Berita Internasional

Zelensky: Jika Ukraina Jatuh, Perang Akan Menyentuh Polandia dan Jerman

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan bahwa menyerahkan wilayah Ukraina kepada Rusia bukanlah jalan menuju perdamaian,

Editor: Wawan Akuba
AFP/Sergei SUPINSKY
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. 

TRIBUNGORONTALO.COM — Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan bahwa menyerahkan wilayah Ukraina kepada Rusia bukanlah jalan menuju perdamaian, melainkan undangan bagi Presiden Vladimir Putin untuk melancarkan serangan baru ke jantung Eropa.

Dalam wawancara eksklusif dengan majalah Prancis Le Point, Zelensky menolak keras gagasan kompromi teritorial.

“Beberapa media mengklaim bahwa jika tentara Ukraina mundur dari wilayah timur, perdamaian akan kembali. Itu tidak benar,” tegasnya.

Zelensky menjelaskan bahwa Putin merebut Krimea pada 2014 bukan sekadar ekspansi, melainkan strategi untuk mengepung wilayah selatan Ukraina.

"Ia juga mencaplok sebagian timur untuk mempersiapkan pendudukan penuh,” tambahnya.

Jika Ukraina mundur dari Donbas, Zelensky memperingatkan bahwa kota Kharkiv dengan 1,5 juta penduduk akan terancam, dan Rusia bisa merebut pusat industri Dnipro.

“Itu akan membuka peluang baru bagi Putin,” katanya.

Presiden Ukraina menekankan bahwa nasib negaranya akan menentukan batas timur Eropa.

“Jika Ukraina tidak bertahan, maka batas itu akan bergeser ke Polandia, bahkan Jerman.”

Zelensky juga mengangkat ancaman teknologi senjata jarak jauh.

“Percayalah, dalam dua tahun ke depan, Rusia akan memiliki banyak rudal dan kami juga dengan jangkauan 5.000 kilometer. Laut tidak akan melindungi siapa pun, samudra pun tidak.”

Pernyataan ini muncul di tengah klaim Rusia yang terus menuntut pengakuan internasional atas lima wilayah Ukraina yang telah dianeksasi: Donetsk, Lugansk, Kherson, Zaporizhzhia, dan Krimea.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa “realitas teritorial baru harus diakui dan diformalkan sesuai hukum internasional.”

Namun, Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha menyebut tuntutan Rusia sebagai “ultimatum lama” dan menegaskan bahwa Moskow belum menunjukkan niat untuk bernegosiasi secara bermakna.

Ia menyerukan Barat untuk menjatuhkan sanksi baru yang lebih keras agar “mesin perang Rusia sadar diri.”

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved