pencarian selama tujuh hari tidak membuahkan hasil.

Kepala Seksi Operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Gorontalo, Halidin La Bidu, mengatakan bahwa hingga hari terakhir operasi, keberadaan kedua korban belum berhasil dilacak. Pernyataan tersebut disampaikannya saat dikonfirmasi pada Jumat (9/1/2026).

Menurut Halidin, kegiatan pencarian pada hari penutupan operasi dimulai sejak pagi hari dan berlangsung hingga sekitar pukul 11.30 Wita.

Setelah itu, seluruh unsur SAR kembali ke posko utama karena hasil pencarian masih nihil.

“Pencarian hari ini dilakukan sejak pagi sampai sekitar pukul 11.30 Wita. Setelah itu tim kembali ke posko, namun hasilnya belum ada,” ujar Halidin.

Baca juga: Empat Srikandi OPD Dipanggil Gusnar Jelang Jelang Perombakan Struktur Organisasi Pemprov Gorontalo

Ia menjelaskan, sejak hari pertama operasi hingga hari terakhir, tim SAR telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh area pencarian yang telah disisir.

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, tidak ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada keberadaan korban.

“Dengan mempertimbangkan luas wilayah pencarian yang sudah dijangkau sejak hari pertama, kami menyimpulkan belum ada indikasi keberadaan korban di area tersebut,” katanya.

Atas dasar itu, Basarnas Gorontalo kemudian menggelar pertemuan bersama keluarga korban yang hadir langsung di posko pencarian.

Dalam pertemuan tersebut turut hadir ayah dan suami korban, kerabat keluarga, serta Kepala Desa setempat.

“Sekitar pukul 14.30 Wita kami melakukan pertemuan dengan keluarga korban dan mengusulkan agar operasi SAR dihentikan,” jelas Halidin.

Setelah mendapat persetujuan keluarga, operasi SAR dinyatakan resmi ditutup pada pukul 14.30 Wita.

Meski demikian, Halidin menegaskan bahwa penghentian ini tidak bersifat permanen.

“Operasi SAR memang kami hentikan, namun tetap dilanjutkan dengan pemantauan. Jika ke depan ada informasi baru atau tanda-tanda keberadaan korban, maka operasi bisa kembali dibuka,” ujarnya.

Pada hari terakhir pencarian, tim SAR melakukan penyisiran mulai dari lokasi kejadian perkara (LKP) hingga menyusuri aliran Sungai Paguyaman ke arah wilayah Jemara. Pencarian melibatkan sekitar 40 personel gabungan dari berbagai unsur.

“Personel Basarnas sekitar 14 orang, ditambah unsur TNI, Polri, dan potensi SAR lainnya. Total personel yang terlibat kurang lebih 40 orang,” kata Halidin.

Selama proses pencarian, tim menghadapi sejumlah kendala di lapangan, terutama kondisi arus sungai yang masih cukup deras. Hal ini dipengaruhi oleh cuaca yang belum stabil dalam beberapa hari terakhir.

“Saat kejadian, arus sungai memang masih deras akibat hujan. Dalam proses pencarian pun beberapa kali hujan deras kembali turun di lokasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut membuka kemungkinan korban terseret arus hingga jarak yang jauh atau tertimbun material sungai akibat banjir.

“Debit air cukup tinggi dan arusnya kuat. Ada kemungkinan korban sudah terbawa jauh atau tertimbun material di dasar sungai,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Halidin mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat beraktivitas di sekitar sungai di tengah kondisi cuaca yang belum menentu.

“Kami mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap kondisi cuaca dan pergerakan air sungai, serta mengawasi anggota keluarga, terutama anak-anak, saat hujan atau cuaca tidak baik,” katanya.

Diketahui, korban dalam peristiwa ini adalah Sumitra Isini (26) dan anaknya, Akbar Diangi (9). Keduanya dilaporkan hanyut sejak Sabtu (3/1/2026).

Insiden tersebut terjadi saat korban bersama seorang kerabat menyeberangi Sungai Paguyaman. Ketiganya saling berpegangan tangan saat melintas di tengah arus sungai, namun derasnya aliran membuat pegangan mereka terlepas.

Akbar sempat berteriak memanggil ibunya sebelum akhirnya terseret arus.

Sumitra kemudian melepaskan pegangan untuk mencoba menolong sang anak, tetapi arus sungai yang kuat justru menyeret keduanya. 

Sementara satu orang lainnya berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan pada batang kayu di sungai.

Selama operasi berlangsung, tim SAR sempat menemukan beberapa barang milik korban di aliran sungai.

Namun hingga hari ketujuh pencarian, Sumitra dan Akbar belum berhasil ditemukan.

Bagi keluarga, peristiwa ini meninggalkan duka mendalam. Sehari sebelum kejadian, Sumitra diketahui masih sempat melakukan panggilan video dengan kerabatnya.

Percakapan singkat tersebut kini menjadi kenangan terakhir yang tersisa bagi keluarga. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Minggu, 15 Maret 2026 (25 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:04
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved