SAKSI KATA GORONTALO
Cerita Saksi dan Korban Kebakaran di Siendeng Gorontalo : Dia Teriak Minta Tolong
Cerita pilu korban kebakaran rumah di Kelurahan Siendeng, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Aldi Ponge
Berikut kutipan wawancara yang sudah tayang di YouTube dan Facebook TribunGorontalo.com :
TG : Ibu, bisa diceritakan bagaimana situasi saat kebakaran terjadi?
YM : Kami semua kaget sekali. Api cepat sekali membesar. Asap sudah tebal. Kami langsung lari keluar menyelamatkan diri.
TG : Apa kondisi ibu saat itu?
YM : Kami sedang tidur. Saya di kamar ketiga. Tiba-tiba ada bunyi dan bau asap yang semakin besar. Kami baru tersadar. Ada yang lari lewat dapur, ada yang lewat pintu depan.
Kami panik. Bahkan saya sampai digotong oleh keponakan saya. Setengah rambut saya sempat terbakar. Saya juga susah berjalan waktu itu.
TG : Apakah sempat terpikir ada yang tertinggal di dalam rumah?
YM : Waktu itu kami hanya berpikir menyelamatkan diri.
Setelah di luar baru kami sadar, ternyata masih ada satu orang yang tidak ikut keluar.
Kami masih dengar suara almarhum berteriak, “Tolong, tolong". Tapi mau menolong bagaimana, api sudah besar sekali.
Kondisi Korban Saat Ditemukan
TG : Bagaimana kondisi korban setelah ditemukan?
YM : Saat ditemukan, dia sudah terbakar. Wajahnya dan tangannya sudah rusak. Dia langsung dibawa ke Rumah Sakit Aloe Saboe.
Malam itu juga kami harus cepat memakamkan karena tidak bisa ditunda. Kondisinya sudah tidak memungkinkan. Tubuhnya sudah hancur.
TG : Bagaimana sosok almarhumah di mata keluarga?
YM : Dia orangnya baik sekali. Tidak pernah bermasalah dengan siapa pun. Kalau ada acara keluarga atau tetangga, dia selalu ikut membantu.
Kami semua sangat kehilangan. Dia juga tidak suka banyak bicara. Dia lebih suka bekerja, membantu membuat kue untuk orang lain.
TG : Berapa jumlah jiwa yang biasanya tinggal di rumah itu?
YM : Saat kejadian hanya enam orang yang berada di dalam rumah.
TG : Bagaimana kondisi keluarga korban sekarang?
YM : Kami masih sangat terpukul. Semua barang habis. Sekarang untuk kebutuhan sehari-hari kami pinjam dari keluarga. Kami hanya sisa baju yang dipakai waktu kejadian.
TG : Apa yang ibu harapkan kepada pemerintah?
YM : Kami hanya berharap ada sedikit bantuan. Bantuan rumah, makanan, dan pakaian sehari-hari. Semoga pemerintah bisa membantu kami. (*/Jefri)