Jumat, 6 Maret 2026

Berita Internasional

“Amoeba Pemakan Otak” Renggut 19 Nyawa di Kerala, India

Setidaknya 19 orang dilaporkan meninggal akibat infeksi langka yang disebabkan oleh amoeba pemakan otak

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto “Amoeba Pemakan Otak” Renggut 19 Nyawa di Kerala, India
Internasional
AMOEBA - Wabah mematikan melanda Kerala, India. Sudah 19 orang tewas akibat infeksi langka dari amoeba pemakan otak yang hidup di air tawar. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Setidaknya 19 orang dilaporkan meninggal akibat infeksi langka yang disebabkan oleh amoeba pemakan otak di negara bagian Kerala, India selatan.

Kasus ini memicu kekhawatiran akan penyebaran penyakit melalui sumber air tawar.

Menurut Dinas Kesehatan Kerala, hingga September 2025 telah tercatat 70 kasus amoebic meningoencephalitis dengan 19 kematian.

Sembilan pasien meninggal hanya dalam bulan September.

Korban termasuk bayi berusia tiga bulan, anak-anak, hingga seorang perempuan berusia 52 tahun yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit Kozhikode sejak pertengahan Agustus.

Penyakit Mematikan dengan Risiko Tinggi

Infeksi ini dikenal sebagai Primary Amoebic Meningoencephalitis (PAM), disebabkan oleh organisme Naegleria fowleri yang banyak ditemukan di perairan tawar hangat seperti danau, kolam, sungai, serta tanah yang terkontaminasi.

Amoeba masuk ke tubuh melalui rongga hidung, lalu menyerang jaringan otak.

Gejala awal berupa sakit kepala hebat, demam, mual, dan muntah, yang dalam hitungan hari dapat berkembang menjadi kejang, koma, hingga kematian.

Tingkat fatalitas penyakit ini mendekati 97 persen secara global.

Langkah Pemerintah Kerala

Pemerintah negara bagian Kerala meluncurkan program klorinasi massal pada danau, sumur, kolam, serta sumber air tawar lainnya.

Protokol pengobatan khusus untuk kasus PAM juga diperkenalkan, termasuk pemasangan papan peringatan di area berisiko agar masyarakat tidak mandi atau berenang.

Menteri Kesehatan Kerala, Veena George, menegaskan bahwa peningkatan jumlah kasus disebabkan deteksi yang lebih baik, bukan karena epidemi.

“Ini bukan wabah. Justru diagnosis dini sangat penting untuk menyelamatkan nyawa,” ujarnya di hadapan parlemen negara bagian.

Korban Rentan dengan Penyakit Penyerta

Sejumlah pasien yang meninggal diketahui memiliki penyakit bawaan, seperti tuberkulosis, HIV, kanker, penyakit ginjal, diabetes, dan hipertensi.

“Amoeba itu ada di mana-mana. Ia menyerang ketika tubuh kita lemah,” kata seorang pejabat kesehatan Kerala kepada New Indian Express.

Meski jumlah kasus meningkat, dokter menilai tingkat kematian mulai menurun berkat agresivitas tes dan diagnosis dini.

Pada Juli 2024, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun dari Kozhikode tercatat sebagai pasien pertama di India yang berhasil selamat dari PAM, bergabung dengan hanya 10 penyintas lain di seluruh dunia.

Faktor Perubahan Iklim

Pakar kesehatan di Kerala menyebut perubahan iklim sebagai pemicu meningkatnya kasus.

Kenaikan suhu membuat organisme seperti Naegleria fowleri berkembang lebih cepat. Kontaminasi air oleh bakteri dari limbah juga memperburuk situasi.

Kerala sebelumnya hanya mencatat delapan kasus dari 2016 hingga 2022, namun jumlah itu melonjak menjadi 36 kasus dengan sembilan kematian pada 2023.

Dengan tren terbaru, para ahli menilai penyakit mematikan ini bisa menjadi ancaman serius jika tidak ditangani dengan cepat dan terukur. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Jumat, 06 Maret 2026 (16 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:31
Subuh 04:41
Zhuhr 12:03
‘Ashr 15:12
Maghrib 18:05
‘Isya’ 19:14

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved