SAKSI KATA GORONTALO
Cerita Saksi dan Korban Kebakaran di Siendeng Gorontalo : Dia Teriak Minta Tolong
Cerita pilu korban kebakaran rumah di Kelurahan Siendeng, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Aldi Ponge
Ringkasan Berita:
- Cerita pilu korban kebakaran rumah di Kelurahan Siendeng, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo
- Peristiwa ini juga merenggut nyawa Yeti Mahmud (48) yang terjebak saat tidur dalam kamar depan.
- Hasil wawancara ini sudah tayang dalam program Saksi Kata di Youtube dan Facebook Tribun Gorontalo
TRIBUNGORONTALO.COM - Cerita pilu korban kebakaran rumah di Kelurahan Siendeng, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo pada Jumat (14/2/2026).
Saat kejadian, api cepat membesar menghanguskan satu unit rumah. Tak hanya itu, peristiwa ini merenggut nyawa seorang perempuan Yeti Mahmud (48) yang terjebak saat tidur dalam kamar depan.
Peristiwa tragis ini terjadi begitu cepat. Kepanikan, teriakan minta tolong, asap tebal, hingga api yang menjalar tanpa ampun membuat warga sekitar tak berdaya menyelamatkan korban.
Hingga kini, keluarga masih hidup dalam trauma dan kesedihan mendalam.
Wartawan TribunGorontalo.com, Jefri Potabuga mewawancarai khusus keluarga korban kebakaran, Warida Lanti pada Sabtu 14 Februari 2026.
Hasil wawancara ini sudah tayang dalam program Saksi Kata di Youtube dan Facebook Tribun Gorontalo pada Senin 16 Februari 2026.
Berikut kutipan wawancara Tribun Gorontalo (TG) dan Warida Lanti (WL) yang juga tante korban meninggal, Yeti Mahmud:
Detik-detik Awal Api Muncul
TG: Ibu bisa diceritakan secara rinci posisi ibu dan situasi saat awal kebakaran terjadi?
WL : Waktu itu saya sedang berada di rumah saya. Rumah saya posisinya tepat di samping rumah yang terbakar. Saya lagi duduk santai, minum kopi sore.
Rumah saya khan dua susun. Suasana masih biasa saja, tidak ada tanda-tanda apa pun. Tiba-tiba saya dengar ada suara orang teriak minta tolong.
Awalnya, saya kira cuma orang berkelahi karena suara berteriak. Tapi tidak lama kemudian, saya lihat api sudah muncul dan langsung besar.
Dari situ saya sadar ini bukan kebakaran. Saya juga ikut teriak minta tolong.
TG: Api pertama kali terlihat dari bagian mana rumah?
WL : Api itu muncul dari bagian depan rumah, tepatnya dari kamar depan, yang menghadap ke jalan.
Api sudah besar sekali. Dari situ langsung menjalar dengan cepat ke bagian lain rumah. Tidak ada waktu lama, semuanya terjadi cepat.
TG: Pada saat api pertama kali terlihat, apa yang ibu lakukan?
WL : Saya langsung panik. Saya teriak minta tolong ke orang-orang sekitar. Tapi api itu cepat sekali membesar. Tidak ada waktu lama untuk berpikir. Semua orang langsung fokus menyelamatkan diri masing-masing.
Kondisi Penghuni Rumah Saat Kebakaran
TG : Berapa orang yang berada di dalam rumah saat kebakaran terjadi?
WL : Waktu kejadian itu ada enam orang di dalam rumah. Semuanya keluarga. Mereka berada di beberapa kamar dan ruang yang berbeda.
TG : Apakah semua orang sempat menyelamatkan diri?
WL : Tidak. Lima orang berhasil lari keluar rumah. Tapi satu orang tidak sempat keluar.
Dialah yang akhirnya meninggal dunia di dalam rumah.
TG : Korban yang meninggal berada di bagian mana rumah?
WL : Korban berada di kamar depan. Kamar itu paling dekat dengan sumber api. Saat itu dia sedang tidur.
Korban Terjebak Saat Tidur
TG : Apakah korban memang sedang tidur pulas saat kebakaran terjadi?
WL : Iya. Dia habis salat Jumat, pulang ke rumah, lalu tidur karena kelihatannya sangat lelah. Dia juga bekerja dari semalam, bantu orang membuat kue Lebaran. Pulangnya sekitar jam 23.00 Wita.
Paginya dia masih lanjut bekerja bikin kue lagi. Setelah itu dia tidur untuk istirahat. Jadi waktu api mulai membesar, dia masih tertidur di kamar.
TG : Apakah korban sempat terbangun dan meminta pertolongan?
WL : Sempat. Dia teriak minta tolong. Tapi kondisi sudah tidak memungkinkan. Asap sudah tebal, api sudah besar, pintu kamar juga sudah panas. Orang-orang di luar panik dan tidak bisa masuk lagi.
