Banjir di Aceh Utara
Jeritan Bupati Aceh Utara Minta Bantuan: Jangan Biarkan Rakyat Kami Mati Kelaparan
Pasalnya, tak satu pun menteri dari Kabinet Merah Putih yang terlihat mendatangi langsung lokasi bencana dalam 12 hari terakhir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tim-Badan-Amil-Zakat-Nasional-BAZNAS-menyalurkan-logistik-untuk-korban-banjir.jpg)
Ringkasan Berita:
- Bupati Aceh Utara, Ismail Jalil, menyatakan kekecewaan karena belum ada satu pun menteri Kabinet Merah Putih yang mendatangi lokasi bencana sejak 12 hari banjir
- Akses Sulit dan Keterbatasan Bantuan di Aceh Utara
- Bupati Aceh Utara memohon bantuan langsung kepada Presiden Prabowo, menyatakan rakyatnya kelaparan, dan jenazah belum diambil
TRIBUNGORONTALO.COM – Insiden banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara membuat Bupati Ismail Jalil menjerit.
Pasalnya, tak satu pun menteri dari Kabinet Merah Putih yang terlihat mendatangi langsung lokasi bencana dalam 12 hari terakhir.
Melansir pemberitaan Kompas.com, Bupati Ismail kini meminta bantuan kepada Presiden Prabowo.
"Kami mohon pusat dan seluruh rakyat Indonesia bantu Aceh Utara. Pusat selain Basarnas belum hadir ke Aceh Utara. Rakyat saya kelaparan, jenazah rakyat saya belum diambil, tolong dibantu," ungkap Bupati dikutip dari Kompas.com, Kamis (4/12/2025).
Ia menyatakan bahwa ia tidak mengerti mengapa belum ada pejabat pusat yang datang untuk melihat kondisi di lapangan.
"Apakah pejabat pusat tidak tahu? Lalu ada pejabat pusat yang menyatakan banjir tidak parah. Saya emosional, tolong bantu kami. Jangan biarkan rakyat kami mati kelaparan," ungkapnya.
Ismail juga menekankan bahwa dana darurat yang tersedia sangat terbatas dan telah habis digunakan untuk membeli bahan bantuan.
"Rakyat saya tinggal baju di badan. Mereka kehilangan rumah, harta, dan benda. Sekarang sudah bertambah sakit-sakitan. Saya sudah kerahkan semua kekuatan daerah, namun tidak mampu menjangkau seluasnya wilayah ini," tambahnya.
Banjir di Aceh Utara dimulai pada 22 November 2025, dengan beberapa titik masih terisolasi dan sulit dijangkau hingga kini.
Sementara itu, banjir di kabupaten lainnya baru terjadi pada 26 November 2025.
Permintaan bantuan helikopter untuk distribusi bantuan Bupati Aceh Utara mengungkapkan bahwa ia telah meminta bantuan helikopter untuk mendistribusikan bantuan ke daerah pedalaman. Namun, hingga Rabu (3/12/2025), permintaan tersebut belum terealisasi.
"Saya minta helikopter, buat distribusi bantuan ke pedalaman, ke pelosok Langkahan dan daerah lainnya. Tidak ada juga. Hari ini katanya akan ada distribusi lewat helikopter ke Langkahan," kata Ismail, yang akrab disapa Ayahwa, dalam evaluasi penanganan banjir Aceh Utara.
Distribusi bantuan dengan helikopter Koordinator BNPB untuk Kabupaten Aceh Utara, Robi, memastikan bahwa distribusi bantuan menggunakan helikopter sudah masuk dalam agenda operasi.
"Hari ini sudah terjadwal dalam operasi BNPB dari Banda Aceh. Untuk Aceh Utara ada dua titik distribusi bantuan. Soal jadwal disesuaikan dengan rute helikopter," jelas Robi.
Baca juga: 2 Saksi Kasus Oknum ASN Gorontalo Utara Cabut Keterangan, Bantah Berhubungan dengan Amin
Warga Jalan Kaki 2 Hari di Aceh Tengah
Nasib serupa juga dialami oleh masyarakat di Aceh Tengah.
Akibat sulitnya mobilitas kendaraan di tanah berlumpur, para korban banjir harus berjalan kaki selama dua hari penuh demi mendapatkan makanan.
Hal ini disampaikan langsung oleh Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga dalam dialog Sapa Indonesia Pagi KompasTV pada Rabu (3/12/2025).
"Jauh sekali, itu medannya cukup berat," ungkap Bupati.
Aksi nekat warga ini, jelas Haili, merupakan dampak langsung dari bencana yang telah melumpuhkan total wilayah tersebut.
Akses di Aceh Tengah terputus seluruhnya akibat timbunan longsor dan kerusakan infrastruktur.
"Daerah Aceh Tengah ini kan putus semua, tidak ada hubungan dengan darat, tidak ada, hanya satu-satunya jalan udara," ucap Haili.
Kondisi Aceh Tengah saat ini digambarkan Haili benar-benar lumpuh.
Tak hanya akses darat, bencana juga merusak infrastruktur vital seperti jaringan listrik dan internet.
"Jadi, semuanya lumpuh," ujar Bupati.
Keterbatasan bahan pokok inilah yang kemudian memicu kecemasan di kalangan masyarakat.
Haili mengungkapkan bahwa ribuan warga bahkan sempat menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Bupati.
Mereka menyuarakan keluhan karena sebagian besar sudah tidak memiliki stok makanan (beras) dan bahan bakar minyak (BBM).
Menghadapi situasi ini, Haili berupaya menenangkan warga dengan menjelaskan bahwa ini adalah bencana dan musibah bersama yang juga dialami beberapa daerah lain.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dan TribunJambi.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.