Pemkot Gorontalo
Indra Gobel Wawali Kota Gorontalo Makan Ketupat Bareng Warga di Dulomo Selatan
Tradisi Hari Ketupat di Kelurahan Dulomo Selatan, Kecamatan Kota Utara, menghadirkan suasana yang berbeda sejak pagi, Sabtu (28/3/2026).
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KETUPAT-Wakil-Wali-Kota-Gorontalo-Indra-Gobel-hadir-di-perayaan-ketupat-Kelurahan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Hari Ketupat di Dulomo Selatan menghadirkan suasana kebersamaan tanpa sekat antara warga dan pemimpin daerah.
- Wakil Wali Kota Indra Gobel mendorong tradisi ini dikembangkan menjadi festival budaya berskala besar.
- Dengan partisipasi tinggi masyarakat, perayaan ini dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata di Gorontalo.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Tradisi Hari Ketupat di Kelurahan Dulomo Selatan, Kecamatan Kota Utara, menghadirkan suasana yang berbeda sejak pagi, Sabtu (28/3/2026).
Kawasan permukiman hingga halaman masjid dipenuhi warga yang datang membawa ketupat dan aneka hidangan, lalu duduk bersama dalam suasana kebersamaan yang hangat.
Sejak pukul 07.00 Wita, aktivitas sudah terlihat di berbagai sudut kampung.
Warga saling bersalaman, berbagi makanan, dan menikmati hidangan secara bersama-sama, menciptakan nuansa kekeluargaan yang kental.
Sekitar pukul 09.00 Wita, Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel, hadir di tengah keramaian.
Baca juga: Ribuan Warga Padati Tradisi Ketupat Dulomo Selatan, 2.026 Ketupat Dibagikan
Tanpa sekat, ia berjalan santai menyapa warga satu per satu, sebelum akhirnya duduk dan ikut menikmati ketupat bersama.
Mengenakan kaus putih bertuliskan Festival Atupato Tanggidaa, kehadirannya tampak menyatu dengan masyarakat.
Tawa warga terdengar di berbagai sudut, sementara aroma santan dan hidangan khas Lebaran semakin menguatkan suasana silaturahmi.
Indra mengaku, kehadirannya tahun ini terasa lebih bermakna dibanding sebelumnya.
“Tahun lalu saya hadir, tapi belum sempat merasakan ketupatnya. Sekarang saya datang dari pagi dan saya benar-benar merasakan maknanya,” ujarnya.
Ia menilai, Hari Ketupat bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi menjadi momentum mempererat silaturahmi setelah Idulfitri, layaknya halal bihalal dalam versi budaya lokal.
“Setelah lebaran, orang biasanya sibuk ziarah dan silaturahmi keluarga. Nah, hari ketupat ini jadi waktunya berkumpul lebih luas, satu kampung, satu kelurahan, semua jadi satu,” katanya.
Menurutnya, kekuatan utama tradisi ini terletak pada kebersamaan warga yang sudah terlihat sejak tahap persiapan. Selama beberapa hari sebelum pelaksanaan, masyarakat bergotong royong menyiapkan ribuan ketupat.
Sebagian warga menganyam janur, mengisi beras, hingga memasak lauk dan menata lokasi kegiatan. Bahkan, keterlibatan kaum laki-laki dalam proses pengisian ketupat menjadi hal yang cukup mencolok.
Selain itu, arak-arakan ketupat yang melibatkan anak-anak TPA dan TPQ turut menjadi daya tarik tersendiri.
Mereka berjalan mengelilingi kampung sambil membawa ketupat dan mengumpulkan hidangan dari rumah warga yang dilewati.
Melihat potensi tersebut, Indra Gobel mendorong agar tradisi ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi berkembang menjadi agenda budaya yang lebih besar.
“Tahun lalu saya sudah canangkan, kita ubah ini jadi Hari Raya Ketupat. Bukan hanya sekadar tradisi, tapi event besar yang punya daya tarik,” ujarnya.
Ia juga menargetkan konsep Festival Atupato dapat dikemas lebih matang ke depan agar mampu menarik kunjungan dari luar daerah.
“Kalau kita rancang dengan baik, orang dari kabupaten lain bahkan luar daerah akan datang ke sini. Mereka ingin lihat, ingin merasakan langsung suasana hari ketupat di Kota Gorontalo,” katanya.
Menurutnya, kegiatan seperti ini juga berpotensi mendorong perputaran ekonomi masyarakat, mulai dari sektor kuliner hingga usaha kecil lainnya.
“Inilah bagaimana kita mendatangkan uang dari luar masuk ke kota. Kita harus terus berkreasi, inovasi tidak boleh berhenti,” tegasnya.
Sementara itu, panitia mencatat sebanyak 2.026 ketupat dibagikan secara gratis kepada masyarakat dalam perayaan tahun ini.
Ribuan hidangan lainnya juga disiapkan secara gotong royong dan dipusatkan di masjid setempat.
Baca juga: Ramalan Zodiak Aries dan Taurus Besok Minggu 29 Maret 2026: Cinta, Karier, Uang, Kesehatan
Persiapan dilakukan selama enam hari dengan melibatkan masyarakat secara penuh, menunjukkan kuatnya partisipasi dalam menjaga tradisi yang telah berlangsung sejak 1970-an.
Menjelang siang, jumlah pengunjung terus bertambah.
Warga dari berbagai wilayah datang memadati lokasi, sebagian mengabadikan momen, sementara lainnya menikmati hidangan bersama keluarga.
Di sisi lain, batang pinang yang telah dipasang menunggu perlombaan, menambah semarak suasana.
Bagi masyarakat Dulomo Selatan, Hari Ketupat bukan sekadar tradisi, melainkan identitas yang terus dijaga.
Sementara bagi pemerintah kota, perayaan ini menjadi peluang untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya di Gorontalo.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.