Pembunuhan Kacab Bank BUMN
Terkuak Peran Oknum TNI dalam Kasus Penculikan Kacab Bank BUMN
Serka N, seorang prajurit TNI, ditetapkan sebagai salah satu tersangka dalam kasus dugaan penculikan dan pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Komandan-Polisi-Militer-Kodam-Jaya-Kolonel-Cpm-Donny-Agus-Priyanto.jpg)
Pada Senin (18/8/2025), Serka N dan Kopda FH bertemu dengan JP di sebuah kafe di Jakarta Timur untuk merencanakan penjemputan. Di sana, JP menjelaskan detail pekerjaan dan imbalan yang akan diterima.
Pada Selasa (19/8/2025), Serka N kembali menghubungi Kopda FH untuk memastikan kesediaannya.
Setelah Kopda FH menyanggupi, ia mulai mengumpulkan tim untuk penjemputan korban. Serka N juga menyerahkan uang operasional sebesar Rp5 juta kepada Kopda FH, yang berasal dari JP.
Peran Serka N semakin jelas saat pada Rabu (20/8/2025), beberapa jam sebelum penjemputan korban, ia menerima uang tunai sebesar Rp95 juta dari JP. Uang tersebut kemudian diserahkan Serka N kepada Kopda FH.
Penemuan Jenazah Korban
Mohamad Ilham Pradipta diculik pada Rabu (20/8/2025) di area parkir Lotte Grosir, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Jenazahnya ditemukan sehari setelahnya, Kamis (21/8/2025), di area persawahan Kampung Karangsambung, Desa Nagasari, Kabupaten Bekasi.
Saat ditemukan, tangan dan kaki korban terikat lakban, matanya tertutup lakban, dan tubuhnya penuh luka lebam. Jenazah korban dimakamkan pada malam harinya setelah diautopsi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.
Motif Pembunuhan Ilham Pradipta
Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Wira Satya Triputra, mengungkap bahwa motif di balik penculikan dan pembunuhan ini adalah pemindahan uang dari rekening dormant ke rekening penampungan.
Rekening dormant adalah rekening yang tidak aktif karena tidak adanya transaksi dalam jangka waktu tertentu.
"Para pelaku atau tersangka berencana melakukan pemindahan uang dari rekening dormant ke rekening penampungan yang telah dipersiapkan," ungkap Wira.
Kasus ini berawal dari pertemuan pelaku C alias Ken dan Dwi Hartono pada Juni 2025. Ken berencana memindahkan uang dari rekening dormant dengan bantuan tim IT.
Namun, untuk menjalankan rencana tersebut, mereka memerlukan persetujuan dari kepala bank. Oleh karena itu, C alias Ken mengajak Dwi Hartono untuk mencari kepala cabang yang bisa diajak bekerja sama.
Saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, 15 tersangka, termasuk dua oknum TNI, ditampilkan di hadapan media. Mereka mengenakan baju tahanan berwarna oranye dan terlihat tertunduk. Semua tersangka saat ini telah ditahan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Daftar Tersangka dan Klaster