Wisata Kuliner Gorontalo
Suasana Taman Kalimadu, Destinasi Ngabuburit Warga Gorontalo
Kawasan Kalimadu di Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, menjadi lokasi perburuan takjil Ramadan.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sejumlah-warga-mengunjungi-Taman-Kalimadu.jpg)
Hingga menjelang azan Magrib, kawasan Kalimadu masih dipenuhi pengunjung, dengan suara tawar-menawar, kendaraan yang melintas perlahan, serta aroma makanan berpadu menciptakan suasana khas Ramadan.
Kalimadu sendiri merupakan singkatan dari Kalimantan–Madura, berada di ruas Jalan Madura yang menghubungkan Jalan Kalimantan dan Jalan Prof Jhon Ario Katili (eks Andalas).
Jalan ini juga terhubung dengan beberapa pertigaan seperti Jalan Palu dan Jalan Manado, sehingga menjadi akses vital bagi masyarakat Gorontalo.
Penjual Gulali di Taman Kalimadu
Ibrahim Pakaya duduk dengan tenang di balik gerobak hijaunya saat matahari mulai condong ke barat di kawasan Kalimadu, Kota Tengah, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Lokasi mangkal utamanya berada di kawasan Kalimantan–Madura (Kalimadu). Dari arah Perempatan Kompi Liluwo, lapaknya berada di sebelah kanan jalan, tepat di keramaian warga yang melintas.
Pria berusia 71 tahun yang akrab disapa Opa Bura ini sedang menarik adonan gula merah muda yang perlahan mengeras di tangannya.
Di tengah kepungan jajanan modern, Opa Bura tetap setia menjajakan gulali tradisional demi menjaga kemandirian di usia senja.
Gulali adalah sebutan untuk jajanan tradisional khas Indonesia yang bahan utamanya terbuat dari gula (biasanya gula pasir atau gula merah) yang dilelehkan hingga mengental dan elastis.
Jajanan ini sangat populer di kalangan anak-anak, terutama karena bentuknya yang unik dan warnanya yang mencolok.
Sejak tahun 2012, Opa Bura menekuni profesi sebagai penjual gulali. Meskipun kedua anaknya telah berkeluarga dan mapan, warga Kelurahan Molosifat U ini menolak untuk sekadar berdiam diri di rumah.
Ia memegang prinsip bahwa selama fisik masih mampu bergerak, ia tidak ingin merepotkan orang lain.
"Saya memilih tetap berjualan jika masih bisa duduk dan bekerja seperti ini. Saya tidak mau hanya diam di rumah dan berharap (bantuan) dari anak-anak," ujar Ibrahim saat ditemui TribunGorontalo.com pada Sabtu (28/2/2026).
Sebelum menjadi perajin gulali, Ibrahim adalah seorang pedagang beras di Pasar Sentral Gorontalo. Ia menjadi saksi hidup saat pasar tersebut masih sangat tradisional dengan harga beras hanya Rp1 per liter.
Namun, kenaikan harga komoditas yang tinggi dan faktor usia membuatnya harus beralih profesi.
Ia memilih gulali karena pekerjaan ini tidak terlalu menguras tenaga. Ibrahim mempelajari teknik pembuatan gulali secara otodidak melalui berbagai percobaan yang sempat gagal.