Human Interest Story
Polisi Muda di Gorontalo Ini Jualan Siomay Pakai Bentor, Omzet Bisa Jutaan per Malam
Seorang anggota polisi terlihat sibuk melayani pembeli siomay di kawasan Bundaran Saronde, Kota Gorontalo, Jumat malam (13/3/2026).
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Daffa-Mahessa-Hamid-25-seorang-polisi-muda-yang-bertugas-di-Binmas-Polda-Gorontalo.jpg)
Setelah selesai menjalankan tugas dinas pada sore hari, Daffa langsung menyiapkan perlengkapan jualan.
Biasanya ia mulai berjualan pada sore hingga malam hari.
Pada bulan Ramadan, ia sering berjualan di kawasan Bundaran Saronde bersama pedagang lainnya.
Sementara pada hari-hari biasa, ia berkeliling menjajakan siomay ke sejumlah lokasi, termasuk area pesantren dan permukiman warga.
Dari Gerobak Dorong Hingga Bentor
Awalnya Daffa berjualan menggunakan gerobak dorong.
Setiap sore ia mendorong gerobak tersebut berkeliling untuk mencari pembeli.
Namun cara itu cukup melelahkan, terlebih saat cuaca tidak bersahabat.
Ia mengaku sering kehujanan ketika sedang berjualan.
Pengalaman itu membuatnya kemudian berinisiatif menggunakan bentor agar lebih praktis.
Dengan bentor, ia juga dapat membawa perlengkapan tambahan, termasuk air minum bagi pelanggan.
“Biasanya orang habis makan suka tanya air, jadi saya sekalian bawa,” katanya.
Omzet Jutaan Rupiah
Usaha siomay yang dijalani Daffa ternyata mampu menghasilkan pendapatan yang cukup baik.
Dalam satu malam, ia mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta.
Pada hari-hari tertentu, terutama saat ramai pembeli atau hari libur, pendapatannya bisa mencapai Rp3 juta sampai Rp4 juta.
Meski demikian, ia menyadari bahwa usaha kuliner tidak selalu stabil.