TG : Apakah ada upaya untuk menolong korban?
WL : Sudah ada yang mau masuk. Tapi tidak bisa. Api terlalu besar. Kalau masuk, bisa ikut terbakar. Semua orang sudah menangis dan panik karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Api Cepat Menjalar, Rumah Tua Berbahan Kayu
TG : Bagaimana kondisi rumah saat api membesar?
WL : Rumah itu rumah tua. Banyak bagian dari kayu, dan kayunya sudah lapuk. Jadi api cepat sekali menjalar. Dalam waktu singkat, hampir seluruh bagian rumah terbakar.
TG : Apakah ada barang yang sempat diselamatkan?
WL :Tidak ada. Kulkas, televisi, berkas-berkas penting, semua terbakar. Tidak ada yang sempat diselamatkan. Semuanya hangus.
Harta Benda Ludes Terbakar
TG : Barang-barang apa saja yang habis terbakar?
WL : Hampir semuanya habis. Pakaian, perabot rumah, dokumen penting, berkas-berkas, laptop, semuanya habis. Tidak ada yang tersisa sama sekali.
TG : Apakah di rumah tersebut juga ada barang-barang sekolah?
WL :Iya, banyak. Ada buku, berkas sekolah, dan dokumen penting lainnya. Semua ikut terbakar.
Kondisi Keluarga Setelah Kebakaran
TG : Setelah kejadian kebakaran, di mana keluarga korban tinggal?
WL : Sekarang mereka tinggal sementara di rumah keluarga sama adiknya.
TG : Bagaimana kondisi keluarga korban sekarang?
WL : Mereka sangat terpukul. Pakaian sekarang juga pinjam-pinjam dari keluarga. Semua habis terbakar. Jadi benar-benar mulai dari nol lagi.
TG : Apakah sudah ada bantuan dari pemerintah?
WL :Bantuan belum ada. Tapi rumah sudah didata oleh petugas pada malam setelah kejadian.
Sosok Yeti Mahmud, Korban Meninggal Kebakaran Rumah
Saat yang sama, Tribun Gorontalo juga mewawancara Yeni Mahmud (YM), Korban kebakaran rumah tersebut.
Berikut kutipan wawancara yang sudah tayang di YouTube dan Facebook TribunGorontalo.com :
TG : Ibu, bisa diceritakan bagaimana situasi saat kebakaran terjadi?
YM : Kami semua kaget sekali. Api cepat sekali membesar. Asap sudah tebal. Kami langsung lari keluar menyelamatkan diri.
TG : Apa kondisi ibu saat itu?
YM : Kami sedang tidur. Saya di kamar ketiga. Tiba-tiba ada bunyi dan bau asap yang semakin besar. Kami baru tersadar. Ada yang lari lewat dapur, ada yang lewat pintu depan.
Kami panik. Bahkan saya sampai digotong oleh keponakan saya. Setengah rambut saya sempat terbakar. Saya juga susah berjalan waktu itu.
TG : Apakah sempat terpikir ada yang tertinggal di dalam rumah?
YM : Waktu itu kami hanya berpikir menyelamatkan diri.
Setelah di luar baru kami sadar, ternyata masih ada satu orang yang tidak ikut keluar.
Kami masih dengar suara almarhum berteriak, “Tolong, tolong". Tapi mau menolong bagaimana, api sudah besar sekali.
Kondisi Korban Saat Ditemukan
TG : Bagaimana kondisi korban setelah ditemukan?
YM : Saat ditemukan, dia sudah terbakar. Wajahnya dan tangannya sudah rusak. Dia langsung dibawa ke Rumah Sakit Aloe Saboe.
Malam itu juga kami harus cepat memakamkan karena tidak bisa ditunda. Kondisinya sudah tidak memungkinkan. Tubuhnya sudah hancur.
TG : Bagaimana sosok almarhumah di mata keluarga?
YM : Dia orangnya baik sekali. Tidak pernah bermasalah dengan siapa pun. Kalau ada acara keluarga atau tetangga, dia selalu ikut membantu.
Kami semua sangat kehilangan. Dia juga tidak suka banyak bicara. Dia lebih suka bekerja, membantu membuat kue untuk orang lain.
TG : Berapa jumlah jiwa yang biasanya tinggal di rumah itu?
YM : Saat kejadian hanya enam orang yang berada di dalam rumah.
TG : Bagaimana kondisi keluarga korban sekarang?
YM : Kami masih sangat terpukul. Semua barang habis. Sekarang untuk kebutuhan sehari-hari kami pinjam dari keluarga. Kami hanya sisa baju yang dipakai waktu kejadian.
TG : Apa yang ibu harapkan kepada pemerintah?
YM : Kami hanya berharap ada sedikit bantuan. Bantuan rumah, makanan, dan pakaian sehari-hari. Semoga pemerintah bisa membantu kami. (*/Jefri)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.