Ponpes Al Khoziny Ambruk
Data Terkini Korban Ponpes Ambruk di Sidoarjo, 37 Orang Meninggal Dunia
Proses pencarian dan evakuasi korban ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, terus berlangsung
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/1-korban-ambruknya-musala-ponpes-al-khoziny-ditemukan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Proses pencarian dan evakuasi korban ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, terus berlangsung hingga hari ini, Minggu (5/10/2025).
Melansir dari Kompastv, data terbaru yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat angka korban yang signifikan.
Pusat Data BNPB per Minggu (5/10/2025) mencatat total korban yang terdampak reruntuhan bangunan Ponpes Al Khoziny telah mencapai 167 orang.
Dari jumlah tersebut, korban yang ditemukan meninggal dunia berjumlah 37 orang.
BNPB mencatat 37 korban meninggal dunia, sementara 26 santri lainnya masih dalam proses pencarian hingga 5 Oktober 2025.
Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa pembersihan puing ditargetkan selesai pada Senin (6/10/2025).
Baca juga: Nur Hizrah Polisikan 2 Adiknya setelah Lihat Foto Wajah Pencuri Motor NMAX Viral di Facebook
Perjuangan Tim SAR Menjangkau Korban
Tragedi ini terjadi ketika bangunan tiga lantai yang difungsikan sebagai musala ambruk saat para santri sedang melaksanakan salat Asar pada Senin, 29 September 2025.
Tim SAR gabungan terus berjuang mengevakuasi korban yang tertimbun material. Pencarian dilakukan dengan dua metode.
Alat berat Digunakan untuk mengangkat balok beton, plat, dan puing-puing berat lainnya.
Sementara itu, tim lain menyisir korban di lantai dasar dan di bawah reruntuhan setelah puing-puing berat terangkat.
Kepala Basarnas Surabaya, Nanang Avianto, pada Jumat (3/10/2025) mengungkapkan bahwa Tim SAR harus mengangkat puing-puing dan memotong rangka bangunan untuk mengevakuasi korban.
"Kita masih terus berusaha. Alat berat terus bekerja menjangkau sisi depan, atas, dan bagian samping. Sudah sekira 50 persen yang terangkat,” katanya seperti dilansir dari pemberitaan Tribunnews.com.
Korban meninggal ditemukan di antara reruntuhan, seperti dua korban yang ditemukan di dekat area wudu, dan korban lainnya ditemukan berjarak beberapa meter di lantai dasar bangunan.
Baca Juga: Santri Lirboyo Dibiarkan Ikut Ngecor Bangunan Ponpes, Ponpes Sebut Amal Jariyah dan Libatkan Ahli
Dugaan Gagal Struktur
Terkait penyebab ambruknya musala Ponpes Al Khoziny, Kepala Pusat Data BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa bangunan yang ambruk tersebut dinilai gagal struktur.
Hal ini mengindikasikan bahwa perencanaan dan pembangunan gedung tersebut dinilai tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Masalah konstruksi bangun pun menjadi sorotan Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sudjatmiko.
Sudjatmiko mengatakan, peristiwa ini bukan sekadar musibah, tetapi menunjukkan kegagalan sistemik dalam penerapan standar teknis pembangunan.
“Tragedi ini bukan hanya peristiwa duka yang menelan korban, melainkan juga peringatan keras mengenai lemahnya budaya konstruksi aman di Indonesia,” kata Sudjatmiko dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Minggu (5/10/2025).
Menurutnya, dalam disiplin teknik sipil, sebuah bangunan tidak akan runtuh secara tiba-tiba jika seluruh tahapan pembangunan dilakukan sesuai prinsip perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan yang benar.
Dia menegaskan, nyawa manusia tidak boleh lagi melayang hanya karena kelalaian teknis dan ketidaktahuan terhadap prinsip bangunan aman.
“Ambruknya bangunan sering kali buru-buru dilabeli sebagai takdir. Padahal, dalam banyak kasus, penyebab utama justru kegagalan konstruksi,” katanya.
Sudjatmiko menjelaskan sejumlah faktor yang kerap menyebabkan kegagalan bangunan, khususnya pada lembaga pendidikan berbasis komunitas seperti pesantren.
Pertama, perencanaan struktur yang lemah karena banyak bangunan dibangun tanpa melibatkan tenaga ahli teknik sipil.
Kedua, penggunaan material yang tidak sesuai standar, di mana baja tulangan, semen, atau pasir sering diganti demi menekan biaya.
Ketiga, minimnya pengawasan konstruksi, sebab banyak proyek tidak diawasi oleh insinyur bersertifikat.
Keempat, ketidaktahuan terhadap kondisi tanah, yang membuat bangunan tidak didesain sesuai karakteristik lahan.
“Sidoarjo, misalnya, memiliki kontur tanah yang sebagian berupa tanah lunak. Tanah jenis ini membutuhkan pondasi kuat dan desain khusus. Tanpa kajian geoteknik, bangunan bisa amblas atau miring sebelum waktunya,” ucapnya.
Sudjatmiko menekankan bahwa dalam ilmu teknik sipil, kegagalan struktur tidak boleh terjadi jika desain memperhitungkan faktor keamanan (safety factor) yang cukup.
Ambruknya gedung secara mendadak, katanya, menandakan adanya kesalahan serius sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
“Konstruksi pendidikan atau keagamaan seperti pesantren punya beban sosial besar. Setiap kesalahan teknis bukan sekadar bangunan roboh, tapi juga soal nyawa manusia,” bebernya.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dan Kompastv
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.