MBG di Gorontalo
Makanan Tak Layak Konsumsi, Satu SPPG di Kota Gorontalo Ditutup Sementara
Pemerintah Provinsi Gorontalo mengambil langkah tegas dalam mengawal program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Wakil-Gubernur-Gorontalo-Idah-Syahidah-saat-diwawancarai-wartawan-Kamis-532026.jpg)
Namun, ada yang berbeda dari biasanya. Jika pada hari-hari normal siswa menerima makanan berat, selama Ramadan menu yang dibagikan disesuaikan menjadi makanan ringan (snack) kering.
PIC MBG SMP Negeri 1 Kota Gorontalo, Lusiana Agus, memastikan pembagian tetap rutin setiap hari.
“Setiap hari pasti ada selama Ramadan ini,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan, para siswa sudah mulai masuk sekolah sejak Senin, 23 Februari 2026. Proses penerimaan MBG dilakukan sebelum pukul 10.00 Wita.
“Misalnya hari ini, MBG sudah siap sejak pukul 09.00 Wita,” jelasnya.
Sebelum Ramadan, menu MBG berupa makanan berat seperti nasi, sayur, ikan, susu, dan buah. Namun khusus Ramadan, menu diubah menjadi snack kering.
“Snack kering itu seperti kue, susu, buah, telur, roti, tempe goreng, abon, pokoknya berganti-ganti,” kata Lusiana.
Makanan tersebut dikemas dalam kotak dan dimasukkan ke totebag. Nantinya, totebag dikembalikan ke SPPG sebagai bagian dari upaya pengurangan sampah.
Jumlah penerima MBG di SMP Negeri 1 Kota Gorontalo mencapai 1.109 orang, termasuk guru dan petugas sekolah.
“Itu sudah termasuk guru, satpam, dan tata usaha,” ungkapnya.
Baca juga: Wagub Gorontalo Idah Syahidah Salurkan BLP3G di 4 Kecamatan, Prioritaskan Lansia dan Disabilitas
Respons Positif dari Siswa
Perubahan menu selama Ramadan mendapat respons positif dari para siswa. Salah satunya datang dari Affan Setiawan Thalib, siswa kelas IX.
Ia mengakui bahwa selama Ramadan, menu yang paling dominan adalah makanan ringan.
“Menurut saya sudah tepat karena menghargai yang berpuasa juga,” ujarnya.
Affan menilai, jika tetap diberikan makanan berat, kemungkinan hanya siswa yang tidak berpuasa yang akan langsung mengonsumsinya di sekolah.
“Kalau dibawa pulang, nanti ribet. Makanan berat juga berisiko basi kalau menunggu waktu berbuka,” katanya.