KBRI Takhta Suci
Hadiri Algorethics and Governance Konferensi di Vatikan, Luhut Panjaitan : AI Bukan Monster
Ketua Dewan Ekonomi Indonesia Luhut Binsar Panjaitan memberikan pidato pembukaan Konferensi Algorethics and Governance
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Luhut-Panjaitan-889000.jpg)
Tindakan Nyata
Kata Luhut pendidikan merupakan alat untuk meningkatkan kemanusiaan. Untuk itu, di Indonesia telah diperkenalkan sebuah gerakan metode pembelajaran dengan nama GASING (GAmpang, aSIk, menyenaNGkan). Metode ini dikembangkan oleh Yohanes Surya sehingga menjadikan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bukan sebuah ketakutan.
Metode Gasing adalah suatu metode pembelajaran matematika dengan langkah demi langkah yang membuat anak menguasai matematika secara gampang, asyik dan menyenangkan.
Metode ini, misalnya pada tahun 2008, diperkenalkan dan diterapkan pada siswa di Tolikara, Papua, tempat di mana indeks manusianya paling rendah di Indonesia saat itu. Di Tolikara, ketika itu, seorang siswa SMA belum bisa menghitung operasi perkalian 1-10, bahkan mengoperasikan penjumlahan masih belum lancar.
Anak daerah itu dibawa ke Jakarta untuk diberikan pelatihan. Dalam waktu 6 bulan, siswa itu mampu menguasai seluruh materi SD, yang seharusnya diajarkan selama 6 tahun.
Pendidikan dengan menggunakan Metode Gasing ini telah dilakukan di wilayah Indonesia mulai dari Papua sampai dengan Sumatera dimana anak-anak belajar melalui tawa, permainan dan nyanyian. Dengan metode ini pendidikan merupakan alat untuk transformasi dan bukan hanya sebagai informasi.
Berpusat pada Manusia
Sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus beberapa waktu lalu, bahwa AI harus berpusat pada manusia, Luhut menyatakan perlu seruan global untuk pengembangan AI yang berpusat pada manusia. Yakni, melindungi martabat manusia di dalam semua sistem yang dibangun.
Selain itu juga mendorong inklusifitas sehingga setiap komunitas dapat berpartisipasi dalam era AI; Memperkuat pendidikan sebagai pondasi bagi kemajuan yang berkeadilan.
Yang tidak kalah penting, kata Luhut, adalah melestarikan identitas budaya dan jangan membiarkan teknologi menghancurkannya. "AI hendaknya mengangkat kemanusiaan dengan memprioritaskan pada orang-orang yang miskin dan rentan," katanya.
Di akhir pidatonya Luhut mengatakan bahwa konferensi-konferensi saja tidak cukup. Tetapi harus dilanjutkan dengan tindakan nyata. Negara-negara lain, bisa belajar dari Indonesia, misalnya yang sudah menerapkan Metode Gasing.
Sekali lagi, Luhut menegaskan, AI yang merupakan transformasi besar umat manusia "harus tetap sebagai alat" di tangan manusia. (**/KBRI Takhta Suci)
KBRI Takhta Suci
KBRI Vatikan
Ketua Dewan Ekonomi Indonesia
Luhut Binsar Panjaitan
Pontifical Urbaniana University
Scholas Occurentes
| Fantastis! Amerika Rugi Rp 12 Triliun Hanya dalam 24 Jam Serang Iran, Ini Rincian Biayanya |
|
|---|
| Emas di Pohuwato Gorontalo Seakan tak Ada Harga! Curhat Penambang Luntang-lantung Cari Penjual |
|
|---|
| Penyebab Belum Cairnya Gaji Guru dan Tenaga Pendidikan PPPK Paruh Waktu Bone Bolango Gorontalo |
|
|---|
| Jadwal Buka Puasa untuk Kota Gorontalo hingga Popayato Barat Hari Ini Senin 2 Maret 2026 |
|
|---|
| Pemkab Gorontalo Siapkan Rp54 Miliar untuk THR dan Gaji ke-14 ASN |
|
|---|