Satelit Indonesia
Indonesia Luncurkan Satelit N5 Jadi Terbesar di Asia Tenggara, Miliki Internet 160 Gbps
Satelit Nusantara Lima (N5) milik Indonesia resmi diluncurkan stasiun antariksa Cape Canaveral, Amerika Serikat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-Satelit-Nusantara-Lima-frfrfrf.jpg)
“Setiap satelit yang mengorbit Bumi harus bergerak dengan kecepatan tertentu agar tetap berada di lintasannya. Kecepatan ini bergantung pada ketinggian orbit,” ujar Satriya dalam Pelatihan Dasar Operasi Satelit LEO, Rabu (10/9).
Misalnya, satelit di orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO) sekitar 600 km dari permukaan Bumi harus melaju sekitar 7,56 km/detik. Sebaliknya, satelit di orbit geostasioner (GEO) yang berada 35.786 km di atas Bumi hanya perlu kecepatan sekitar 3,075 km/detik.
“Semakin rendah orbit, semakin besar tarikan gravitasi, sehingga satelit harus bergerak lebih cepat. Sebaliknya, di orbit tinggi kecepatan yang dibutuhkan lebih rendah,” jelas Satriya.
Dasar Ilmu: Hukum Kepler dan Gravitasi Newton
Orbit satelit diatur oleh dua hukum utama: Hukum Kepler dan Gravitasi Newton.
- Hukum Kepler menyatakan bahwa planet dan satelit bergerak pada lintasan elips, dengan pusat massa di salah satu fokus.
- Gravitasi Newton menyebutkan bahwa semua benda bermassa saling tarik-menarik.
Dari hukum ini, lahirlah konsep penting seperti kecepatan orbit dan kecepatan lepas (escape velocity), yang menentukan apakah sebuah benda akan tetap mengorbit atau justru meninggalkan tarikan gravitasi Bumi.
Tantangan: Orbit Tidak Sepenuhnya Stabil
Meskipun tampak “diam” di angkasa, orbit satelit tidak benar-benar stabil. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya:
- Hambatan atmosfer: Meski tipis, atmosfer di ketinggian rendah masih dapat memperlambat satelit, membuatnya perlahan turun.
- Bentuk Bumi yang tidak sempurna: Distribusi massa Bumi yang tidak merata menyebabkan orientasi orbit berubah sedikit demi sedikit.
Jenis-Jenis Orbit Satelit
Menurut Satriya, setiap misi satelit membutuhkan jenis orbit yang berbeda. Beberapa di antaranya:
- LEO (Low Earth Orbit): 400–1500 km dari Bumi, cocok untuk satelit penginderaan jauh. Satelit di orbit ini mengitari Bumi dalam 90–100 menit dan hanya bisa berkomunikasi dengan stasiun bumi selama 10–20 menit per lintasan.
- MEO (Medium Earth Orbit): Umumnya digunakan untuk sistem navigasi seperti GPS.
- GEO (Geostationary Orbit): 35.786 km dari Bumi. Satelit tampak “diam” di atas satu titik ekuator, ideal untuk komunikasi dan siaran langsung.
- SSO (Sun-Synchronous Orbit): Satelit melintas di atas lokasi yang sama pada waktu lokal yang sama setiap hari. Cocok untuk penginderaan jauh dengan pencahayaan konsisten.
Baca juga: Bisakah Kita Mengisi Bahan Bakar Satelit yang Mati di Luar Angkasa?
Satelit Indonesia: Memanfaatkan LEO
Hingga kini, satelit buatan Indonesia beroperasi di orbit LEO.
“Waktu singkat ini harus dimanfaatkan untuk mengunduh data dan mengunggah perintah. Solusi memperpanjang akses data tersebut adalah dengan memperbanyak ground station,” kata Satriya.
Saat ini Indonesia memiliki empat stasiun bumi: Tabing (Sumatra Barat), Parepare (Sulawesi Selatan), Biak (Papua), dan Rancabungur (Bogor) sebagai pusat kendali.
Satelit Nusantara Lima Resmi Mengangkasa, Bawa Internet 160 Gbps untuk Indonesia
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Satelit Nusantara Lima Resmi Mengangkasa, Bawa Internet 160 Gbps untuk Indonesia
| Hilal Tak Terlihat di Gorontalo, Awal Ramadan 1447 H Dipastikan 19 Februari 2026 |
|
|---|
| Tabrakan Motor di Talumopatu Bone Bolango Gorontalo, Satu Korban Meninggal Dunia |
|
|---|
| Data Hilal 17 Februari Tak Memenuhi Syarat, Muhammadiyah dan Pemerintah Beda Awal Ramadan 2026 |
|
|---|
| Forum Penambang Pohuwato Temui Gubernur Gorontalo, Ini Pembahasan Mereka |
|
|---|
| Daftar Tarif Listrik 16–22 Februari 2026, Beli Token Rp 100 Ribu Dapat Berapa kWh? |
|
|---|