Kecelakaan Maut Minsel
7 Fakta Kecelakaan Maut Kakak Beradik PNS Gorontalo, Panggilan Terakhir Fanni Jadi Sorotan
Duka mendalam mengiringi kepergian dua sosok abdi negara, Fanni Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki.
Penulis: Tim Redaksi | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Fakta-kecelakaan-maut-yang-menewaskan-Fanni-dan-Yessi.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kecelakaan tunggal terjadi di Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, pada Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.30 Wita
- Korban Insiden ini merenggut nyawa dua bersaudara yang berstatus sebagai PNS di Gorontalo, yaitu Yessi Sukersi Mustaki (Guru SMA Negeri 5 Gorontalo) dan Fanny Anelsia Mustaki (Pranata Humas Kejati Gorontalo)
- Jenazah kedua korban dimakamkan berdampingan di Kota Gorontal pada Minggu (15/3/2026)
TRIBUNGORONTALO.COM – Duka mendalam mengiringi kepergian dua sosok abdi negara, Fanni Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki.
Kakak beradik ini meninggal dunia usai mengalami kecelakaan mobil di Desa Sapa, Kecematan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.30 Wita.
Berikut TribunGorontalo.com mengurai fakta-fakta di balik tragedi kecelakaan maut di Minahasa Selatan.
1. Sosok Korban: Dedikasi Guru dan Humas Intelijen
Tragedi ini merenggut dua nyawa PNS yang memiliki rekam jejak dedikasi tinggi di bidangnya masing-masing.
Yessi Sukersi Mustaki (41) merupakan guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 5 Gorontalo.
Di mata para murid dan rekan sejawat, Yessi dikenal sebagai pendidik yang sangat sabar.
Ia tidak pernah memarahi siswa yang kesulitan belajar dan selalu bersedia mengulang materi dari awal demi pemahaman muridnya.
"Beliau sangat welcome saat mengajar dan sangat humble juga," ungkap Widiastuti, mantan siswa Yessi kepada TribunGorontalo.com, Minggu (15/3/2026).
Sementara itu, adik Yessi, Fanny Anelsia Mustaki, mengabdi sebagai Pranata Humas pada bidang Intelijen di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo.
Kepergian Fanny Anelsia Mustaki dalam kecelakaan maut di Minahasa Selatan meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan kerjanya di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo.
Salah satu rekan kerjanya, Yursin Djafar mengatakan Fanny bukan sekadar teman sekantor, melainkan sosok yang dikenal sangat ramah, mudah bergaul, dan selalu membawa suasana hangat di lingkungan kerja.
Kaur Pegawai Kejati Gorontalo ini mengaku sangat kehilangan sosok yang ceria tersebut.
Ia mengenang bagaimana almarhumah masih beraktivitas seperti biasa dan bertegur sapa dengan rekan-rekannya pada Jumat sebelum kejadian.
"Hari Jumat itu dia masih sama-sama dengan saya, dengan teman-teman juga," ujar Yursin usai prosesi pemakaman.
Menurut Yursin, pada hari itu tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan sesuatu akan terjadi.
Almarhumah masih bekerja normal dan sempat menyampaikan rencananya untuk melakukan perjalanan ke Sulawesi Utara.
"Saat itu dia menyampaikan yang mana mau ke Manado," ungkapnya.
Kabar kecelakaan yang merenggut nyawa Fanni membuat rekan-rekannya di Kejati Gorontalo sangat terkejut.
Pasalnya, sehari sebelumnya mereka masih sempat berbincang dan bercanda. Yursin menyebut tidak ada hal yang terasa berbeda dari sikap almarhumah sebelum berangkat.
Ia menggambarkan sosok Fanni Anelsia Mustaki sebagai pribadi yang sangat humble.
"Orang riang dan humble, dia setiap pagi di ruangan kami," tuturnya.
Baca juga: Pesan Tak Biasa Fanny Anelsia Mustaki PNS Gorontalo Sebelum Kecelakaan Maut
2. Kronologi Kejadian di Jalur Trans Sulawesi
Peristiwa nahas ini bermula saat kedua korban melakukan perjalanan darat dari arah Gorontalo menuju Kota Manado, Sulawesi Utara.
Mereka menumpangi mobil PO Garuda dengan nomor polisi DM 1195 BA yang dikemudikan oleh sopir bernama Ismail Zees (47).
Tujuan perjalanan kedua kakak beradik ini adalah untuk mengunjungi ibu mereka di Manado dalam rangka mengisi waktu liburan.
Namun, perjalanan yang seharusnya penuh kebahagiaan tersebut justru berubah menjadi tragedi memilukan di Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan.
Mobil yang mereka tumpangi dilaporkan melaju dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya pengemudi kehilangan kendali atas kendaraannya.
Mobil berwarna hitam tersebut kemudian keluar dari badan jalan dan menabrak sebuah pohon serta bangunan rumah makan di pinggir jalan.
Kondisi kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan parah atau ringsek akibat benturan keras yang terjadi di lokasi kejadian.
Berdasarkan data dari pihak kepolisian, terdapat empat orang korban dalam insiden ini, di mana dua di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki menjadi korban jiwa dalam kecelakaan yang terjadi pada Sabtu pagi tersebut.
