Berita Gorontalo
Arus Kendaraan Padat, Polisi Rekayasa Lalu Lintas di Bundaran Saronde Gorontalo
Kepadatan arus lalu lintas mulai terjadi di kawasan Bundaran Saronde, Kota Gorontalo, Jumat (13/3/2026) malam.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PENGATURAN-LALIN-Kanit-Turjawali-Satlantas-Polresta-Gorontalo-Kota-Agus-Priono.jpg)
“Saat ini personel yang kami turunkan sebanyak 25 orang. Mereka ditempatkan di beberapa titik yang dianggap rawan kemacetan di Kota Gorontalo,” katanya.
Adapun titik yang menjadi fokus pengamanan dan pengaturan lalu lintas yakni Simpang Empat zigzag atau simpang toko handphone, Simpang Empat Makro, Simpang Empat Gelael, serta Simpang Simpang Empat MCD.
Selain itu, kepadatan juga mulai terlihat di sejumlah ruas jalan lain di pusat kota.
Menurut Agus, volume kendaraan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan seiring mendekatnya perayaan malam pasang lampu atau Tumbilotohe yang menjadi tradisi masyarakat Gorontalo menjelang Idul Fitri.
“Volume kendaraan saat ini sudah mulai meningkat karena mendekati malam pasang lampu. Oleh karena itu kami sudah melakukan rekayasa lalu lintas sejak kemarin untuk mengantisipasi kepadatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak kepolisian juga telah memasang sejumlah barier atau pembatas jalan sebagai bagian dari skema rekayasa lalu lintas yang diterapkan.
Salah satu ruas jalan yang diberlakukan sistem satu arah yakni Jalan HOS Cokroaminoto.
“Jalan HOS Cokroaminoto kami buat satu arah, mulai dari kawasan Citimall sampai dengan Simpang Tiga Universitas Negeri Gorontalo,” ujarnya.
Langkah tersebut dilakukan karena ruas jalan tersebut menjadi salah satu titik kemacetan yang cukup parah di Kota Gorontalo, terutama saat malam hari ketika aktivitas masyarakat meningkat.
Berdasarkan pemantauan pihak kepolisian, kepadatan kendaraan juga kerap terjadi di kawasan Ipilo.
“Untuk titik kemacetan yang cukup padat biasanya terjadi di kawasan Ipilo saat malam pasang lampu. Selain itu di sepanjang Jalan HB Jassin dan Jalan Cokroaminoto,” kata Agus.
Meski demikian, rekayasa lalu lintas yang diterapkan bersifat situasional.
Artinya, apabila volume kendaraan meningkat maka sistem satu arah akan diberlakukan.
Namun jika arus kendaraan kembali normal, maka jalur tersebut akan dibuka kembali seperti biasa.
“Pemberlakuannya sudah mulai sekarang. Ketika arus kendaraan meningkat kami buat satu arah. Tapi kalau arusnya tidak padat, maka jalur tersebut akan dibuka kembali,” jelasnya.