Sementara itu, pengemudi mobil yakni Ismail Zees dilaporkan mengalami luka berat dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Satu penumpang lainnya bernama Doni Tentero (45) dikabarkan mengalami luka ringan akibat insiden benturan tersebut.
Kasat Lantas Polres Minsel, Iptu Engelina Yusuf, mengonfirmasi bahwa kedua korban meninggal dunia adalah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Gorontalo.
"Mereka berdua yang meninggal dunia," tutur Engelina saat memberikan keterangan resmi kepada media.
3. Niat Mengunjungi Ibu di Masa Libur
Perjalanan darat yang ditempuh kedua korban bukanlah perjalanan dinas, melainkan perjalanan keluarga yang didasari rasa rindu.
Keduanya berniat menuju Kota Manado, Sulawesi Utara, untuk mengunjungi ibu mereka dalam rangka mengisi waktu libur.
Harapan untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman seketika berubah menjadi tragedi memilukan bagi pihak keluarga yang telah menanti kedatangan mereka.
Kepergian dua bersaudara sekaligus dalam satu waktu menjadi cobaan yang sangat berat bagi keluarga besar Mustaki.
4. Korban Luka dan Proses Evakuasi Medis
Dalam kecelakaan tunggal tersebut, terdapat total empat orang di dalam kendaraan.
Selain Fanny dan Yessi yang meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka serius, sang pengemudi, Ismail Zees, mengalami luka berat dan harus segera dilarikan ke RSUD Teep Minsel untuk penanganan intensif.
Sementara itu, satu penumpang lainnya bernama Doni Tentero (45) dikabarkan selamat dengan luka ringan.
Pihak Satlantas Polres Minsel segera melakukan evakuasi dan hingga kini masih terus menyelidiki faktor-faktor penyebab kecelakaan, termasuk kemungkinan faktor teknis kendaraan atau kelalaian manusia.
5. Pesan Terakhir yang Tak Biasa
Sebuah fakta menyedihkan terungkap mengenai komunikasi terakhir Fanny Anelsia Mustaki sebelum maut menjemput.
Menurut tetangga korban, Apris Doda, Fanny menunjukkan gelagat tidak biasa dengan menghubungi pamannya melalui telepon pada malam sebelum kejadian.
Biasanya, sang pamanlah yang lebih sering menelepon untuk menanyakan kabar. Dalam percakapan singkat tersebut, Fanny menitipkan pesan agar mobil pribadinya tidak dibawa ke bengkel untuk sementara waktu.
“Selama ini jarang sekali dia telepon omnya. Biasanya omnya yang hubungi dia. Tapi tadi malam dia sendiri yang hubungi,” kata Apris dengan nada sedih.
Pihak keluarga merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap Fanni yang tiba-tiba berinisiatif menghubungi sang paman tanpa diminta.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, percakapan melalui sambungan telepon tersebut terjadi tidak lama sebelum kecelakaan maut itu berlangsung di Jalan Trans Sulawesi.
Dalam percakapan terakhir itu, Fanni menyampaikan pesan singkat mengenai urusan kendaraan pribadi kepada pamannya di Gorontalo.
Fanny menghubungi pamannya agar tidak membawa mobil miliknya ke bengkel untuk sementara waktu.
Pesan tersebut menjadi komunikasi verbal terakhir yang diterima pihak keluarga sebelum berita duka sampai ke telinga mereka.
Keluarga besar baru mengetahui kabar mengenai kecelakaan yang menimpa Fanni dan Yessi pada pagi hari Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.00 Wita.
Padahal, berdasarkan estimasi waktu kejadian, kecelakaan hebat tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.00 Wita dini hari.
Terdapat jeda waktu yang cukup lama antara waktu kejadian dengan waktu pihak keluarga menerima informasi resmi mengenai kondisi para korban.
“Informasi baru keluarga dapat sekitar jam enam pagi. Itu pun masih belum jelas,” ujar Apris menceritakan situasi kepanikan keluarga saat itu.
6. Penghormatan Terakhir dari Pimpinan Daerah
Sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian keduanya sebagai PNS, Pemerintah Provinsi Gorontalo memberikan penghormatan terakhir secara resmi.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, hadir langsung di rumah duka di Jalan Pangeran Hidayat untuk memimpin prosesi pelepasan jenazah.
Tidak hanya Gubernur, Wakil Gubernur Idah Syahidah pun turut hadir mengantarkan kedua jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Kehadiran para pimpinan daerah ini menjadi simbol rasa kehilangan pemerintah daerah atas berpulangnya dua sosok yang selama ini telah berkontribusi bagi kemajuan Gorontalo.
7. Suasana Haru Pemakaman di Rumah Duka
Prosesi pemakaman yang berlangsung pada Minggu (15/3/2026) diwarnai isak tangis yang pecah dari ratusan pelayat.
Karena banyaknya jamaah yang hadir, salat jenazah terpaksa dilaksanakan di badan jalan depan rumah duka dengan adik laki-laki korban bertindak sebagai imam.
Suasana semakin menyayat hati ketika sang adik tak mampu menahan tangis saat melantunkan takbir.
Setelah seluruh rangkaian prosesi agama dan kedinasan selesai, kedua almarhumah dimakamkan berdampingan di area pemakaman keluarga yang terletak tepat di samping rumah duka mereka di Kelurahan Wongkaditi Barat. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.